Satu Islam Untuk Semua

Monday, 11 March 2019

Mengenal Sosok Abah Guru Sekumpul


islamindonesia.id – Mengenal Sosok Abah Guru Sekumpul

 

Abah Guru Sekumpul atau yang memiliki nama lengkap K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani bin H. Abd. Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin Mufti H.M. Khalid bin Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah ulama besar asal Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Meski sudah wafat empat belas tahun yang lalu, namun namanya masih harum dan hingga saat ini makamnya masih ramai diziarahi, khususnya oleh masyarakat Kalimantan. Mulai 9 hingga 11 Maret 2019, masyarakat akan menyelenggarakan peringatan hari wafatnya yang ke-14.

 

Profil dan Perjalanan Keilmuan 

Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Martapura, 11 Februari 1942 dan wafat di rumahnya sendiri di Sekumpul, Martapura, pada 10 Agustus 2005 setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura.

Secara keturunan, beliau adalah keturunan ke-8 dari ulama besar Kalimantan, Syaikh Maulana Muhammad bin Arsyad al-Banjari, Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) Kesultanan Banjar pada abad ke-17. Bagi yang mengenal khazanah pesantren, Syaikh Muhammad bin Arsyad al-Banjari adalah pengarang kitab Sabil al-Muhtadin, kitab fikih mazhab Syafi’i berbahasa melayu.

Waktu kecil, nama Abah Guru Sekumpul adalah Ahmad Qusyairi. Setelah lahir, keluarganya pindah ke Kampung Keraton, Martapura. Qusyairi kecil selalu didampingi oleh ayahnya, Abdul Ghani, dan neneknya, Salbiyah, untuk belajar Alquran dan ajaran-ajaran luhur keislaman.

Meskipun secara ekonomi tidak bisa dikatakan cukup, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Ayahnya, seperti dikisahkan dalam penelitian Amiqah yang berjudul “Motivasi Jamaah Mengikuti Haul Guru Sekumpul di Yogyakarta”, sangat semangat untuk bekerja apa saja.

Dalam satu kisah – seperti tertera di laman Wikipedia – karena rumahnya sudah tua dan reot, air sering merembes dan akhirnya menetes ke dalam rumah. Untuk menjaga agar anaknya tidak kebasahan, ayahnya selalu melindungi dengan cara menutupi dia dengan punggungnya.

Ayahnya juga pernah membuka kedai minuman. Dikisahkan, ia bahkan selalu minta kepada pengunjungnya jika minumnya tidak habis, itu boleh diberikan untuk keluarganya.

Meski demikian, beliau sejak kecil selalu diajari untuk mencintai ulama. Pada usia tujuh tahun, dia sudah hafal Alquran. Pada usia sembilan tahun, beliau sudah hafal Tafsir al-Jalalain, tafsir Alquran yang dikarang oleh dua ulama besar asal Mesir, Jalaluddin al-Mahalli dan al-Suyuthi.

Beliau menghabiskan masa pendidikannya di Pesantren Darussalam, Martapura, mulai dari Ibtidaiyah hingga Aliyah. Di masa sekolah inilah, namanya berganti menjadi Muhammad Zaini.

Pada masa ini pula, ia selalu didampingi oleh Syekh Seman Mulia, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Syekh Seman inilah yang selalu mengantarkan beliau belajar ke berbagai ulama sesuai dengan keahliannya. Ketika Muhammad Zaini diarahkan untuk belajar hadis dan tafsir, maka dia dipertemukan dengan ahlinya, yaitu Syaikh Anang Sya’rani Arif.

Kelak, Guru Sekumpul pernah berujar bahwa pamannya ini sebenarnya pakar hampir semua keilmuan. Namun ketawaduan membuat pamannya lebih mendorong keponakannya belajar kepada ahli lain dan beliau tidak menunjukkan keilmuannya.

Selain Guru Seman dan Syaikh Anang Sya’rani, beliau juga berguru kepada ulama-ulama lain misalnya K.H. Husain Qadri, K.H. Salim Ma’ruf, Syaikh Salman Jalil (pakar Falak dan Faraidh), dan Syaikh Syarwani Abdan Bangil (dikenal sebagai Guru Bangil). Ia juga pernah belajar dengan Abah Falak, Pagentongan, Bogor.

Kemudian, beliau juga memiliki beberapa guru selama di Makkah, misalnya Guru Kasyful Anwar (tidak lain adalah pamannya sendiri, yang pernah mengajar di Masjidil Haram), Syaikh Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani, Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail Yamani, dan lainnya. Di Makkah ini, beliau belajar bersama Syaikh Syarwani Abdan Bangil, yang terhitung masih sepupu dengannya. Dengan Syaikh Amin al-Kutbi inilah, kemungkinan beliau banyak berguru dalam persoalan tarikat dan tasawuf.

 

Membuka Pengajian

Selesai belajar di Makkah, pada era 1970-an beliau mulai membuka pengajian di rumahnya di Kampung Keraton. Awalnya yang diajarkan adalah nahwu sharaf, namun seiring berjalannya waktu karena yang hadir semakin beragam, maka beliau mulai menggantinya dengan pembacaan Simtudduror dan Maulid al-Barzanji lalu membaca beraneka macam kitab. Setiap hari, jumlah peserta yang ikut pengajian terus bertambah.

Pada tahun 1990-an, beliau memindahkan pengajian ke desa Sekumpul, di mana beliau merintis pembangunan Mushola Ar-Raudhah. Pengajian terus dilakukan di mushola ini mulai tahun 1990-an hingga beliau wafat. Di sinilah beliau mulai mendapatkan sapaan Guru Sekumpul, dan beberapa sapaan lain semisal Guru Izai atau Guru Ijai.

 

Karamah dan Petuah-Petuah Hikmah

Pengajian beliau seolah menjadi aliran air hikmah dan spiritual bagi masyarakat Banjar khususnya dan Kalimantan umumnya. Beliau banyak dikenal orang juga akibat dari karamah (keajaiban) yang dikenal masyarakat.

Beliau dikenal sudah memiliki kemampuan kasyaf hissi sejak berumur 10 tahun, yaitu melihat dan mendengar apa yang di dalam atau tertutup dinding. Kisah lainnya, masyarakat pernah mengadu kepadanya karena pada saat musim kemarau tidak kunjung datang. Lalu, beliau menggoyangkan pohon pisang beberapa kali dan turun hujan.

Kisah lainnya terjadi sewaktu beliau masih memberikan pengajian di Kampung Keraton. Waktu itu ia sedang bercerita tentang kesalihan ulama-ulama terdahulu. Hingga kemudian ia membicarakan buah rambutan, lalu kedua tangannya mengambil sesuatu ke belakang, tiba-tiba muncullah rambutan, padahal waktu itu belum musimnya.

Contoh lainnya adalah, apabila beliau selesai makan sampai habis, makanan di piring itu kemudian tetap penuh seolah tidak dimakan.

Namun, beliau berulang kali menegaskan bahwa karamah terbaik adalah istiqamah (konsisten) di jalan Allah. Karena itu, beliau menasihati jangan tertipu dengan keanehan-keanehan dan berpikir untuk mengamalkan wirid atau ibadah tertentu agar memiliki karamah tersebut. Karena hakikatnya, karamah itu anugerah, bukan keahlian.

Beberapa nasihatnya yang paling sering disampaikan adalah: (1) menghormati ulama dan orang tua, (2) baik sangka terhadap muslimin, (3) tidak pelit, (4) jangan menyakiti orang lain, (5) jangan bermusuhan, (6) manis muka, (7) mengampuni kesalahan orang lain, (8) berpegang kepada Allah pada diterimanya segala hajat,  dan (9) yakinlah keselamatan itu ada pada kebenaran.  

 

Karya-Karya

Di masa hidup beliau, ia menulis beberapa karya. Separuhnya bertemakan Tarikat Sammaniyah, tarikat yang beliau amalkan. Di antaranya adalah,

1 – Risalah Mubarakah

2 – Manaqib As-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani al-Samman al-Madani

3 – Ar-Risalah An-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulati as-Sammaniyah

4 – Nubdzatun fi manaqib al-Imam al-Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi.

 

Menjelang Wafat 

Sejak tahun 2000, pengajian beliau mulai dikurangi karena beliau mulai sakit. Pada tahun 2005, pengajiannya diberhentikan karena kondisi fisik beliau yang tidak memungkinkan akibat penyakit ginjal yang diderita.

Beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura selama 10 hari. Sehari sebelum wafat, beliau dibawa pulang dari Singapura ke Kalimantan Selatan. Pada tanggal 10 Agustus 2005, pukul 05.10, beliau mengembuskan nafas terakhir dan berpulang pada usia 63 tahun di kediamannya, Sekumpul, Martapura. Beliau dimakamkan di kompleks pengajian Mushalla Ar-Raudhah yang kini dikenal sebagai Kubah Guru Sekumpul.

 

PH/IslamIndonesia/Sumber: Bincang Syariah/ Muhammad Masrur/Photo Fitur: nu.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *