Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 05 July 2015

Mengenal Relawan Kristen Irak yang Ikut Berjihad Melawan ISIS


yCdlWtc03GkeRc377kCblF18rnhwoGPjeSZ0htyu2FILZg0xdlnLYgyh5J6uZSjsgmRHhOodDvQaRssFsgjB1wQtgBNSF5GclO1ovlviRFlgnmYgPIu4Q13Y9t9BHB1P619qUY_YLJPkPxRAZhnOEr5howBxpDKi=w477-h308-nc


Ratusan orang relawan Kristen di Irak, yang sebagian besar berasal dari Mousul, ikut latihan militer di sebuah kamp tidak jauh dari bandara Baghdad. Di bawah komando prajurit Muslim Irak, Abu Mahdi Muhandis, mereka berlatih perang dalam payung batalion ”Babylon”. Nama Babylon diambil dari nama kota di Mesopotamia kuno yang letaknya di Al Hillah, Irak, sekitar 85 kilometer selatan Baghdad.

Dengan menggunakan seragam loreng, berkalung salib, mereka meneriakkan yel-yel “Ya Maryam” di sela-sela latihan. Untuk diketahui, sekitar setahun yang lalu ISIS melakukan serangan dahsyat ke utara Irak dan mengambil alih dengan cepat Mosul yang mayoritas umat Kristen.

Pasca pencaplokan ISIS itu, sebagian warga Keistem Irak berhasil menyelamatkan diri ke wilayah lainnya. Sebagian lainnya memutuskan melawan kelompok militan itu. Sejak awal bercokol di Mosul, ISIS memberikan tiga pilihan pahit untuk umat Kristen: pindah agama ke Islam; membayar pajak jika tidak ingin pindah agama atau; jika membangkang pada dua pilihan itu pilihan ketiga ialah dibunuh. 

Kini, ratusan orang pejuang Kristiani bertekad  membebaskan Mousul dari cengkraman ISIS.  Selain membebaskan tanah kelahiran, mereka juga ingin menunjukkan ke dunia kalau orang Kristen juga berjuang membela saudara-saudaranya yang beragama Islam, Shabak, dan Yazidi.

“Anak-anak kami dibunuh, keluarga Kristen kami diungsikan, lalu bagaimana bisa sebagian orang mengatakan orang Kristen tidak berjihad? Faktanya, kami ingin berjihad (melawan ISIS) dimana pun itu,” kata Frank Samir, seorang Kristen dari Baghdad seperti dilansir The Guarian.

Semua relawan yang tergabung bertekad berjuang untuk membersihkan Irak dari virus ISIS. Umat Kristiani di Irak telah lama menderita akibat kebrutalan kelompok teroris. Sebelum ISIS datang menjadi bencana bagi mereka, umat Kristen telah berkali-kali diintimidasi oleh pelbagai kelompok militan yang menjamur pasca tergulingnya diktator Saddam Husain. Pada masa itu, ratusan warga Kristen Irak menyelamatkan diri ke luar negeri.

“Saya akan terus melawan (ISIS) hingga Mousul bebas dan mereka lenyap dari seluruh wilyah Irak,” Kata Fares Issa, 38, salah satu warga Mousul yang mengikuti pelatihan Militer.

Di salah satu sudut tempat peristirahatan mereka di kamp pelatihan militer, terlihat simbol Kristen dan juga simbol Islam dipajang bersandingan di dinding. Di kamp yang juga berdekatan dengan wilayah konflik itu, mereka berlatih selama dua minggu. Meskipun Mousul yang menjadi target, sebagaimana kata petinggi Batalion Babylion, Rayan Kaldani, tidak menutup kemungkinan pejuang Kristen turun tangan membebaskan wilayah lainnya.

“Kami terlibat dalam operasi pembebasan Kota Tikrit dan kota lainnya termasuk Beiji di Provinsi Salahuddin,” Kata Kaldani merujuk pada perang besar di utara Bagdad.

Bahkan, kata komandan militer Babylon lainnya, terdapat ratusan pejuang Kristen ditempatkan dalam berbagai wilayah di Salahuddin. Di wilayah lainnya, mereka ditempatkan untuk melindungi sejumlah gereja di jantung Baghdad. Sebab itu lah, menurut pengawas pelatihan yang juga tokoh Muslim, Haji Ali, fokus latihan batalion Babilon pada berbagai skenario perang jarak dekat, non-konvensional dan perang dalam kota.

Edy/ Islam Indonesia/ Foto: dailystar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *