Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 28 December 2017

Namaku Ali Wallace (1)


Satu-satunya photo Ali ketika dipotret di Singapura tahun 1862 mengenakan pakaian Eropa. Photo: Courtesy of the Natural History Museum, London.

islamindonesia.id – Namaku Ali Wallace

 

Siapa yang tidak kenal dengan Alfred Russel Wallace, dia adalah seorang naturalis asal Inggris yang melakukan ekspedisi ilmiah di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-19. Dalam kurun waktu 1854-1862, Wallace dan tim asistennya mendapatkan 125.660 spesimen sejarah alam yang terdiri dari serangga, burung, reptil, mamalia, dan kerang.

Alfred Russel Wallace (1823-1913), ilmuwan naturalis Inggris penemu garis Wallace. Photo: Hulton-Deutsch Collection/Corbis

Alfred Russel Wallace (1823-1913), ilmuwan naturalis Inggris penemu garis Wallace. Photo: Hulton-Deutsch Collection/Corbis

Koleksi tersebut diambil dari Singapura, Sarawak di Borneo, Bali, Lombok, Makassar di Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Jawa, dan Sumatra. Temuan itu yang mengukuhkan Wallace sebagai ilmuwan dunia yang menciptakan teori seleksi alam dan garis imajiner, Garis Wallace. Garis Wallace adalah garis yang memetakan jenis fauna berdasarkan ciri-cirinya di kepulauan nusantara: di bagian barat sebagian besar fauna berasal dari Asia, sedangkan di bagian timur berasal dari campuran Asia dan Australia.

Sebagai sebuah kerja ekspedisi besar, bukti-bukti menunjukkan dengan baik bahwa lebih dari 100 laki-laki bekerja untuk Wallace sepanjang pengembaraannya di kawasan tropis di era itu. Dan lebih dari 30 laki-laki dibayar sebagai asisten kolektor. Pada tahun 1858, Wallace menyatakan bahwa semua laki-laki yang yang membantunya dalam ekspedisi adalah Muslim.

John van Wyhe, ahli sejarah sains, dan Gerrell M. Drawhorn, ahli antropologi biologis, di tahun 2015 menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “I am Ali Wallace”: The Malay Assistant of Alfred Russel Wallace”. Artikel tersebut menceritakan kisah Ali, seorang remaja yang menjadi asisten kepercayaan Wallace dan berkontribusi besar terhadap karya ilmiah Wallace.

Garis khayal Wallace yang menjadi pembeda jenis fauna. Photo: http://darwinlive.com

Garis khayal Wallace yang menjadi pembeda jenis fauna. Photo: http://darwinlive.com

Ali Wallace

Hasil ekspedisi ilmiah Wallace di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dari bantuan penduduk lokal. Ali, laki-laki Melayu berusia sekitar 15 tahun dari Sarawak Borneo, kini masuk wilayah Malaysia, digambarkan Wallace sebagai remaja Melayu yang penuh perhatian, bersih, dan dapat memasak sangat lezat.

Ali, yang belakangan populer dengan sebutan Ali Wallace, awalnya direkrut sebagai juru masak, lalu juru perahu, dan dalam perjalanan berbulan-bulan kemudian naik kelas menjadi kepala asisten Wallace. Wallace menyebut Ali sebagai asisten cerdas, menyenangkan, dapat dipercaya, dan laki-laki muda yang kompeten. Belakangan kisahnya dibuat film berjudul Searching for Ali Wallace.

Satu-satunya photo Ali ketika dipotret di Singapura tahun 1862 mengenakan pakaian Eropa. Photo: Courtesy of the Natural History Museum, London.

Satu-satunya photo Ali ketika dipotret di Singapura tahun 1862 mengenakan pakaian Eropa. Photo: Courtesy of the Natural History Museum, London.

Dia menemani Wallace melewati hampir semua perjalanan, terkadang sendirian, tapi lebih sering dengan beberapa asisten yang lain. Menurut Wallace dalam otobiografinya, Ali kemudian sangat berguna dalam mengajari tugas-tugas asisten yang lain. Dia segera mengetahui dengan baik keinginan dan kebiasaan Wallace.

Wallace biasanya berkonsentrasi mengumpulkan serangga, Ali mengumpulkan burung. Dia telah membuat penemuan baru signifikan bagi Wallace. Hasil Wallace selama ekspedisi dan karya tulis ilmiahnya yang dihasilkannya mungkin akan sangat miskin bila tanpa bantuan Ali.

Piatylophus galericulatus coronatus, burung yang kemungkinan besar diawetkan oleh Ali di Sumatra pada November 1861. Sekarang berada di Netherlands Centre for Biodiversity Naturalis, Leiden. Photo: John Van Wyhe dan Gerrell M. Drawhorn

Piatylophus galericulatus coronatus, burung yang kemungkinan besar diawetkan oleh Ali di Sumatra pada November 1861. Sekarang berada di Netherlands Centre for Biodiversity Naturalis, Leiden. Photo: John Van Wyhe dan Gerrell M. Drawhorn

Dalam otobiografinya beberapa tahun kemudian, Wallace mendeskripsikan tentang Ali:

“Ketika saya tiba di Sarawak pada 1855, saya mengajak seorang remaja Melayu bernama Ali sebagai pelayan pribadi. Dia juga membantuku mempelajari bahasa Melayu dengan berkomunikasi terus menerus. Dia segera belajar menembak burung, menguliti burung dengan baik, dan kemudian menyiapkan kulit-kulit itu sangat rapi. Tentu saja dia pengayuh perahu yang baik, seperti halnya kebanyakan orang Melayu, dan dalam semua kesulitan atau bahaya dalam perjalanan kami, dia sama sekali tidak mengganggu dan siap untuk melakukan apa pun saat dibutuhkan tenaganya.”

Bandingkan dengan kesan Wallace terhadap asisten berusia belasan tahun yang dibawanya dari London, Charles Martin Allen. Wallace meninggalkan Inggris untuk pergi Kepulauan Melayu pada Maret 1854 dan keduanya sampai di Singapura pada 18 April 1854.

Pada tahap awal, Allen membantu Wallace mengumpulkan burung dan seranggga di Singapura, Pulau Ubin, dan kemudian di Malaka dan Sarawak. Wallace dan Allen kembali dengan rute terpisah menuju Kuching, ibu kota Sarawak, pada awal Desember 1855. Seperti dijelaskan dalam surat Wallace, dia gusar atau jengkel terhadap kecerobohan, ketidakrapian, dan gagal berkembangnya Allen.

 

Mencari Ali

John van Wyhe dan Gerrell M. Drawhorn membuat sebuah penelitian yang mengkombinasikan bukti-bukti yang ada tentang Ali (buku, catatan, jurnal, surat, dan sumber lainnya) untuk mencari tahu lebih jauh tentang sosok Ali. Mereka melakukan kunjungan ke Ternate pada 2013 mencari makam-makam tua Muslim, yang dikubur pada awal abad ke-20, dan tidak menemukan apa pun karena kuburan tersebut sudah lenyap.

Walaupun demikian, riset Wyhe dan Drawhorn tetap berhasil menambah informasi tentang Ali, yaitu tentang gaji Ali dan rencana perjalanan yang direkonstruksi untuk pertama kalinya. Wallace secara terang-terangan menyatakan dia lebih percaya kepada Ali dibanding asistennya yang lain. Tapi Ali tetap sebuah bayangan dan karakternya kurang dikenal dalam cerita Wallace.

Beberapa koreksi terhadap cerita tradisional ditekankan, termasuk fakta bahwa Ali tidak sejak awal menjadi asisten pengumpulan spesimen. Ali tidak berkelana dengan Wallace untuk semua pelayarannya, tapi meninggalkannya untuk setahun dan di beberapa tempat Ali tidak ikut. Dan Ali mungkin mengumpulkan mayoritas spesimen burung yang didapat Wallace.

Bersambung….

Sumber Referensi:

John Van Wyhe and Gerrell M. Drawhorn, ‘I am Ali Wallace’: The Malay Assistant of Alfred Russel Wallace, JMBRAS, VOL. 88, Part 1 (2015), pp. 3-31.

The Conversation

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *