Satu Islam Untuk Semua

Monday, 11 September 2017

Masjid Kuno di Gorontalo Ini Dibangun sebagai Mahar Pernikahan  


Masjid Kuno di Gorontalo Ini Dibangun sebagai Mahar Pernikahan

islamindonesia.id – Masjid Kuno di Gorontalo Ini Dibangun sebagai Mahar Pernikahan

 

Namanya Masjid Hunto Sultan Amay. Inilah masjid dengan sejarah unik. Apa pasal? Di antaranya adalah karena tempat ibadah di selatan Kota Gorontalo itu dibangun sebagai mahar pernikahan.

Nama Hunto merupakan singkatan dari “Ilohuntungo” yang artinya basis atau pusat perkumpulan agama Islam. Sementara nama Sultan Amay merujuk pada salah seorang pemimpin Kerajaan Gorontalo yang pertama kali memeluk Islam.

Masjid Hunto Sultan Amay didirikan oleh Sultan Amay pada tahun 1495. Masjid tertua di Gorontalo ini merupakan mahar pernikahannya dengan Putri Boki Antungo, yang tak lain adalah anak perempuan Raja Palasa dari Mautong Sulawesi Tengah.

Mahar masjid ini merupakan permintaan keluarga Sang Putri saat Sultan Amay berniat menikahinya tak lama setelah mengikrarkan diri masuk Islam.

Sejak awal, masjid ini dijadikan basis perkembangan agama Islam di kota berjuluk “Serambi Madinah” ini. Sultan Amay mengundang bahkan ulama terkemuka Arab Saudi, Syekh Syarif Abdul Aziz, untuk menyebarkan Islam. Tak heran bila makam Syekh itu kini bisa ditemui di masjid ini.

Masjid yang dibangun di atas tanah seluas 12 x 12 meter dan terletak di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo itu, saat ini juga tercatat sebagai cagar budaya pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gorontalo.

Bangunan utama masjid ini masih terjaga keasliannya. Begitupun dengan keberadaan Makam Sultan Amay dan Syekh Syarif Abdul Aziz yang terletak di depan pengimaman.

Sedangkan pada bagian depan dan samping telah dibangun beberapa ruangan tambahan. Di depannya kini ada ruangan tambahan seluas 60 meter persegi, dan di sebelah utara ruang utama juga dibangun ruangan tambahan dengan ukuran 8 x 12 meter.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Sultan Amay, Syamsuri Kaloku mengatakan perhatian pemerintah terhadap masjid kuno ini masih kurang. Pemerintah sebenarnya pernah mengucurkan dana operasional. Namun saat ini sudah terhenti.

“Ini bangunan bersejarah dan sudah menjadi cagar budaya, sayang kalau tidak dijaga dan diberdayakan,” kata Syamsuri. “Sekarang kami swadaya menutupi kebutuhan operasional masjid,” tambah dia.

Senada Syamsuri, warga sekitar juga berharap Kementerian Agama memberi bantuan untuk mendirikan Perpustakaan Islam di salah satu ruangan yang ada.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *