Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 04 September 2018

Cak Nun Soroti Ruwaibidhah dan Watak Pengecut Globalisasi


Cak Nun Soroti Ruwaibidhah dan Watak Pengecut Globalisasi

islamindonesia.id – Cak Nun Soroti Ruwaibidhah dan Watak Pengecut Globalisasi

 

Cendekiawan Muslim asal Jombang, Emha Ainun Najib atau biasa disapa Cak Nun menyatakan bahwa salah satu ciri dari watak globalisasi adalah lempar batu sembunyi tangan. Jika dulu Portugis memeriami kapal-kapal dagang Demak dan Majapahit sebagai cerminan dari globalisasi, maka hari ini mereka yang menggunakan akun fiktif di media sosial merupakan gaya baru globalisasi.

“Ksatria atau perwira kalau berkelahi itu hadap-hadapan. Berabad-abad itu kita tahunya berkelahi itu seperti itu, tapi kemudian ada pasal baru dari Portugis. Pakai meriam lempar dari jauh. Maka Demak dan Maja pahit pun ikut menggunakan meriam. Kelak meriam itu namanya rudal. Jadi Hiroshima-Nagasaki itu tidak pernah tahu siapa yang menjatuhkan bom,” demikian ucap Cak Nun dalam Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki.

“Jadi lempar batu sembunyi tangan itu adalah watak dari globalisasi. Jadi anda dilempari batu setiap hari di televisi, media massa dan di media sosial tanpa tahu sebelumnya siapa yang melempar,” ucapnya melanjutkan.

Seperti diketahui, saat atau pun pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 terjadi kesumpekan postingan negatif yang seliweran di media sosial dan media massa pun malah ikut memanas-manasi.

Seperti globalisasi yang diperlihatkan Portugis yang menghancurkan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan gaya meriam atau lempar batu sembunyi tangan, sesungguhnya hari ini pun telah terjadi hal yang sama.

Bedanya meriam digantikan dengan akun fiktif yang digunakan untuk menyerang lawan-lawannya. Bahkan hal-hal yang keluar dari saluran media massa sendiri pun publik tak serta merta dapat mengidentifikasi subjek yang melemparkan isu tersebut. Dengan bahasa lain, Cak Nun menyamakan mereka yang kerap menyerang dari kejauhan sebagai masyarakat gunung.

“Jadi ini semua adalah masyarakat gunung yang berperang pake panah. Anda sekarang mau ikut atau tidak? Anda mau lempar-lempar juga? Anda mau bikin akun abal-abal untuk ngacau-ngacau? Atau anda akan jantan, kalau wani dep-depan, teko rene, ayo gelut (kalau berani sini hadap-hadapan, datang ke sini, ayo berkelahi -red),” jelas Cak Nun.

Cak Nun kemudian menyindir, pihak-pihak yang tak berani bertempur secara berhadapan-hadapan, apalagi membuat kacau dunia medsos namun menggunakan akun bodong adalah kelompok dari sebuah peradaban yang pengecut.

“Rudal, medsos, media massa semua adalah gambaran dari sebuah peradaban pengecut. Dimana mereka tak berani tampil dengan muwajahah, muka sama muka,” kata Cak Nun.

“Kalau anda terlalu menikmati medsos, lama-lama anda akan terseret untuk menjadi orang pegunungan yang tak berani bawa pedang di hadapan musuhmu yang juga bawa pedang. Kamu hanya melempar dari jauh kemudian pura-pura tak ikut apa-apa,” lanjut Cak Nun mengingatkan.

Dan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Akan datang kepada kalian masa yang penuh dengan tipu daya; ketika orang-orang akan mempercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran. Mereka mempercayai para pengkhianat dan tidak mempercayai para pembawa kebenaran. Pada masa itu, ruwaibidhah akan berbicara.” Mereka bertanya, “Apakah itu ruwaibidhah?” Rasulullah berkata, “Ruwaibidhah adalah orang-orang bodoh (yang berbicara) tentang urusan umat.”

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *