Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 28 July 2015

SEJARAH–Melacak Kartosuwiryo, Salah Satu Pendiri Islam Garis Keras


images-7

Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo bisa dipandang sebagai tonggak kehadiran kelompok Islam garis keras di Indonesia, yang salah satu cita-citanya adalah mendirikan Negara Islam Indonesia.

Ken Conboy, penulis “The Second Front: Inside Asia`s Most Dangerous Terroris Network” (Kisah Panjang yang Berujung pada Peristiwa Bom Bali II) dan buku Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces”, mencatat bahwa pada 1936, Kartosuwiryo bersama sejumlah kawannya mempromosikan ide negara Islam Indonesia.

Dalam buku yang diterbitkan pada 2008 oleh Pustaka Primatama Jakarta, Conboy yang kini menetap di Jakarta sebagai konsultan keamanan itu menelusuri pemikiran dan aksi kelompok Islam garis keras di Indonesia.

Di buku itu dia memulai kisahnya dengan menghadirkan sang pemberontak, Kartosuwiryo, yang terlahir sebagai anak penjual candu di Cepu, Jawa Tengah.

Seperti umumnya pimpinan gerakan garis keras di hampir seluruh dunia, Kartosuwiryo bukanlah figur lulusan sekolah keagamaan atau madrasah yang kurikulumnya sarat ilmu agama. Contoh lain yang menarik di sini adalah Osama bin Laden yang sebenarnya merupakan seorang pengusaha dan Ayman Al Zawahiri yang merupakan seorang dokter bedah yang juga aktif di militer Mesir.

Seperti tokoh-tokoh Islam garis keras lain, Kartosuwiryo yang mengakhiri hidupnya di depan regu tembak militer itu tak lain merupakan lulusan sekolah Belanda dan memperoleh nilai tinggi dalam ilmu-ilmu sekuler.

Setelah lulus, Kartosuwiryo masuk Sarekat Islam, organisasi rakyat dengan kepentingan melindungi pedagang Jawa dari persaingan tajam melawan pedagang etnis Tionghoa.

Di Sarekat Islam, Kartosuwiryo sempat berjuang bersama Soekarno. Namun perbedaan idiologi di antara mereka membuat keduanya memilih jalan yang berbeda.

Soekarno lebih memilih jalan nasionalisme, sementara Kartosuwiryo cenderung ke arah sistem negara nonsekuler.

Sejarah untuk sementara memihak Kartosuwiryo. Pemikirannya mendapat angin ketika kekaisaran Jepang menguasai Indonesia. Kaum nasionalis ditindas, sedangkan kaum pendukung gerakan keagamaan justru diberi keleluasaan. Jepang pun mengizinkan Kartosuwiryo mendirikan kamp pelatihan seluas empat hektar di Jawa Barat bagi milisi pemuda Islam yang baru dibentuk.

Conboy menulis, walaupun Kartosuwiryo Jawa, dia menyadari bahwa pesan nonsekulernya punya daya pikat kuat di kalangan Sunda.

Pada perkembangan selanjutnya, antisekularisme Kartosuwiryo mengeras. Dia menolak perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani Belanda dan Soekarno.

Dia membentuk Tentara Islam Indonesia sebagai instrumen awal sebelum memproklamirkan diri sebagai kepala Negara Islam Indonesia, yang juga populer dengan nama Darul Islam.

Berjuang di hutan-hutan dan pedesaan Jawa Barat, kelompok partisan Darul Islam sempat merepotkan pemerintahan RI. “Pada akhir 1953, gerakan ini sanggup mengerahkan 6.700 orang anggota partisan dengan lebih dari 2.500 senjata di Jawa Barat,” tulis Conboy.

Gerakan Kartosuwiryo memang akhirnya luruh, tetapi idenya masih bergema.

Kahar Muzzakar, yang sempat berpangkat Letnan Kolonel dan menjabat Wakil Komandan Pasukan Gerilyawan di Jawa Timur prakemerdekaan, adalah salah satu figur revolusioner yang meneruskan Darul Islam.

Menurut Conboy, Muzzakar bergabung dengan Darul Islam dan melakukan gerilya di Sulawesi Selatan karena ia tidak mendapat tempat setelah perang kemerdekaan. Dengan kata lain, motivasi Muzzakar untuk mendirikan negara Islam di Indonesia bukan religius murni.

Begitu juga gerakan separatis Islam di Aceh, yang oleh Conboy dinilai sebagai aksi yang dipicu oleh kepentingan-kepentingan personal.

“Karena kehendak mereka tidak tertampung, Aceh memberontak pada September 1953 dan mengumumkan distrik mereka bersekutu dengan Darul Islam,” tulis Conboy, yang mengutip Widjiono Wasis, penulis “Geger Talangsari”.
Islam politis

Tumbangnya Soekarno dan munculnya Soeharto merupakan era baru bagi percaturan politik di kalangan kaum Islam garis keras. Sikap anti-PKI yang diperlihatkan Orde Baru yang militeristik searah dengan sikap kaum pemberontak religius. Ada kebersamaan antara militer dan organisasi Muslim dalam memerangi komunis.

Situasi politik menjelang Pemilu 1977 mencemaskan Soeharto. Penguasa Orde Baru ini khawatir kalau-kalau suara kaum Islam menumpuk di PPP.

Itu sebabnya dia menugasi Ali Moertopo untuk mengkooptasi basis pendukung Darul Islam. Dalam interaksi dua kubu inilah, wadah baru yang disebut Komando Jihad terbentuk.

Dalam perjalanannya, Komando Jihad akhirnya ditumpas oleh pejabat keamanan Orde Baru dengan menahan ratusan anggotanya.

Sebagian di antara anggota Komando Jihad yang ditahan ini, setelah dilepaskan, ternyata menjadi pendukung setia Orde Baru dan penganjur sejati doktrin Pancasila.

Dua figur Muslim garis keras yang mulai menangguk kepopuleran di tengah situasi militeristik Orde Baru adalah Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba`asyir. Mereka memberikan ceramah dengan menelanjangi pemerintahan Soeharto yang jauh dari ideal hukum Islam.

Pasangan Sungkar-Ba`asyir inilah yang mendirikan pesantren Al-Mukmin di Ngruki Sukoharjo selatan, Solo.

Di pesantren inilah benih-benih Islam garis keras dibentuk dan ditumbuhkan. Setelah sekian tahun, maka lahirlah lulusan Ngruki. Sejumlah pelaku pemboman di Indonesia konon alumni Ngruki.

Imam Samudra, Amrozi, dan Muchklas yang terlibat dalam pemboman di Bali kini meringkuk di penjara dan menunggu eksekusi di depan regu tembak.

Sekali lagi, rakyat Indonesia menyaksikan bagaimana ide menerapkan hukum Islam secara murni di Nusantara berantakan sebelum terealisir.

Pertanyaannya: masihkah ide itu beterbangan dan termakan oleh generasi mendatang di republik multietnik-agamis ini?

Menurut seorang pejabat intelejen, hanya dengan mengendalikan para dedengkot Islam garis keras, pengaruh ide itu bisa dikendalikan. Tetapi, seorang Muslim moderat berkomentar begini: di tengah kemiskinan yang merajalela seperti di Indonesia, godaan untuk mengikuti ide-ide militansi agamis cukup tinggi.

“Di tengah kemiskinan dan rendahnya tingkat intelektualitas masyarakat, Anda tidak akan kesulitan mencari pemuda Muslim yang rela meledakkan diri,” kata Ali Masykur Moesa, si Muslim moderat itu. (*)

MH/antaranews.com/foto: Eurasiareview

One response to “SEJARAH–Melacak Kartosuwiryo, Salah Satu Pendiri Islam Garis Keras”

  1. hamba allah says:

    almaidah : 45

    Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *