Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 09 July 2017

Nasehat dan Jejak Perjuangan Ayah Menteri Lukman, KH. Saifuddin Zuhri


moeloek

islamindonesia.id – Nasehat dan Jejak Perjuangan Ayah Menteri Lukman, KH. Saifuddin Zuhri

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin mengaku tidak pernah dipaksa untuk menjalani atau mengejar profesi tertentu, termasuk menjadi menteri, oleh ayahnya. Hal ini, menurut Lukman, juga berlaku kepada saudara-saudarinya yang lain. “Bapak Saya, tidak pernah memaksa kepada para putra putrinya untuk menjadi apa,” katanya usai menghadiri Muktamar I Perkumpulan Lembaga Dakwah dan Pendidikan Islam Indonesia di Pasuruan, seperti dilansir portal resmi Kementerian Agama, 8 Juli.

“Bapak hanya menasehati dua hal. Pertama, menjadi orang yang bermanfaat di lingkungannya. Menjadi apa pun, harus memberi manfaat bagi diri, keluarganya, dan komunitas,” terang bungsu 10 bersaudara terebut.

“Kedua,  apa pun yang dicita-citakan, harus diikhtiari semaksimal mungkin,” sambungnya.

Selain itu, jebolan Pondok Modern Gontor Ponorogo ini bilang, almarhum ayahnya juga melarang anak-anaknya akan dua hal, yaitu: jangan pernah meminta uang pada siapa pun, dan jangan meminta jabatan.

Seperti diketahui, ayah Lukman Hakim Saifuddin ini juga dikenal sebagai Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Kerja III hingga periode Kabinet Ampera I. Kiai kelahiran Kawedanan Sokaraja – sembilan kilometer dari Banyumas – pada usia 35 telah menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Saat itu ia merangkap Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat dan anggota Parlemen Sementara.

Pada usia 39 tahun, Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Ketika menginjak usia 43 tahun, Sang Kiai diangkat oleh Presiden menjadi Menteri Agama.

saifudin

Seperti putranya, Lukman, Saefuddin Zuhri  dibesarkan dalam pendidikan pesantren di daerah kelahirannya. Masa mudanya ditempuh dalam keprihatinan untuk mendidik diri sendiri. Ia memasuki pergerakan pemuda dalam tempaan zaman pergolakan bersenjata dan pergerakan politik.

Pada usia 19 tahun ia dipilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Daerah Jawa Tengah Selatan, dan Konsul Nahdlatul ‘Ulama Daerah Kedu merangkap Guru Madrasah. Berbarengan dengan itu ia aktif dalam dunia kewartawanan, menjadi koresponden kantor berita Antara (kini Lembaga Kantor Berita Nasional Antara) dan beberapa harian dan majalah.

Kiai Saifuddin juga pernah diberikan amanat sebagai Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah dan Anggota Dewan Pertahanan Daerah Kedu. Bersama pasukan TKR di bawah pimpinan Kol. Soedirman, Ia memimpin laskar Hizbullah.

Kiai Saifuddin juga tercatat ikut pertempuran Ambarawa  dan berhasil mengusir penjajah. Karena keterlibatan aktif, sungguh-sungguh, dan penuh kepahlawanan dari Sang Kiai dalam Perang Ambarawa dan perang gerilya lainnya, maka Presiden yang juga Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menganugerahkan “Tanda Kehormatan Bintang Gerilya” pada tahun 1965.

Selain dari Pemerintah Indonesia, Kiai Saifuddin sering mendapatkan penghargaan berupa tanah dari masyarakat. Dalam surat hibah tanah itu ditulis ucapan terima kasih kepada Komandan Hizbullah itu  karena telah membantu menyelamatkan keluarganya pada zaman revolusi kemerdekaan Republik Indonesia.

CV8fDLCUwAET5WG (1)

Namun, tanah itu tidak dijadikan sebagai tanah pribadi. Kiai Saifuddin memberikan tanah itu kepada kiai lokal untuk dijadikan sebagai pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Baginya, pesantren merupakan lembaga di mana para pelajar dididik secara holistik, baik secara intelektual maupun secara mental.

Lebih dari itu, pesantren merupakan basis dan pondasi untuk memupuk nasionalisme, terutama di kalangan umat Islam. Pesantren yang biasanya didatangi pelajar dari penjuru tanah air merupakan “kawah candradimuka” yang paling ampuh untuk mengenalkan persaudaraan antar sesama bangsa yang dalam tradisi Nahdlatul Ulama sering disebut dengan ukhuwah wathaniyah.

Pada usia 66 tahun atau tepatnya 25 Maret 1986, kiai yang juga pejuang kemerdekaan itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.  Selain meninggalkan nasehat bagi putra dan putrinya – salah satunya Lukman Hakim Saefuddin – Sang Kiai mewariskan berbagai karya dan catatan sejarah yang tak ternilai harganya hingga menginspirasi generasi bangsa hingga kini. []

 

 

 

YS/ Islam Indonesia/ Featured Image: alchetron.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *