Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 21 September 2016

SEJARAH—Pada Abad ke-18 Orang Arab di Madura Lebih Banyak daripada di Jakarta


pada-abad-ke-18-orang-arab-di-madura-lebih-banyak-daripada-di-jakarta

IslamIndonesia.id—Pada Abad ke-18 Orang Arab di Madura Lebih Banyak daripada di Jakarta

 

Membicarakan sejarah Indonesia tanpa menyinggung etnis Arab dan keturunan Arab merupakan suatu hal yang kurang bijak. Warga Arab mempunyai peranan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lamanya. Perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang Arab di Indonesia telah dimulai sejak masa kerajaan Sriwijaya.

Terjalin hubungan perdagangan yang erat antara para pedagang Arab dengan para penduduk pribumi di Nusantara. Para pedagang Arab juga berperan dalam melakukan penyebaran agama Islam di Nusantara. Melemahnya kerajaan Sriwijaya di Sumatera mendorong para pedagang Muslim untuk mendapatkan dua keuntungan, keuntungan ekonomi dan keuntungan politik.

Tidak hanya perdagangan, para pedagang Muslim yang berasal dari Arab dan India juga menjadi pendukung berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Sumatera, seperti Samudera Pasai di pesisir Aceh yang berdiri sekitar abad ke-13 M, yang diyakini sebagai akibat dari proses Islamisasi daerah tersebut sejak abad ke-7 M.

Dalam perkembangannya, mayoritas warga Arab maupun keturunannya di Indonesia diyakini berasal dari Hadramaut, suatu provinsi di wilayah Yaman bagian Selatan.

Berdasarkan catatan statistik dari pemerintah kolonial Hindia Belanda menunjukkan bahwa gelombang besar kedatangan etnis Arab Hadramaut terjadi pada pertengahan akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20.

Pada mulanya, catatan pemerintah kolonial menggabungkan antara warga etnis Arab dengan keturunan Bengali. Catatan ini diperbaiki pada pertengahan abad ke-19, tepatnya tahun 1885.

Sebelum tahun 1859, tidak tersedia data yang jelas mengenai jumlah orang Arab yang bermukim di Hindia Belanda yang menjadi jajahan Belanda. Di dalam catatan statistik resmi pemerintah kolonial, keberadaan mereka dirancukan dengan orang Bengali dan pendatang lain yang beragama Islam.

Situasi ini berubah sejak tahun 1870, seiring dengan perkembangan pesat teknologi perkapalan sehingga perpindahan orang dari Hadramut menjadi lebih mudah. Maka pada tahun-tahun itulah awal dari masa yang sepenuhnya baru bagi koloni-koloni Arab yang ada di Indonesia.

Jadi sebelum diterbitkannya data statistik resmi tersebut, saat itu mengenai jumlah orang Arab di Nusantara, khususnya di Jawa, hanya diperoleh dari keterangan “kira-kira” yang berasal dari cerita orang tua dan tradisi setempat.

orang-arab-di-nusantara‘’Hasil penelitian saya mengenai hal itu menunjukan bahwa orang Arab Handramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad ke XVIII. Perhatian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka memilih pergi ke Palembang dan Pontianak,’’ tulis LWC van den Berg, penulis buku klasik yang berjudul Orang Arab di Nusantara.

Orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 dan koloni-koloni mereka di bagian timur Nusantara pada 1870. Data statistik pada tahun itu, tercatat jumlah populasi orang Arab dan keturunannya sudah mencapai 10.888 orang. Di Batavia misalnya ada 952 orang, Cirebon 816 orang, Tegal 204 orang, Cirebon 816 orang, Pekalongan 608 orang, Semarang 358 orang, Surabaya (mencakup Keresidenan Surabayam Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Sidayu) mencapai 1626 orang. Yogyakarta 77 orang, Surakarta 42 orang. Madura 979 orang. Kedu (Magelang) 47 orang. Cilacap 7 orang, Purwokerto 3 orang, Purbalingga 4 orang.

Dari data statistik tersebut tampak bahwa orang Arab di Madura hampir mencapai 1000 orang, lebih banyak jumlahnya daripada di Jakarta atau Batavia dan kota-kota besar lain di Tanah Jawa.

Mengapa demikian?

Semoga di lain waktu dapat kita temukan jawabnya.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *