Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 10 June 2017

Masjid Agung Karawang, Saksi Bisu Pernikahan Prabu Siliwangi


Masjid Agung Karawang, Saksi Bisu Pernikahan Prabu Siliwangi

islamindonesia.id – Masjid Agung Karawang, Saksi Bisu Pernikahan Prabu Siliwangi

 

Masjid Agung Karawang memiliki sejarah cukup panjang. Masjid yang berlokasi di Alun-alun Barat Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Jawa Barat ini tidak lepas dari sosok Syech Qurotul Ain Putra dari Syech Yusuf Sidik Waliyullah asal Malaka. Dia penyebar agama Islam pertama di Karawang.

Masjid yang dulunya merupakan musala kecil itu, dibangun tahun 1418 Masehi. Berbentuk bangunan joglo memiliki empat tiang utama. Masjid ini beratap Limas bersusun tiga yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan.

Seiring waktu, masjid yang kini luasnya 2.230 meter semakin kokoh. Kegiatan-kegiatan syiar Islam semakin semarak, terutama pada bulan Ramadhan.

Penjaga Masjid Agung Karawang, Jaja mengatakan, sedikitnya ada delapan kegiatan rutin selama Ramadan. Yaitu salat fardu berjamaah, salat tarawih berjamaah, pengajian atau tausyiah setalah salat zuhur, buka bersama, tadarusan, itikaf, peringatan nuzulul Quran, dan gebyar Ramadan.

“Setiap hari ramai. Apalagi menjelang buka puasa dan saat tarawih,” ungkapnya kepada Radar Karawang.

Bukan hanya itu, masjid yang menjadi saksi bisu Nyi Subang Larang menimba ilmu agama dan menikah dengan Prabu Siliwangi, kini banyak dibidik oleh kelompok masyarakat yang ingin buka puasa bersama.

“Banyak acara dadakan seperti iklan untuk buka bersama. Juga biasanya suka ada dari sponsor atau iklan,” kata Jaja.

Diketahui, selama berdiri, sudah tiga kali masjid ini berubah arsitektur dan kali keempatnya di tahun 2010. Sejarah detailnya ada dalam catatan buku sejarah Kabupaten Karawang dari tim penulis Prof Dr Nina Herlina Lubis M.S.

“Masjid ini berdiri sejak Syeh Quro datang, banyak tokoh yang merehabilitasi masjid Agung dari tahun ke tahun, ini merupakan masjid tua, lebih tua dari Masjid Demak,” ujar budayawan Karawang, Engkos Kosasih.

Sejarah Masjid Agung Karawang

Islam masuk di Karawang ditandai dengan datangnya seorang wali asal Campa Syekh Hasanudin atau yang akrab dikenal Syech Qurotul ain Putra dari Syech Yusuf Sidik Waliyullah asal Malaka.

Peradaban Islam di Karawang, juga ditopang dari keberadaan bangunan masjid pertama yang dibangun pada tahun 1340 Saka atau 1418 Masehi. Masjid ini sudah berusia 599 tahun. Artinya, setahun lagi masjid ini sudah berusia enam abad (600 tahun).

Masjid tertua ini dinamai Masjid Agung Karawang. Bangunan yang tegak di abad 15 ini dulunya merupakan musala kecil dan Pesantren Quro, tempat Nyi Subang Larang menimba ilmu.

Di tempat ini pula Nyi Subang Larang menikah dengan Raden Pamanah Rasa yang belakangan dinobatkan sebagai Maharaja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Nyi Subang Larang menikah dengan Prabu Siliwangi (Raden Pamanah Rasa) pada tahun 1422 M.

“Dulunya dari cerita, Masjid yang dibangun Syech Murshadatillah ini akrab disebut orang lokal dengan nama Manggil, Manggul, kalau kalau sekarang kan akrabnya disebut Masjid Agung,” ungkap Juru Pelihara Masjid Agung Dodi kepada Radar Karawang.

Dia bercerita, Masjid Agung ini banyak penyebutannya, seperti Masjid Syech Quro, Masjid Kaum maupun Masjid Alun-Alun. Namun yang pasti masjid ini merupakan yang tertua di Karawang.

Awalnya, masjid ini hanya berbentuk bangunan Joglo bertiang utama (soko guru) yang memiliki empat tiang utama. Bangunan tersebut kemudian direnovasi dari tahun ke tahun.

Dodi menyebut bahwa Masjid Agung ini sudah mengalami 3 kali perbaikan.  Masjid ini didirikan pada tahun 1418 M, kemudian direhab pada tahun 1635 Masehi oleh Adipati Singaperbangsa.

Selanjutnya, Raden Mangku Tohir Mangkudijoyo kembali melakukan renovasi pada tahun 1954. Terakhir, masjid ini dibenahi lagi oleh Bupati Sumarno Suradi bersama para ulama pada tahun 1994.

Keanehan Kayu Peninggalan Syech Quro di Masjid Agung

Meskipun berubah wujud dari tahun ketahun, tapi limbah bangunan lama yang terbuat dari kayu-kayu balok besar dan kuat masih tersimpan rapih di lantai atas Masjid Agung Karawang.

Menurut Dodi, kekuatan kayu-kayu abad ke- 15 itu sangat tahan rayap dan sulit digergaji dan di paku. Ada satu keanehan sebut Dodi, saat bagian kayu tersebut hendak digergaji berulangkali untuk menyempurnakan pintu atas untuk didaur ulang, malah gergajinya yang selalu patah.

“Walau Masjid berganti fisik bangunannya, tapi kayu-kayu peninggalan Syech Quro saat mendirikan masjid diabad 15 itu masih tersimpan rapi,” katanya.

Menurut Dodi, di belakang Masjid Agung terdapat beberapa makam para leluhur, salah satunya adalah makam Syekh Abdurahman yang banyak diziarahi.

Syekh Abdurahman sendiri disebut-sebut sebagai tangan kanannya Syekh Quro. Bahkan banyak anggapan bahwa disamping makam Syech Abdurahman di Masjid Agung juga ada makam Syech Quro yang menempel di pondasi bangunan belakang Masjid. Sementara yang di Kecamatan Lemahabang acap kali disebut sebagai Maqom alias patilasan Syekh Quro.

“Wallahu’alam kalau makam asli dimana, tapi banyak yang beranggapan juga disamping Syeh Abdurahman ini adalah makam Syeh Quro,” kata dia.

Karawang Pusat Penyerangan Tentara Mataram ke VOC

Sejarah Masjid Agung ditulis Prof Dr Nina Herlina Lubis dalam sebuah buku Sejarah Kabupaten Karawang terbitan 2011. Dalam buku itu disebutkan bahwa penyebaran Islam di Karawang dimulai oleh Syech Quro.

Dalam naskah Purwaka Caruban Nagri, Syeh Quro merupakan putra ulama besar dari Campa yang bernama Syeh Yusuf Sidik. Pada tahun 1418, Syeh Quro yang memiliki nama lain Syeh Hasanudin ini tiba di Muara Jati Cirebon dan Ke Karawang mendirikan Pesantren.

Dalam buku sejarah terbentuknya Kabupaten Karawang halaman 22, disebutkan bahwa masjid Agung Karawang menggunakan model, bentuk dan kontruksi pasak yang sama modelnya dengan masjid Demak, meskipun besar bangunannya tidak sama.

Penataan suatu kantor kabupaten dengan memasukan unsur Alun-alun dan masjid serta kantor-kantor pendukung lainnya adalah sejalan dengan sistem pemerintahan kesultanan Islam pada masa itu atas gagasan Sunan Kali Jaga, salah seorang Wali Songgo yang menjadi penasehat kesultanan Islam pertama Bintoro atau Demak.

Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya. Karawang dipersiapkan sebagai pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC atau Kompeni di Batavia.

Selain itu, Karawang juga menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung.

 

10 Fakta Masjid Agung Karawang

1. Bangunan pertama Masjid Agung dibangun pada tahun 1418 Masehi.
2. Awalnya, bangunan ini berbentuk joglo dengan empat tiang utama. Masjid ini beratap Limas bersusun tiga yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan.
3. Tempat pernikahan Syeh Quro dengan Sri Ratna Sondari
4. Tempat menuntut Ilmu Nyi Subang Larang Putri Ki Gedeng Tapa Muarajati Cirebon
5. Tempat bergurunya Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem asal Baghdad kepada Syech Quro setelah beradu ujian keilmuan spiritual.
6. Tempat Pernikahan Putra Kerajaan Pajajaran Prabu Angga Larang bernama Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) dengan Nyi Subang Larang tahun 1344 Saka atau tahun 1422 Masehi
7. Penghulu pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang adalah Syech Hasanudin atau Syech Quro Karawang.
8. Komplek Kantor Adipati Singaperbangsa selama 44 tahun yang semula di Udug-Udug
9. Tempat Makam Bupati Karawang V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV yang kemudian dipindahkan ke Manggungjaya tahun 1993
10. Bupati Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950-1959, memperluas Masjid Agung atas persetujuan para ulama dan umat Islam.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *