Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 16 August 2017

Haji Agus Salim, Diplomat Jenius yang Hidup Sederhana


Soekarno en Agoes Salim in ballingschap (reproductie)
*1949/01/01

islamindonesia.id – Haji Agus Salim, Diplomat Jenius yang Hidup Sederhana

 

Hindia Belanda 1915. Terbetik sebuah isu, Syarikat Islam (SI) lewat Tjokroaminito, menerima uang 150.000 gulden dari Jerman. Dana sebesar itu,konon sengaja digelontorkan salah satu negara adi kuasa era tersebut, sebagai upaya membiayai sebuah pemberontakan besar  di tanah Jawa.

Demi menerima isu panas itu, pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam. Mereka lantas menugaskan salah satu “agen” mudanya PID (Politiek Inlichtingen Dien) untuk menyelidiki kebenaran isu tersebut. Namun alih-alih mendapat informasi yang berharga, sang agen muda tersebut malah mengirim berita “mengejutkan”  dariSurabaya. Isinya ia menyatakan keluar dari PID.

”Rupanya pesona kharisma Tjokro, telah menyihir sang anak muda untuk membelot ke SI,”ujar sejarawan Ridwan Saidi dalam sebuah diskusi sejarah di Republika beberapa waktu yang lalu.

Siapakah anak muda itu? Ia tak lain adalah Agus Salim. Lahir di Koto Gadang,Bukittinggi pada 8 Oktober 1884, sedari kecil Agus Salim menikmati pendidikan eksklusif gaya Eropa. Itu terjadi, selain karena Agus Salim putera seorang  jaksa ia pun memiliki otak yang encer. Begitu cerdasnya Agus Salim hingga saat duduk di Europese Lagere School (ELS, sekolah eropa setingkat lanjutan pertama) di Riau, sang kepala sekolah tertarik untuk langsung mendidiknya dengan etika dan bahasa Belanda.

Usai lulus dari  HBS (sekolah Belanda setingkat lanjutan atas), Agus bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, Saudi Arabia. Bekerja di lingkungan asal datangnya Islam itu, membuat Agus belajar banyak soal Islam dan bahasa Arab. Bisa jadi karena keahliannya di dua bidang tersebut, membuat PID tertarik untuk merekrutnya. Maka pada sekitar 1913, ia kembali keBataviadan resmi bekerja sebagai agen PID.

Seperti sudah disebutkan di atas, PID lantas menugaskan Agus untuk menyelidiki Tjokroaminoto di Surabaya. Penyelidikan itu ternyata berakhir dengan masuknya Agus ke SI. Sejarah mencatat, Agus tidak hanya menjadi anggota SI saja. Sampai meninggalnya Tjokro pada 1934, ia bahkan selalu disebut-sebut sebagai orang kedua di SI. “Tjokro dan Agus adalah dwitunggal Syarikat Islam,”tulis Mohamad Roem dalam Manusia dalam Kemelut Sejarah.

Hingga 1921, Agus Salim masih memperlihatkan sikap kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda. Itu dibuktikan dengan kesediannya menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat (1921-1924) mewakili SI. Justru di Dewan Rakyat itu sikap radikal Agus mulai terpupuk. Tak jarang ia bicara terbuka, keras, dan menantang. Salah satu bentuk keradikalannya itu adalah saat ia ngotot menggunakan bahasa Melayu dalam rapat-rapat di Dewan Rakyat. Sebuah sikap yang berani dari seorang bumiputera saat itu.

“Ia pernah mengeritik Dewan Rakyat sebagai “komidi ngomong”,”ujar Mohamad Roem.

Seiring bergesernya gaya perjuangan SI ke arah non kooperatif, Agus dan kawan-kawan SI-nya lantas menyatakan mundur dari Dewan Rakyat. Ia kemudian aktif di JIB (Jong Islamieten Bond) dan sehari-hari bekerja sebagai seorang jurnalis. Tulisannya yang sangat keras bertaburan di beberapa koran dan majalah Hindia Belanda seperti Hindia Baru, Fadjar Asia dan Het Linch.

Sebagai seorang jurnalis tak jarang Agus  meliput berbagai peristiwa ke berbagai tempat di pedalaman Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan  ketidakadilan berbagai aturan Pemerintah Hindia Belanda. Ia juga menjadi saksi  berbagai sisitem yang memeras rakyat untuk kepentingan penjajah, mulai praktik kuli kontrak dengan pembayaran minim (poenale sanctie) hingga penyewakan tanah rakyat kepada pengusaha Eropa dalam jangka panjang (erfpacht).

Berbagai pengalaman itu berpengaruh terhadap cara pandangnya di kemudian hari. Termasuk saat ia bersama-sama tokoh pendiri bangsa lainnya menyusun UUD 1945. Konon Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang di antaranya berbunyi, Sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan, mengandung ide-ide pemikiran Agus Salim

Agus Salim memang memiliki sumbangan yang tidak kecil dalam pembangunan sebuah bangsa baru bernama Indonesia. Bukan hanya sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) semata, ia bahkan  termasuk dalam tim kecil perumus Pembukaan UUD RI. Mungkin karena keahliannya dalam tata bahasa Melayu, ia ersama Djajadiningrat dan Soepomo, menjadi penghalus bahasa dalam penyusunan batang tubuh UUD 1945.

“Jauh sebelum dunia Barat bicara tentang hak asasi manusia, Haji Agus Salim sudah menyinggung dalam perjuangannya menuntut kemerdekaan sebagai hak manusia, bahkan hak segala bangsa!” demikian Emil Salim dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim.

Kiprah perjuangan “the grand old man” –julukan Soekarno terhadap Agus Salim–tidak hanya sebatas pendirian Indonesia semata. Pada beberapa kabinet, ia selalu menduduki peran sebagai Menteri Luar Negeri. Posisinya itu menjadikan ia sering bertemu dan terlibat perdebatan alot dengan para diplomat Kerajaan Belanda. Salah satu diplomat itu adalah Prof.Schermerhon.

Sebagai seorang ”musuh” Schermerhon, memiliki kesan yang mendalam terhadap Agus Salim. Dalam Het dagboek van Schermerhoon (Buku Harian dari Schermerhoon), ia menyebut Agus Salim sebagai:  ”…Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang jenius. Ia mampu bicara dan menulis secara  sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu: ia hidup melarat…”tulisnya.

Berdamai dengan kemelaratan seolah telah menjadi pilihan hidupnya. Itu dibuktikannya pada 4 November 1954, saat bapak pendiri bangsa tertua itu menutup mata selamanya. Tak ada warisan harta dan kemilau materi yang diwariskan kepada anak-anaknya. Ya, hidup sederhana seolah telah ”dihitung” sang diplomat tua itu, jauh hari sejak ia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang bergaji besar di PID.

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *