Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 10 May 2016

OPINI–Mungkinkah Ahok Meniru Yang Xion, Walikota Shanghai?


wp-1462816476659.jpg

image

Islamindonesia.id–Mungkinkah Ahok Meniru Yang Xion, Walikota Shanghai?

Bila ingin tahu seberapa kaya diri Anda, bertanyalah ke diri sendiri: Sudahkah Shanghai menjadi tempat impian investasi properti Anda? Jika ya, Anda kemungkinan termasuk orang kaya di antara orang-orang paling kaya Indonesia. Apa pasal? Sederhana saja, sebenarnya. Shanghai adalah jantung perekonomian China. Berpenduduk 24 juta orang, dua kali lipat populasi Jakarta, megapolitan ini adalah salah satu pasar properti termahal di dunia.

Di Guangfuli, misalnya, kawasan strategis di salah satu sudut kota, mungkin sekelas kawasan padat penduduk di Palmerah, harga tanah per Maret silam telah mendekati US$ 12.000 per meter persegi, kata Reuters dalam sebuah laporan pekan lalu. Dengan kurs Rp 13.000, angka itu setara Rp 156 juta per meter persegi. Katakanlah Anda mengidamkan punya rumah mungil dan manis seukuran rumah sederhana tipe terkecil 21, di Shanghai Anda paling tidak harus merogoh Rp 3,2 miliar – untuk tanah saja.

Fantastis, bukan? Okey, tapi apa hubungannya dengan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama? Hmm, mari lupakan sejenak pengapnya hawa politik berbau rasisme jelang pemilu raya di Jakarta. Ini justru cerita membesarkan hati. Ini kisah betapa di sebuah megapolitan dunia yang jauh lebih berpendar dari Jakarta – Shanghai, kota paling makmur di China, dengan koleksi lebih dari 130 gedung pencakar langit (high rise building) dimana setengah lusin lebih di antaranya setinggi di atas 300 meter, orang-orang kecil masih punya ruang untuk keras kepala di hadapan kuasa gergasi real estate.

Perkenalkan Luo Baocheng. Dia warga Guangfuli. Di kawasan itu, padat dan sesak dengan rumah-rumah liliput warga miskin, dia menetap di sebuah bangunan mungil berlantai tiga bersama seorang saudara laki-lakinya. Rumah itu warisan orang tuanya.

image

Dia terbilang beruntung. Tetangganya, Bian Jianhua (48), hidup serumah dengan ibu kandungnya di sebuah rumah berukuran 20 meter persegi. Tetangga lainnya, semisal Jiang Wei, kondisinya bahkan lebih teruk lagi. Dia bukan warga asli. Dia hanya mengontrak sebuah rumah enam meter persegi bersama seorang rekannya. Harga sewanya 450 yuan (Rp 950 ribu) per bulan.

Dramanya adalah rumah Baocheng, dan berpuluh rumah warga miskin lainnya, kini menjadi biang paradoks besar di Shanghai. Duduk perkaranya adalah gergasi properti di sana, sejak booming real estate di Shanghai di paruh pertama tahun 1990-an, telaten membeli sejengkal demi sejengkel tanah di seputaran kawasan dan memancang tak terhitung kondominium mewah di atasnya. Guangfuli lalu bersalin wajah dengan cepat, tapi penuh bopeng di sana-sini lantaran masih ada rumah-rumah liliput yang belum tergusur. Belakangan, kawasan terlihat tak ubahnya pemukiman yang habis kena bombardir. Rumah penduduk yang berkeras tak menjual tanahnya tetap tegak sendiri, di saat perusahaan properti telah merubuhkan banyak rumah di sekelilingnya.

Di seantero China, rumah-rumah sejenis disebut dingzihu, letterlet berarti “rumah paku”, lantaran tegak sendiri laiknya paku.

image

image

image

Menurut Baocheng, dia dan banyak tetangganya berkeras tak menjual tanah lantaran Xinhu Zhongbao Co. Ltd., raksasa properti yang sahamnya diperjualkan di bursa Shanghai, mungkin sekelas Agung Podomoro di Jakarta, menolak membayar ganti rugi yang layak. Khusus rumah mungilnya yang berlantai tiga itu, dia pasang harga 4,2 juta yuan (sekitar Rp 5,8 miliar). “Mereka bilang saya tidak punya sertifikat rumah yang sah,” katanya masygul. “Padahal saya sudah tinggal di sini 32 tahun.”

Xinhu bukannya tak membuka ruang negosiasi. Mereka pernah menawarkan opsi tukar guling. Baocheng melepas rumahnya ke pengembang dan, sebagai gantinya, dia berhak menempati apartemen yang ‘layak’ di lingkungan yang lebih ‘sehat’ di distrik yang berbeda. Boacheng mau-mau saja. Persoalannya, katanya, pengembang mewajibkan dia menombok 1,18 juta yuan (sekitar Rp 2,3 miliar).

“Dimana kami bisa dapat uang sebanyak itu?” katanya seperti dilansir Reuters pekan lalu. “Saya sudah pensiun sementara saudara lelaki saya kena PHK.”

Seperti di Jakarta, buldozer pengembang properti kerap masih terlalu kuasa di hadapan orang-orang kecil kota. Buktinya Shanghai, terletak di mulut Yangtze, sungai terpanjang di China, dalam hitungan belasan tahun sukses bersalin wajah dari sebuah kota perdagangan di pinggiran sungai menjadi megapolitan dunia sekelas Hong Kong dan Singapura.

Tapi orang-orang seperti Baocheng masih boleh bersyukur. Walikota Shanghai, Yang Xion, masih memberi pilihan dan ruang kebebasan bagi orang-orang kecil seperti Baocheng untuk eker-ekeran dengan perusahaan properti. Boacheng sendiri, setelah 16 tahun, memilih tetap jadi kepala batu, hidup apa adanya di tengah kota yang kian tak menganggapnya sebagai bagian dari gerak maju kemoderenan. Jika Anda ingin tahu seberapa kekayaan Anda, terbanglah ke Shanghai dan lihatlah bagaimana pemerintah kota di sana, yang notabene berasaskan Komunisme, memperlakukan orang-orang kecil seperti Baocheng.

Nah, pertanyaannya: Mungkinkah Ahok Meniru Yang Xion, Walikota Shanghai? []

RQ/IslamIndonesia/Reuters/TheGuardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *