Satu Islam Untuk Semua

Monday, 12 February 2018

Masjid Damarjati, Saksi Syiar Islam di Salatiga


Masjid Damarjati, Saksi Syiar Islam di Salatiga

islamindonesia.id – Masjid Damarjati, Saksi Syiar Islam di Salatiga

 

Secara fisik, tidak ada yang menonjol dari masjid Damarjati yang terletak di Dukuh Krajan RT 02/RW 05, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Salatiga ini. Masjid sederhana ini hanya beratap asbes dengan hiasan dua kubah alumunium di atasnya. Padahal, berdasarkan catatan sejarah, masjid itu merupakan masjid tertua yang berdiri di Salatiga. Sayangnya, tak banyak artefak yang mensahihkan fakta tersebut.

Hampir seluruh bagian masjid telah mengalami renovasi. Sejak berdiri, Masjid Damarjati telah mengalami pemugaran sebanyak dua kali. Sekretaris Takmir Masjid Edy Trianto Basuki mengatakan, seperti yang terpahat pada prasasti di dinding masjid, renovasi pertama dilakukan pada 1978. “Sedangkan renovasi kedua dilakukan pada 2007,” kata Edy.

Masjid berdiri pada tahun 1826 di tengah kecamuk perang antara Pangeran Diponegoro dan Belanda. Keberadaan masjid tak lepas dari figur Kiai Ronosetiko dan Kiai Sirojudin yang diyakini berasal dari Mataram. Dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda, kedua ulama yang juga panglima perang Laskar Diponegoro tersebut memilih cara yang tidak frontal.

Mbah Yahya (76), sesepuh warga setempat menuturkan, berdasarkan cerita yang dikisahkan secara turun temurun, Kiai Ronosetiko dan Kiai Sirojudin saat itu memilih melakukan perlawanan dengan cara ngayam alas atau gerilya. Supaya tak dicurigai Belanda, kedua tokoh tersebut membuka perkampungan baru bersama laskarnya. Kiai Sirojudin membuka perkampungan di Dukuh Krajan, sementara Kiai Ronosentiko babat alas di daerah Bancaan, sekitar tiga kilometer jauhnya dari Krajan.

Belakangan, Kiai Sirojudin mengganti namanya menjadi Damarjati. Hal itu terpaksa dilakukan karena dia berserta Kiai Ronosentiko merupakan sosok yang diburu Belanda. Di Salatiga, kedua ulama tersebut ditugasi untuk memata-matai Belanda. Salatiga sejak dulu memang dikenal sebagai basis militer Belanda di Jawa Tengah.

Mengingat dirinya juga sebagai ulama, Kiai Sirojudin dengan dibantu laskarnya membangun sebuah langgar di perkampungan yang dibukanya. Langgar yang kelak menjadi masjid tersebut oleh Kiai Sirojudin dijadikan sebagai pusat segala aktivitas. Tidak hanya beribadah, namun juga melakukan syiar Islam kepada masyarakat.

Dituturkan Mbah Yahya, saat itu bangunan langgar masih sangat sederhana dan tak seberapa luas. Dindingnya terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu, sementara atapnya terbuat dari sirap. Namun dari langgar sederhana tersebut, syiar Islam di Salatiga tersebar luas.

Kiai Sirojudin dikisahkan menetap di Krajan hingga akhir hayatnya. Saat wafat, jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga setempat menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati.

Edy mengatakan, di saat Ramadhan, masjid ini banyak dikunjungi oleh jemaah. Selain melaksanakan shalat fardhu, mereka memanfaatkan teras masjid untuk beristirahat melepas lelah.

Selain itu, banyak pula musafir yang singgah di masjid untuk melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar. Sementara saat berbuka, ada tradisi yang telah dilakukan oleh warga secara turun temurun. Sejak permulaan puasa hingga akhir, tiap-tiap RT secara bergiliran mengirimkan panganan untuk berbuka, seperti kolak, bubur, atau jenis panganan lain yang lazim dijadikan sebagai menu takjil.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *