Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 22 March 2018

Hari Ini 73 Tahun Lalu, Liga Arab Resmi Dibentuk


Hari Ini 73 Tahun Lalu, Liga Arab Resmi Dibentuk

islamindonesia.id – Hari Ini 73 Tahun Lalu, Liga Arab Resmi Dibentuk

 

Tepat tanggal 22 Maret 1945, 73 tahun silam, negara-negara Arab di Timur Tengah sepakat mendirikan sebuah organisasi regional yang dikenal dengan nama Liga Arab atau Al-Jami’a al-Arabiyah. Liga Arab dibentuk di Kairo, Mesir oleh beberapa negara yaitu Mesir, Suriah, Lebanon, Irak, Transjordania (Jordania), Arab Saudi, dan Yaman.

Setelah itu negara-negara lain masuk menjadi anggota, di antaranya Libya (1953), Sudan (1956), Tunisia dan Maroko (1958), Kuwait (1961), Aljazair (1962), lalu Bahrain, Oman, dan Qatar serta Uni Emirat Arab (1971). Disusul kemudian Mauritania (1973), Somalia (1974), Organisasi Pembebasan Palestina /PLO (1976), Djibouti (1977) dan Kepulauan Komoro (1993).

Saat Yaman menjadi negara terpisah dari 1967-1990, keduanya memiliki perwakilan sendiri di Liga Arab. Setiap negara anggota memiliki satu suara di Dewan Liga dan keputusan voting hanya mengikat negara-negara yang memberikan suara.

Tujuan pendirian Liga Arab adalah untuk memperkuat kordinasi politik, budaya, ekonomi, dan program-program sosial di antara negara anggota. Organisasi ini juga bertujuan menjadi mediator jika terjadi pertikaian antara negara anggota atau sengketa antara negara anggota dan pihak ketiga.

Pada 13 April 1950, negara-negara anggota Liga Arab meneken kesepakatan terkait kerja sama pertahanan dan ekonomi serta menyepakati langkah-langkah kordinasi militer bersama.

Di tahun-tahun awal keberadaannya ini, Liga Arab berkonsentrasi pada masalah ekonomi, budaya, dan program sosial.

Pada 1954, Liga Arab menggelar kongres perminyakan pertama Arab dan para 1964 membentuk Organisasi Pendidikan, Budaya, dan Sains Liga Arab (ALECSO). Masih di tahun yang sama, meski diwarnai keberatan dari Jordania, Liga Arab memberikan status pengamat kepada PLO sebagai wakil bangsa Palestina. Status pengamat ini kemudian ditingkatkan menjadi anggota penuh pada 1976.

Saat Mahmoud Riad menjadi sekjen ketiga Liga Arab (1972-1979) aktivitas politik organisasi ini meningkat.

Namun, kondisi Liga Arab sedikit melemah akibat perpecahan internal terkait sejumlah isu politik terutama terkait masalah Israel dan Palestina.

Setelah Mesir meneken perjanjian damai dengan Israel pada 26 Maret 1979, anggota lain memilih agar Mesir dikeluarkan dari keanggotaan. Mereka juga mendesak agar markas besar Liga Arab dipindahkan dari Kairo ke Tunis, Tunisia.

Mesir kembali menjadi anggota Liga Arab pada 1989 dan markas besar organisasi tersebut kembali dipindahkan ke Kairo pada 1990.

Invasi Irak ke Kuwait pada 1990 yang disusul intervensi Barat, khususnya Amerika Serikat atas permintaan Arab Saudi, memicu ketegangan di internal Liga Arab. Saat itu, Arab Saudi, Mesir, Suriah, Maroko, Qatar, Bahran, Kuwait, Uni Emirat Arab, Lebanon, Djibouti, dan Somalia mendukung kehadiran pasukan asing di Arab Saudi. Akhirnya semua negara itu, kecuali Lebanon, Djibouti, dan Somalia, melibatkan militernya dalam konflik yang kemudian disebut sebagai Perang Teluk I.

Liga Arab kemudian dipaksa untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan mendadak di kawasan tersebut saat aksi unjuk rasa yang dikenal dengan sebutan Arab Spring pecah di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara pada akhir 2010 hingga awal 2011.

Pada Maret 2011, Liga Arab memutuskan untuk mendukung penerapan zona larangan terbang di Libya untuk melindungi kelompok penentang Moammar Khadaffi dari serangan udara pemerintah.

Zona larangan terbang itu kemudian meluas menjadi sebuah intervensi militer internasional yang menyebabkan kejatuhan Moammar Khadaffi pada Agustus 2011.

Satu hal yang patut dicatat, bahwa sepanjang sejarahnya, Liga Arab turut memainkan peran penting dalam konflik antara Palestina dengan Israel. Negara-negara anggota Liga Arab menolak keras pembentukan negara Israel pada 1948 dan melakukan serangan ke wilayah Negara Zionis itu meski dapat dikalahkan. Liga Arab juga memberikan dukungan penuh kepada Palestina dan berperan dalam pembentukan organisasi yang mewakili rakyat Palestina, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada 1964.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *