Satu Islam Untuk Semua

Monday, 13 November 2017

Kiai Zainuddin Madjid; Ulama, Pejuang Kemerdekaan, Pujangga Sufistik dari NTB


7e4ec0e19b6948a5a210f357fc7445ed_XL

islamindonesia.id – Kiai Zainuddin Madjid; Ulama, Pejuang Kemerdekaan, Pujangga Sufistik dari NTB

 

Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan, Sudarmanto menilai, Maulana Syekh Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bukan ulama biasa. Tak heran Tuan Guru kelahiran Nusa Tenggara Barat ini ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi pada 9 November.

“Saya mengenal, memahami almarhum Maulana Syekh jauh lebih kaya melalui dokumen-dokumen yang telah disiapkan oleh tim di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya pada acara Tasyakuran atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Kiai Zainuddin di Pendopo Gubernur, 10 November, seperti dilaporkan media setempat suarantb.com

Sudarmanto mengaku telah meneliti dua kardus dokumen terkait dengan Tuan Guru. Ia pun merasa bangga setelah membaca dan meneliti dokumen-dokumen terkait Maulana Syekh karena banyaknya pengetahun yang Sudarmanto dapatkan, baik ilmu agama, tasawuf hingga sastra. Sudarmanto, misalnya, tersentuh dengan syair-syair dan lagu karangan Tuan Guru.

Sang Pahlawan ini bernama lengkap Al-Mukarram Mawlānāsysyāikh Tuan Guru Kyai Hajji Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd. Tuan Guru lahir di Kampung Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 1898.

Sejak usia 15 tahun, Tuan Guru memperdalam ilmu agama di Mekah, Jazirah Arab.  Salah satu gurunya di Tanah Suci ialah Syaīkh Marzūqī, seorang keturunan Arāb kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjīd al-Harām.

Selain ilmu agama, ia juga belajar ilmu sastra pada ahli syair terkenal di Mekah, Syaīkh Muhammād Āmīn al-Quthbī. Ia juga berkenalan dengan Sayyīd Muhsin Al-Palembanī, seorang keturunan ‘Arāb kelahiran Palembang yang kemudian menjadi guru beliau di Madrasah al-Shaulatiyah.

Kembali ke tanah air, Tuan Guru melakukan safari dakwah ke berbagai lokasi di pulau Lombok. Sedemikian, namanya dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya ‘Tuan Guru Bajang’.

Pada tahun 1934, ia mendirikan Pesantren al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah dan menamatkan santri pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941.

Pada zaman penjajahan, Tuan Guru menjadikan madrasahnya sebagai pusat pergerakan kemerdekaan. Di sana, ia menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah.

Bersama guru-guru Madrasah, ia membentuk suatu gerakan yang diberi nama “Gerakan al-Mujahidin”. Bersama gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok, Mujahidin berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa Indonesia.[]

 

YS/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *