Satu Islam Untuk Semua

Monday, 03 December 2018

Sejarah Pembangunan Jalur dan Stasiun Kereta Hijaz


Sejarah Pembangunan Jalur dan Stasiun Kereta Hijaz

islamindonesia.id – Sejarah Pembangunan Jalur dan Stasiun Kereta Hijaz

 

Mulai beroperasinya kereta cepat Haramain sejak 11 Oktober 2018, menjadi kabar gembira bagi para jemaah haji dan umrah. Kereta ini mulai menjadi moda transportasi pilihan yang menghubungkan dua kota suci umat Islam, Mekah dan Madinah, dan memangkas waktu perjalanan cukup signifikan. Jika dari Madinah ke Mekah butuh waktu sekitar 4 jam dengan bus atau kendaraan pribadi, menggunakan kereta ini hanya butuh waktu kurang dari 2,5 jam.

Beroperasinya kereta cepat ini mengingatkan pada semangat persatuan umat Islam yang terwujud dalam bentuk jalur kereta Hijaz. Ya, jalur kereta ini menjadi tonggak sejarah bagi dunia Islam.

Dibangun pada 1900 Masehi atas perintah Khalifah Turki Usmani, Sultan Abdul Hamid II, jalur kereta ini menjadi penghubung tercepat antara Damaskus dengan Madinah. Tujuan pembangunan ini tidak lain yaitu agar memudahkan umat Islam melaksanakan ibadah haji.

Sebelum ada jalur ini, umat Islam harus menempuh perjalanan selama 40 hari dari Mekah ke Madinah dengan berjalan kaki. Tidak sedikit dari umat Islam yang meninggal dalam perjalanan baik akibat kehabisan bekal maupun diserang perompak.

Dengan kereta, mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 5 hari. Jauh lebih cepat dan lebih aman.

Tidak hanya itu, ada niat luhur dari Sultan Hamid II yaitu ingin menyatukan umat Islam sedunia. Dalam pandangannya, persatuan tidak hanya bisa dilakukan lewat ritual ibadah, melainkan juga infrastruktur.

Namun, ada yang lebih hebat dari pembangunan jalur kereta ini yaitu terkait pendanaan. Sultan Hamid II tidak menggunakan dana investasi asing, namun murni dari wakaf umat Islam sedunia, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Jadilah jalur kereta ini sebagai salah satu aset umat Islam seluruh dunia. Meski melintasi sejumlah negara mulai Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi, tidak ada satu negarapun yang berhak menguasai jalur kereta ini.

Sayangnya, jalur kereta ini tidak lagi beroperasi sejak kekalahan Dinasti Turki Usmani pada Perang Dunia I. Sebagian jalur dikuasai oleh Inggris dan Perancis, bahkan ada jalur yang sampai dirusak oleh para pemberontak Arab.

Meski demikian, jejak kejayaan jalur kereta ini masih terpelihara sampai sekarang. Beberapa di antaranya yaitu Stasiun Kereta Hijaz di Madinah yang menyimpan dua lokomotif pertama Arab Saudi.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *