Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 27 July 2017

Misteri Usia Sunan Kalijaga, ‘Menangi’ Masa Majapahit Hingga Mataram  


Misteri Usia Sunan Kalijaga, ‘Menangi’ Masa Majapahit Hingga Mataram

islamindonesia.id – Misteri Usia Sunan Kalijaga, ‘Menangi’ Masa Majapahit Hingga Mataram

 

Nama Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo begitu melegenda bagi warga Muslim di Nusantara khususnya di tanah Jawa. Karena begitu banyak cerita mengenai karomah, kesaktian dan keistimewaan dari pemilik nama asli Raden Said atau Joko Said ini.

Seperti diketahui, Sunan Kalijaga yang diperkirakan lahir pada tahun 1450 Masehi dengan nama Raden Said ini mampu memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa.

Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Sunan Kalijaga memiliki nama lain antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Dia merupakan murid Sunan Bonang. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun.

Karena Sunan Kalijaga mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten. Bahkan juga Kerajaan Pajang serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Bahkan konon beberapa ulama meyakini Sunan Kalijaga hidup dengan usia mencapai 200 tahun.

Menurut Serat Darmoghandhul, Sunan Kalijaga pernah bertemu dengan Raja Majapahit terakhir Prabu Brawijaya V. Bahkan sang Sunan pun menyampaikan dakwah Islam kepada Prabu Brawijaya V menggunakan bahasa yang penuh metafora, simbolis atau pelambang.

Selain itu saat Kesultanan Demak berdiri dan dipimpin Raden Patah, Sunan Kalijaga telah merancang pembangunan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Konon satu tiang kayu jati di Masjid Agung Demak diambil Sunan Kalijaga dari pohon jati raksasa di Hutan Gunung Pati.

Kiprah Sunan Kalijaga pun berlanjut dalam pemerintahan di Kesultanan Demak saat dipimpin Adipati Unus dan terus berlangsung hingga pemerintahan Sultan Trenggana (putra Raden Patah).

Pada tahun 1543 Sultan Trenggana atau Sultan Demak ketiga ini mengundang Sunan Kalijaga dan mengangkatnya menjadi penasihat kesultanan dan imam baru di Demak. Dia diberi tanah perdikan di Kadilangu oleh Sultan Demak ketiga tersebut.

Peran Sunan Kalijaga dalam menjaga dan mengayomi raja-raja di Jawa terus berlanjut di masa Kesultanan Pajang. Yakni saat Pajang menggantikan kekuasaan Demak Bintoro menjadi penguasa di Tanah Jawa ketika dipimpin Sultan Hadiwijaya yang juga dikenal sebagai Joko Tingkir.

Sunan Kalijaga menjadi guru dan penasihat Joko Tingkir atau Mas Karebet, yang menjadi sultan di Pajang.

Bahkan Sunan Kalijagalah yang memberikan nasihat kepada Joko Tingkir dalam menghadapi Arya Penangsang yang akhirnya tewas di tangan Sutawijaya (Panembahan Senopati).

Peranan Sunan Kalijaga dalam menjaga keberlangsungan Islam pada pemerintahan di tanah Jawa terus berlanjut hingga Panembahan Senopati mendirikan Kesultanan Mataram di Kota Gede.

Sang Sunan pun memberikan restu kepada Sutawijaya untuk mendirikan Kesultanan Mataram sebagai pengganti Kesultanan Pajang untuk memerintah di Tanah Jawa.

Dari catatan sejarah itulah Sunan Kalijaga diyakini memiliki umur yang panjang karena “menangi” (mengalami hidup di masa) pemerintahan dari masa Raja Majapahit terakhir Prabu Brawijaya V, Sultan Demak Pertama Raden Patah, Sultan Demak Kedua Adipati Unus, Sultan Demak ketiga Trenggono, Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir) hingga pemerintahan Raja Mataram Pertama Panembahan Senopati.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *