Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 29 October 2016

Mostafa Atef, Pelantun Nasyid Multi Talenta


mostafa-atef-pelantun-nasyid-multi-talenta

islamindonesia.id — Mostafa Atef, Pelantun Nasyid Multi Talenta

 

Musik positif bernada Islami sering kita sebut dengan nama “Nasyid“. Di antara ciri nasyid adalah liriknya yang mengajak pada kebaikan, irama lagu yang didendangkan pun terasa lembut di telinga dan menyejukkan hati.

Nasyid berasal dari bahasa Arab yang berarti senandung. Kata ini mengalami penyempitan makna dari senandung secara umum, menjadi senandung yang bernafaskan Islam.

Nasyid biasanya merupakan nyanyian bercorak Islam dan mengandung kata-kata nasihat, kisah para nabi, puji-pujian kepada Allah, dan yang sejenisnya. Pada awalnya, nasyid dinyanyikan secara acappela dengan hanya diiringi gendang. Namun saat ini Nasyd pun diiringi musik instrumental, sehingga mungkin lebih tepat disebut musik positif bernafaskan Islam atau Nasyid Modern.

Nasyid tidak hanya dinyanyikan oleh pria namun juga wanita yang biasa disebut Munsyid. Jenis musik ini tak hanya popular di Indonesia sebagaimana para penyanyi nasyd berasal dari banyak negara mulai dari Swedia, Inggris, hingga Kuwait.

Dari sekian banyak munsyid, para penggemar kasidah atau nasyid dan lagu religi di Indonesia pasti sudah tak asing dengan nama Sami Yusuf, penyanyi asal Inggris keturunan Azerbaijan yang popular dengan lagu Al Mu’allim, My Ummah dan Wherever You Are. Juga Maher Zain, penyanyi Muslim asal Swedia yang popular dengan lagunya Insha Allah. Demikian pula halnya Harris J, penyanyi muda Muslim pendatang baru asal Inggris yang belakangan mulai dikenal publik Tanah Air setelah single pertamanya berjudul Salam Alaikum booming di tengah masyarakat Indonesia. Tak kalah familiarnya, ada nama Humood Alkhudher, penyanyi nasyd asal Kuwait kelahiran 1989 yang sepanjang tahun 2016 ini populer di kalangan pecinta musik Islami dengan lagunya yang sangat hits berjudul Kun Anta.

Selain nama-nama di atas, ada juga Mostafa Atef, penyanyi nasyid asal Mesir yang namanya baru beberapa tahun ini mulai berkibar di blantika musik Islami Tanah Air.

Setelah lawatan pertamanya pada bulan April hingga Mei 2015 silam, tahun ini pelantun Men Makka Lel Madinah (dari Mekkah ke Madinah) ini kembali hadir di Indonesia. Seperti halnya kedatangan pertamanya, di tahun 2016 ini Atef kembali hadir dan melakukan tur keduanya ke berbagai daerah di Indonesia dengan membawakan single terbarunya berjudul Qamarun, sebuah lagu yang menceritakan tentang sosok junjungan kita, Rasulullah Muhammad saw yang bagaikan rembulan.

Saat ini, siapa tak kenal Atef? Pesona bintang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, jurusan Pengajian Islam dan Bahasa Arab yang sudah hafal Al-Qur’an sejak usia 11 tahun ini, seolah tak pernah memudar di tengah para penggemarnya. Terutama para penggemar barunya yang makin menjamur di Indonesia.

Hal itu tampak jelas misalnya, ketika pria kelahiran tahun 1990 ini berkunjung ke Pesantren Progresif Bumi Shalawat, di kawasan Lebo, Sidoarjo, awal Oktober 2016 lalu. Sesaat turun dari mobil, serentak semua warga pesantren yang sejak lama menunggunya serentak berdiri, sembari menyanyikan syiir Thola’al Badru untuk menyambut kedatangannya.

Sebelum Atef melantunkan lagu, Gus Muhammad Robith Fuadi selaku MC membuka acara sekaligus menyampaikan sambutan dalam Bahasa Arab, memperkenalkan siapakah Mostafa Atef. Setelahnya, Atef sempat menyanyikan dua buah lagu, salah satunya Qamarun.

Sementara pada malam harinya, Atef menghadiri acara shalawatan bersama di masjid Al Akbar Surabaya bersama KH Agoes Ali Masyhuri selaku Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat sekaligus tuan rumah yang mengundang pelantun nasyid berusia 26 tahun itu.

Sekadar informasi, di Kahera, daerah darimana Atef berasal, pada awalnya dia sudah populer karena keikutsertaannya dalam sebuah acara dialog Islam-Kristen, A Common Word Between Us and You. Selain itu, dia juga aktif menjadi salah seorang panel dalam program Ibrahim Abdel Gawad yang disiarkan langsung stasiun TV Egypt MBC.

Harus diakui, kemerduan suara dan alunan zikir Atef yang indah dan merdu, menunjukkan bahwa dirinya bukanlah sembarang penyanyi. Di sisi lain, pria religius multitalenta itu sungguh layak menjadi teladan. Bagaimana tidak? Pada usia 12 tahun dia sudah kerap menjadi imam di beberapa masjid terbesar di Mesir, seperti Masjid An-Nur dan Masjid Rahman Ar-Rahim.

Mungkin banyak orang bertanya-tanya, bagaimana bisa dia dipercaya menjadi imam di usia semuda itu? Namun bagi sudah lama mengenal Atef, hal ini tak terlalu mengherankan, karena pada usia delapan tahun pun, anak muda berparas tampan ini pun sudah menjalani rekaman Qira’ah Al-Qur’an di sebuah serikat rekaman Shoutul Kaherah yang berada di bawah naungan langsung Kerajaan Mesir.

“Menyanyi bukan sekadar melantunkan lagu. Apa yang saya tekuni saat ini, ibarat sudah menjadi darah daging buat saya. Berdakwah dengan cara mendendangkan zikir, adalah cara terbaik mengajak masyarakat mendekati (ilmu) agama. Maka melalui nyanyian zikir dan qasidah, saya ingin berbagi ilmu kepada masyarakat di seluruh dunia tentang kehebatan Islam,” kata munsyid yang saat ini bernaung di bawah label Arteffects International milik Hafiz Hamidun itu.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *