Satu Islam Untuk Semua

Friday, 24 January 2014

Hikayat Yun Chui dan Orang Arab


googlepicture

Kisah permusuhan berujung persahabatan antara seorang kaisar Tiongkok dengan sahabat Nabi Muhammad Saw.

 

Beberapa waktu lalu, seorang kawan baru saja berkunjung ke daratan Tiongkok. Selama di negeri tirai bambu tersebut, ia sempat melancong ke  Guangzhou atau orang-orang kita menyebutnya Kanton, sebuah kota dagang tua yang terletak di Provinsi Guangdong.Di sanalah ia mengalami suatu peristiwa yang baginya sangat luar biasa: berkunjung sekaligus ziarah ke makam Sa’ad ibn Abi Waqqash. Lantas bagaimana bisa makam salah seorang sahabat terkemuka Nabi Muhammad Saw. itu ada di wilayah orang-orang Tiongkok?

Cerita itu bermula dari tahun 643, saat Khosru Yezdegrid III yang kalah perang tengah menjadi buronan politik pasukan Arab Islam pimpinan Khalifah Utsman ibn Affan. Dalam pelariannya, raja dari Kekisraan Persia itu kemudian meluputkan diri ke Changan, ibukota Kekaisaran Tiongkok di era Dinasti Tang (618-907) dan meminta suaka kepada Kaisar Tai Sung. Bahkan bukan hanya meminta perlindungan politik, Yezdegrid III pun malah meminta kaisar kedua Dinasti Tang itu untuk membantu dirinya memerangi orang-orang Arab Islam yang sudah menghancurkan kekuasaannya atas Persia.

Kaisar Tai Sung sesungguhnya sudah mengetahu kabar gerakan spartan orang-orang Arab di barat Pegunungan Thian Shan itu. Namun untuk melibatkan diri dalam konflik Persia-Arab Islam, ia tak ingin gegabah. Dalam buku Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, disebutkan sang kaisar lantas mengirimkan para telik sandi-nya ke wilayah Soghdia dan Ferghana (dua wilayah Dinasti Tang di dekat Iran) untuk memata-matai gerakan pasukan Arab Islam di perbatasan. Hasilnya: “Tai Sung mengambil keputusan untuk tidak melibatkan Tiongkok menghadapi sebuah bangsa yang menurut para telik sandinya memiliki sikap militan yang mengangumkan…”tulis Joesoef Sou’yb di buku tersebut.

Enam tahun kemudian, Tai Sung meninggal dunia.Ia kemudian digantikan oleh salah seorang putranya yang bernama Yun Chui alias Kao Tsung atau Gaozong. Berbeda dengan sang ayah, kaisar muda ini dikenal sangat ambisius dan memiliki keinginan kuat untuk melakukan ekspansi ke wilayah di luar Soghdia dan Ferghana. Pucuk dicinta ulam tiba, ambisi Yun Chui berkelindan dengan nafsu Yezdegrid III untuk membalaskan dendamnya ke pasukan Arab Islam. Singkatnya, Yun Chui mengabulkan permintaan Yezdegrid III untuk melibatkan diri dalam peperangan melawan bangsa Arab Islam dengan melengkapi logistik dan persenjataan sisa-sisa pengikut Yezdegrid III.

Saat berangkat menuju Ferghana, pergerakan pasukan Persia (sisa-sisa pengikut Yezdegrid III) berhasil dilacak oleh intelijen Jenderal Abdullah ibn Amir. Gubernur Arab Islam untuk wilayah Iran itu lantas melaporkan temuan tersebut ke Khalifah Utsman ibn Affan di ibukota Madinah al Munawwarah.

Beberapa waktu kemudian, intruksi dari pusat pun tiba dengan perintah: Jenderal Abdullah ibn Amir harus menghancurkan pergerakan tersebut. Langkah pertama yang dilakukan oleh jenderal Arab itu adalah memutuskan pergerakan pasukan Yezdegrid III dengan menggunakan strategi hit and run. Maka dibentuklah unit-unit kecil (al-siryat)  yang bertugas mengganggu perjalanan pasukan Yezdegrid III.

Demi menghadapi teror serangan mendadak sepanjang perjalanan, pasukan Persia menjadi ciut nyalinya.Mereka yang sesungguhnya sudah tak memiliki nafsu untuk berperang (karena terbiasa hidup mewah di bawah jaminan Kekaisaran Tiongkok) tak bisa berbuat apa-apa. Pendeknya, kondisi moral pasukan Persia ada dalam situasi hancur lebur. Kondisi ini dimanfaatkan secara ciamik oleh Jenderal Abdullah ibn Amir untuk menyelesaikan satu persatu konsentrasi pasukan lawan hinga hancur lebur.

“Yezdegried III sendiri akhirnya mati dibunuh pasukannya dan mayatnya secara tragis dilempar ke Sungai Amu Darya sebelum mereka menyerah kepada pasukan Arab Islam…” demikian The Historians’ History of the World jilid VIII mengisahkan.

Namun jauh sebelum kematian Yezdegrid III, Khalifah Utsman telah mengutus serombongan orang  Arab pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Tujuannya selain untuk menawarkan persahabatan juga sekaligus mengingatkan Kaisar Yun Chui untuk jangan coba ikut campur persoalan konflik Arab Islam-Persia. Sejarawan Muslim Tiongkok bernama Badruddin al Chini mengutip keterangan Chiu Tangsu Shu dari The Old Tangshu yang menceritakan kedatang delegasi Arab di ibu kota Changan pada 651.

” Setelah mempersembahkan berbagai hadiah untuk kaisar, dengan sikap agung dan percaya diri, Sa’ad  mengenalkan asal muasal mereka: Raja kami bergelar Amirul Mukminin dan pemerintahannya sudah berdiri semenjak 24 tahun dan sampai dewasa ini telah memerintah 3 raja,” demikian seperti dikutip Badruddin dalam Chini Musulmans.   

Empat tahun kemudian, tak lama setelah tewasnya Yezdegrid III, serombongan delegasi Arab Islam yang masih dipimpin Sa’ad kembali menghadap Yun Chui. Selain memberikan hadiah, kali ini ucapan mereka disertai kalimat-kalimat bernada “ancaman tersembunyi”: “Negeri kami ada di sebelah barat Iran yang telah kami taklukan bersama Syam (Suriah). Kami memiliki kekuatan militer sejumlah 4.200.000 prajurit. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi perjalanan kami…”demikian seperti dituliskan oleh  Chiu Tangsu Shu dalam The New Tang Shu.

“Ancaman” Kekhalifahan Arab Islam ditanggapi secara serius oleh Yun Chui. Di tengah terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang melanda negerinya, adalah keputusan yang wajar jika Yun Chui kemudian memilih persahabatan dibanding harus menambah musuh yang kuat. Sejak itulah, persahabatan Tiongkok-Arab Islam berlangsung baik. Itu ditandai dengan didirikannya sejenis kedutaan besar  Arab Islam di wilayah Kanton pimpinan Sa’ad.

Seiring semakin ramainya pedagang Arab Islam datang ke wilayah Kanton, maka Sa’ad mengajukan permohona kepada Yun Chui untuk mendirikan masjid. Kendati Sa’ad bersahabat dengan Yun Chui, permohonan itu tidak serta merta dikabulkan oleh sang kaisar.

Sebelum memutuskan, Yun Chui lantas membuat tim riset untuk meneliti tentang Islam dan ajarannya. Beberapa bulan kemudian riset itu selesai dan menyajikan data menarik bahwa Islam hampir mirip dengan Konfusianisme atau Kong Hu Cu (agama monotheisme yang dianut oleh mayoritas orang Cina saat itu). Para periset kekaisaran menyebut Islam sebagai Yi si lan Jiao atau Qing Zhen Jiao (agama yang murni). Mereka pun menyebut Mekah sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-hia-wu (atau Rasulullah Muhammad SAW).

Dalam A Brief Study of the Introduction of Islam to China, bahkan disebut-sebut Yun Chui pada mulanya tertarik untuk memeluk agama orang-orang Tashih (Arab). Namun merasa bahwa kewajiban shalat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu berat baginya pada akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. “Kendati demikian, Yun Chui mengizinkan Sa’ad dan orang-orang Tashih lainnya untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat Guangzhou…” tulis Chen Yuen dalam buku tersebut.

Sa’ad sendiri konon memutuskan untuk tinggal di Guangzhou. Atas izin Yun Chui, ia kemudian mendirikan Masjid Wai-Shin-zi atau sekaran dikenal sebagai Masjid Huaisheng. Wai-Shin-zi sendiri berarti “kenangan dari Nabi. “Rupanya Sa’ad yang pernah begitu dekat dengan Nabi menamakan masjid itu berdasarkan kenangannya terhadap sang nabi…”tulis Lui Tschih dalam Chee Chea Sheehuzzo (diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam judul Life of the Prophet)

Masjid Huaisheng kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah perkembangan Islam di Tiongkok. Selanjutnya masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Konon di sana pula jasad Sa’ad dikebumikan seperti yang diyakini oleh orang-orang, termasuk kawan saya itu.

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *