Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 22 February 2018

Fakta-Fakta Unik di Balik ‘Hari Istiqlal’ 22 Februari


Fakta-Fakta Unik di Balik 'Hari Istiqlal' 22 Februari

islamindonesia.id – Fakta-Fakta Unik di Balik ‘Hari Istiqlal’ 22 Februari

 

Setiap negara di belahan dunia pasti memiliki kebanggan tersendiri dari apa yang dimiliki negaranya masing-masing. Begitu juga dengan Indonesia yang kaya akan bangunnan-bangunan bersejarah yang memiliki nilai arsitektur tinggi di mata dunia. Selain Monas, Indonesia mempunyai beberapa icon yang menjadi daya tarik dan sering dikunjungi baik oleh turis lokal maupun mancanegara.

Salah satunya adalah Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini menjadi pusat perhatian bagi umat beragama khususnya umat Islam. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Lokasi kompleks masjid ini berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas). Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral.

Asal Mula Nama Istiqlal

Masjid Istiqlal merupakan masjid negara, yaitu masjid yang mewakili umat Muslim Indonesia. Karena menyandang status terhormat ini maka masjid ini harus dapat menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sekaligus menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini dibangun sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka”.

Luas Bangunan dan Kapasitas Jemaah

Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Luas lantainya 36.980 meter persegi, dilapisi dengan 17.300 meter persegi marmer. Jumlah tiang pancangnya sebanyak 1800 buah.

Di atas gedung ini ada sebuah kubah kecil, fungsi utama dari gedung ini yaitu setiap jamaah dapat menuju gedung utama secara langsung. Selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai perluasan tempat shalat bila gedung utama penuh.

Masjid Istiqlal mempunyai menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Bangunan menara meruncing ke atas ini berfungsi sebagai tempat Muazin mengumandangkan adzan. Di atasnya terdapat pengeras suara yang dapat menyuarakan adzan ke kawasan sekitar masjid.

Menara megah tersebut melambangkan keagungan Islam, dan kemuliaan kaum muslimin. Keistimewaan lainnya, menara yang terletak di sudut selatan masjid, dengan ketinggian 6.666 cm ini dinisbahkan dengan jumlah ayat-ayat Al-Quran. Pada bagian ujung atas menara, berdiri kemuncak (pinnacle) dari besi baja yang menjulang ke angkasa setinggi 30 meter sebagai simbol dari jumlah juz dalam Al-Quran. Menara dan kemuncak baja ini membentuk tinggi total menara sekitar 90 meter.

Puncak menara yang meruncing dirancang berlubang-lubang terbuat dari kerangka baja tipis. Angka 6.666 merupakan simbol dari jumlah ayat yang terdapat dalam AL- Quran, seperti yang diyakini oleh sebahagian besar ulama di Indonesia.

Kapasitas jemaah Masjid ini mampu menampung 120.000 jemaah yang dilengkapi dengan empat tingkat balkon.

Pembangunan dan Peresmian Masjid Istiqlal

Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan umat Islam. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

Sejak direncanakan pada tahun 1950 sampai dengan 1965 tidak mengalami banyak kemajuan. Proyek ini tersendat, karena situasi politik yang kurang kondusif. Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 saat meletus peristiwa G30S/PKI, sehingga pembangunan masjid terhenti sama sekali. Setelah situasi politik mereda, pada tahun 1966, Menteri Agama KH. M. Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.

Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Biaya pembangunan diperoleh terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (tujuh milyar rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua belas juta dollar AS).

Bedug Raksasa

Terdapat bedug raksasa di Masjid Istiqlal. Bedug ini panjangnya 3 meter, dengan berat 2,30 ton, bagian depan berdiameter 2 meter, bagian belakang 1,71 meter, terbuat dari kayu meranti merah (shorea wood) dari sebuah pohon berumur 300 tahun, diambil dari hutan di Kalimantan Timur, diawetkan menggunakan bahan pengawet superwolman salt D (fluoride, clirome, dan arsenate). Bedug tersebut memiliki ukuran yang sangat besar, diletakkan di atas penyangga setinggi 3,80 meter, panjangnya 3,45 meter, dan lebarnya 3,40 meter.

Dulu bedug di Masjid Istiqlal tersebut dipukul setiap hari Jumat, mendahului adzan Jumat yang dikumandangkan melalui pengeras suara. Belakangan ini suara bedug direkam kemudian diperdengarkan melalui pengeras suara sebelum adzan dikumandangkan. Walaupun fungsi bedug sudah dapat digantikan oleh pengeras suara dalam menentukan tanda masuk waktu shalat, tetapi di Masjid Istiqlal, bedug masih dimanfaatkan. Selain itu bedug raksasa masjid ini juga berfungsi sebagai hiasan dan sekaligus melestarikan salah satu budaya Islam Indonesia.

Kita patut berbangga pada apa yang kita miliki, agar nama Indonesia di mata dunia makin layak diperhitungkan. Untuk itulah mengapa budaya, agama, suku bangsa, bahasa, situs dan bangunan bersejarah wajib kita jaga dan lestarikan sebaik baiknya.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *