Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 30 September 2018

Riwayat Tsunami dan Gempa Dahsyat di Kawasan Sulteng


Riwayat Tsunami dan Gempa Dahsyat di Kawasan Sulteng

islamindonesia.id – Riwayat Tsunami dan Gempa Dahsyat di Kawasan Sulteng

 

Gempa besar berkekuatan 7,7 Skala Richter mengguncang kawasan Sulawesi Tengah, tepatnya di jarak 26 Kilometer dari Donggala. Gempa ini juga memicu terjadinya tsumami 1,5 hingga 3 meter di Palu pada Jumat, 28 September 2018 pukul 17.22 WIB atau 18.22 WITA, 20 menit setelah gempa.

Sejatinya, gempa dahsyat ini bukan pertama kali melanda Sulteng, terutama di Palu. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika, Daryono, pernah membuat catatan mengenai sejarah terjadi gempa dahsyat di Palu.

Dalam artikelnya berjudul Tataan Tektonik dan Sejarah Kegempaan Palu, Sulawesi Tengah, Daryono mencatat Palu pernah diguncang gempa dahsyat beberapa kali selama abad 20. Dia membatasi tahunnya mulai 1927.

Pada 1 Desember 1927, Palu diguncang gempa yang bersumber di teluk. Gempa ini mengakibatkan kerusakan parah di Kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya.

“Gempa bumi juga dirasakan di bagian tengah Pulau Sulawesi yang jaraknya sekitar 230 kilometer.”

Gempa ini memicu terjadinya tsunami. Daryono mencatat gelombang tsunami mencapai 15 meter, menyebabkan 14 orang meninggal, 50 orang luka, dan kerusakan parah di pelabuhan dan permukiman.

“Sementara itu berdasarkan laporan dasar laut setempat mengalami penurunan sedalam 12 meter,” tulis Daryono.

Gempa Dahsyat Parigi dan Tambu

Hampir 11 tahun kemudian, gempa dahsyat dan tsunami terulang pada 20 Mei 1938 di Parigi. Getarannya terasa di hampir seluruh Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan bagian timur.

Kawasan Teluk Parigi mengalami kerusakan parah. Sekitar 50 persen dari rumah yang ada di kawasan tersebut mengalami kerusakan, 942 rumah roboh total dan 184 rumah rusak ringan.

Bencana tersebut menelan 16 korban tewas akibat tenggelam dan satu orang terseret tsunami. Menara suar di Pelabuhan Parigi rusak parah, sementara dermaganya hanyut.

“Beberapa ruas jalan di daerah Marantale mengalami retak-retak dengan lebar 50 cm disertai keluar lumpur, bahkan sebuah rumah bergeser hingga 25 meter,” tulis Daryono.

30 Tahun Berikutnya

14 Agustus 1968 kembali terjadi gempa bumi dan tsunami, tepatnya di Tambu. Pusat gempat ada di lepas pantai Sulawesi.

Sempat terjadi fenomena air surut sepanjang 3 meter dari bibir pantai. Tiba-tiba, ombak terhempas dan menimbulkan gelombang tsunami. Cukup kuat, sampai mampu melongsorkan tebing.

“Menurut laporan, ketinggian gelombang tsunami mencapai 10 meter dan limpasan tsunami ke daratan mencapai 500 meter dari garis pantai,” tulis Daryono.

Meski tidak dapat ditentukan waktunya, gempa bumi dan tsunami masih kerap terjadi di Sulteng. Peristiwa pada Jumat ini adalah yang terbaru dari rangkaian gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulteng.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *