Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 04 June 2017

Mengenal Khadijah Al-Kubro (Bagian 3)


camel

islamindonesia.id – Mengenal Khadijah Al-Kubro (Bagian 3)

 

Di antara pengusaha ekspor-impor dari suku Quraisy yang sering ke Syiria ialah Abu Thalib bin Abdul Muthalib dari Bani Qusay. Selain dikenal sebagai pedagang, dia juga dikenal sebagai penjaga Ka’bah yang dibangun oleh kakeknya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Abu Thalib punya empat orang saudara laki-laki, di antaranya ialah adiknya Abdullah.

Pada 570 Masehi, Abdullah menikah dengan seorang putri dari Yastrib bernama Aminah bin Wahab. Beberapa bulan setelah menikah, Abdullah berangkat ke Syria untuk berdagang. Ketika pulang dari Syria, putra Abdul Muthalib yang masih berusia 17 tahun ini jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Abdullah meninggalkan istrinya yang sedang mengandung di Makkah. Dua bulan setelah wafatnya, Aminah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Muhammad bin Abdullah. Ketika Muhammad berusia 6 tahun, ibunya menyusul ayahnya dan jadilah putra Abdullah ini yatim piatu.

Sepeninggal ibunya, kakeknya Abdul Muthalib mengasuh Muhammad. Setelah dua tahun diasuh, kakeknya meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada Abu Thalib untuk menjaga Muhammad. Saat itu Abu Thalib yang dikenal sebagai penjaga Ka’bah dan pedagang, telah menjadi pemimpin Bani Hasyim menggantikan Abdul Muthalib. Di bawah asuhan pamannya, Muhammad kecil tumbuh remaja hingga kelak dikenal sebagai pembawa risalah Islam “rahmatan lil ‘alamiin”

Salah satu pelajaran yang banyak menginspirasi Muhamamad ialah ketika menemani pamannya berdagang ke Syria. Di sisi lain, semakin lama ia mengamati Muhammad dalam berbagai aktivitas, Abu Thalib semakin mencintai Muhammad.

Di mata Abu Thalib, Muhammad kecil tidak tampak berperilaku seperti anak-anak umumnya. Di masa remaja, Muhammad memiliki kematangan berpikir dan sikap bijaksana yang sangat menakjubkan. Cara pandang dan pola hidupnya tidak seperti anak remaja lainnya yang lebih suka bersenang-senang dalam kenikmatan duniawi.

Di usia 20 tahun, akhlak Muhammad semakin dikenal luas masyarakat. Lisannya senantiasa jujur, berbanding lurus dengan perbuatannya sehari-hari. Sedemikian sehingga masyarakat memanggilnya dengan “As Shadiq” (yang benar). Setiap barang yang dititipkan ke Muhammad senantiasa dijaga dengan hati-hati dan dikembalikan dengan utuh ketika diminta. Sikapnya yang amanah dan jauh dari sikap ceroboh membuat ia juga dipanggil “Al Amiin” (Yang dapat dipercaya).

Pada musim semi 595 Masehi, Khadijah mempersiapkan khafilah dagang anyar ke Syria. Sebagaimana musim-musim sebelumnya, Khadijah yang pandai dalam hal organisasi khafilah dagang, membentuk panitia penyeleksi agen. Setelah panitia terbentuk, pengumuman lowongan kerja agen ini dipublikasikan sebelum uji kelayakan diadakan.

Abu Thalib tertarik mengikutsertakan Muhammad dalam lowongan kerja ini. Meskipun Muhammad belum memiliki pengalaman sebagai agen, pamannya tetap percaya karena kecerdasan, kejujuran, keberanian dan sikap amanah pada diri Muhammad yang luar biasa. Muhammad yang berusia 25 tahun kala itu setuju dengan apa yang ditawarkan pamannya.

Muhammad yang nama baiknya dikenal luas oleh masyarakat itu juga tidak luput dari telinga Khadijah. Oleh karena itu, ketika Khadijah mengetahui Muhammad ikut melamar menjadi agen, Khadijah serta merta menerimanya tanpa uji seleksi. Setelah melakukan kontrak, Khadijah meminta sekeretarisnya Maysarah untuk menemani Muhammad dalam perjalanannya.

Sebelum malam tiba, bel dibunyikan tanda pemberangkatan unta-unta dengan seluruh muatannya dimulai. Kafilah menuju utara dan menempuh pejalanan selama sebulan untuk sampai di Syria. Sesampainya di Syria, rombongan beristirahat selama seminggu untuk melepaskan penat perjalanan. Setelah itu, mereka mulai berdagang dua hingga empat bulan lamanya.

Khadijah yang dikenal tidak pernah ceroboh dalam memilih agen lagi-lagi telah diperhitungkan bakal mendulang  keuntungan besar pada musim ini. Meskipun telah banyak mendengar tentang Muhammad, Khadijah terkejut dengan kuntungan melimpah yang dibawa Muhammad. Selama Khadijah memimpin usaha ekspor-impor, inilah keuntungan tertinggi yang diperolehnya dari Muhammad. Ia tak pernah melihat agen seperti Muhammad sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Jika Khadijah dikenal memiliki “sentuhan emas”, maka Muhammad memiliki “sentuhan yang diberkahi”…. Bersambung.

 

YS/Islam Indonesia/ Foto:  thinkstockphotos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *