Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 18 October 2016

Ramalan Akhir Zaman (4), Kebo Bule Mata Kucing dan Wasiat Terakhir Syekh Siti Jenar


walilluyah_syekh_siti_jenar_by_marshallamazonika

IslamIndonesia.id — Ramalan Akhir Zaman (4)Kebo Bule Mata Kucing dan Wasiat Terakhir Syekh Siti Jenar

 

Salah satu versi sejarah menyebutkan bahwa Syekh Siti Jenar, berasal dari Baghdad dan datang ke Jawa lalu menetap di Pengging, Jawa Timur. Disana Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebo Kenongo) dan masyarakat. Tetapi para Wali Jawadwipa/Wali Songo tidak menyetujui aliran keberagamaannya.

Oleh karena itulah dalam salah satu versi sejarah, Syekh Siti Jenar konon dihukum mati tahun 1506 M, dan dimakamkan di Anggaraksa alias Graksan, Cirebon sekarang ini.

Sebelum wafat, Syekh Siti Jenar sempat berpesan kepada para Dewan Wali/Wali Songo,”Kelak pada suatu zaman akhir, kalau ada Kebo Bule Mata Kucing (orang Belanda) naik dari laut, itulah tandanya musibah kepada anak cucu Anda,” katanya.

Pesan dan ramalan itu ternyata benar, karena kenyataannya Belanda memang menjajah Indonesia dan banyak menyengsarakan rakyat Indonesia.

[Baca: Syekh Siti Jenar Ramalkan Kemunculan ‘Prajurit Palsu’ Islam]

Tak dapat dipungkiri bahwa gerakan Syekh Siti Jenar mempunyai efek khusus yang kita anggap sebagai “geger” di antara para pemuka Agama Islam pada abad ke 16 M. Karena lambat laun ketika itu banyak orang-orang yang mengaji tasawuf atau ilmu hakiki. Salah satunya ilmu perihal bedanya antara Kawula dan Gusti , juga Tunggalnya Kawula dan Gusti atau Manunggaling Kawulo Gusti.

Seperti yang dipahami sebagian orang selama ini, ada hal kontroversial yang sampai saat ini tetap menjadi bahan pembahasan yang seolah tak pernah berakhir dan menghasilkan kesimpulan tak terbantah. Yakni misteri kematian Syekh Siti Jenar yang tetap menjadi misteri, tak lain karena begitu banyaknya ragam dan versi.

Salah satunya adalah versi mati-hidup berulangkali sebelum berakhir jasadnya mengecil sebesar kuncup bunga melati, berikut ini.

Syahdan, atas tuduhan Syekh Maulana Maghribi, bahwa Syekh Siti Jenar mengaku dirinya Allah, dan oleh Sunan Kalijaga ditanyakan apakah benar tuduhan tersebut, beliau mengakuinya benar adanya, maka Dewan Wali dalam sidangnya sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi si tertuduh, dan Syekh Siti Jenar menerima putusan tersebut agar segera dilaksanakan, dan yang harus melaksanakan keputusan tersebut yaitu Sunan Kudus dengan Keris Ki Kantanaga yang diberikan oleh Sunan Gunung Jati.

Sebelum eksekusi berlangsung, terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan masyarakat karena memang disaksikan secara terbuka di halaman Masjid Agung Cirebon, dan dialog tersebut di antaranya sebagai berikut:

Saat keris Ki Kantanaga menempel ke jasad Syekh Siti Jenar, terdengar suara yang sangat keras seperti beradunya kedua besi yang sangat besar, lalu para Wali saling tersenyum, sambil berkata,”Masa ada Allah seperti besi?”

Syekh Siti Jenar menjawab,”Coba, tusuklah sekali lagi.”

Ketika tusukan kedua, Syekh Siti Jenar menghilang tidak ada wujud jasadnya.

Para Wali berkata kembali,”Masa matinya Allah seperti setan?”

Secepat kilat Syekh Siti Jenar menampakan diri lagi, sambil berkata,”Coba tusuk sekali lagi?”

Ketika tusukan ketiga, Syekh Siti Jenar membujur tergolek di lantai masjid, dari lukanya keluar darah merah, dan para Wali berkata kembali,”Masa matinya Allah seperti kambing?”

Syekh Siti Jenar bangun, hidup kembali tanpa luka dan berkata,”Coba tusuk sekali lagi?”

Kemudian pada tusukan keempat, Syekh Siti Jenar rebah, mati dan dari lukanya mengalir darah putih, seketika itu para wali berkata kembali,”Masa matinya Allah seperti cacing!”

Karena berkali-kali tusukan selalu mati, hidup, mati, hidup, maka Syekh Siti Jenar berkata,”Lalu harus bagaimana mati Saya menurut keinginan Anda?” dan dijawab oleh seluruh Wali,”Biasa! Seperti orang tidur badannya lemas, begitulah mati bagi seorang Insanul Kamil.”

Sesudah itu ditusuklah jasadnya dan wafatlah Syekh Siti Jenar seperti umumnya manusia. Jasadnya mengecil sebesar kuncup bunga melati dan baunya semerbak mewangi bau harumnya melati. Begitulah konon Syekh Siti Jenar, wafat wajar dan tidak bunuh diri.

[Baca: Syekh Siti Jenar Ramalkan Mazhab jadi Berhala Baru, Tempat Seiman Disembelih]

Terlepas dari kontroversi terkait jalan kematian Syekh Siti Jenar, ada beberapa hal yang ada baiknya kita renungkan secara mendalam. Yakni pesan dan wasiat terakhirnya sebelum benar-benar menghadap kepada Tuhan, sebagaimana terekam dalam sebagian buku sejarah dalam untaian kalimat-kalimat panjang berikut ini.

Hidup itu bersifat baru, dilengkapi pancaindra, sebagai barang pinjaman

bila diminta pemiliknya kembali, menjadi tanah dan membusuk, hancur dan bersifat najis

karena sifatnya itu, pancaindra tak dapat dipakai sebagai pedoman.

Budi, pikiran, angan-angan, kesadaran

satu wujud dengan akal, bisa menjadi gila, sedih, bingung

lupa tidur dan sering tak jujur, ajak dengki terhadap sesama

‘tuk kebahagiaan sendiri, timbulkan jahat dan sombong

ke lembah nista nodai nama dan citra.

Manusia yang hakiki, adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat

berdiri dengan sendirinya, sukma menjelma sebagai hamba

hamba menjelma pada sukma, napas sirna menuju ketiadaan

badan kembali sebagai tanah.

Adanya kehidupan itu karena pribadi, ditetapkan oleh pribadi

ditetapkan oleh kehendak nyata, hidup tanpa sukma

tiada merasakan sakit atau lelah, suka duka pun musnah

berdiri sendiri menurut karsanya, hidup sesuai kehendaknya

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *