Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 22 May 2016

SEJARAH–Inilah Bukti Islam bukan ‘Barang Baru’ di Tanah Papua


Islam Bukan Hal Asing dan Barang Baru di Tanah Papua

IslamIndonesia.id–Inilah Bukti Islam bukan ‘Barang Baru’ di Tanah Papua

Tahukah Anda bahwa sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Papua sudah berlangsung sejak lama?

Berdasarkan catatan sejarah tersebut, ada sejumlah kerajaan Islam di Papua, yaitu: (1) Kerajaan Waigeo (2) Kerajaan Misool (3) Kerajaan Salawati (4) Kerajaan Sailolof (5) Kerajaan Fatagar (6) Kerajaan Rumbati (terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar) (7) Kerajaan Kowiai (Namatota) (8) Kerajaan Aiduma dan (9) Kerajaan Kaimana.

Sementara berdasarkan sumber tradisi lisan dari keturunan raja-raja di wilayah Raja Ampat-Sorong, Fakfak, Kaimana dan Teluk Bintuni-Manokwari, Islam sudah lebih awal datang ke daerah ini.

Ada beberapa pendapat atau versi mengenai sejarah awal kedatangan Islam di Papua. Pertama, Islam datang di Papua tahun 1360 yang disebarkan oleh mubaligh asal Aceh, Abdul Ghafar. Pendapat ini juga berasal dari sumber lisan yang disampaikan oleh putra bungsu Raja Rumbati ke-16 (Muhamad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati ke-17 (H. Ismail Samali Bauw).  Versi ini menyebut Abdul Ghafar berdakwah selama 14 tahun (1360-1374) di Rumbati dan sekitarnya hingga ia wafat dan dimakamkan di belakang mesjid kampung Rumbati pada tahun 1374.

Kedua, pendapat yang menjelaskan bahwa agama Islam pertama kali mulai diperkenalkan di tanah Papua, tepatnya di jazirah Onin (Patimunin-Fakfak) oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab. Pengislaman ini diperkirakan terjadi pada pertengahan abad ke-16, dengan bukti adanya Mesjid Tunasgain yang berumur sekitar 400 tahun (kemungkinan dibangun sekitar tahun 1587).

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa dakwah Islam di Papua, khususnya di Fakfak, dikembangkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda dan Seram Timur, salah satunya pedagang Arab bernama Haweten Attamimi yang telah lama menetap di Ambon. Proses pengislaman itu dilakukan dengan cara khitanan. Di bawah ancaman penduduk setempat jika orang yang disunat mati, kedua mubaligh akan dibunuh, namun akhirnya mereka berhasil dalam khitanan tersebut sehingga penduduk setempat berduyun-duyun masuk Islam.

Keempat, pendapat yang mengatakan Islam di Papua berasal dari Bacan. Pada masa pemerintahan Sultan Mohammad al-Bakir, Kesultanan Bacan mencanangkan syiar Islam ke seluruh penjuru negeri, seperti Sulawesi, Fiilipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Menurut Thomas Arnold, Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam adalah Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521. Pada masa ini Bacan telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau di sebelah barat lautnya, seperti Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati. Sultan Bacan kemudian meluaskan kekuasaannya hingga ke semenanjung Onin Fakfak, di barat laut Papua tahun 1606. Melalui pengaruhnya dan para pedagang Muslim, para pemuka masyarakat di pulau-pulau kecil itu lalu memeluk agama Islam. Meskipun pesisir menganut agama Islam, sebagian besar penduduk asli di pedalaman masih tetap menganut animisme.

Kelima, pendapat yang mengatakan bahwa Islam di Papua berasal dari Maluku Utara (Ternate-Tidore). Sumber sejarah Kesultanan Tidore menyebutkan bahwa pada tahun 1443 Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X atau Sultan Papua I) memimpin ekspedisi ke daratan tanah besar (Papua). Setelah tiba di wilayah Pulau Misool dan Raja Ampat, kemudian Sultan Ibnu Mansur mengangkat Kaicil Patrawar putera Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi ). Kapita Gurabesi kemudian dikawinkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah.

Dari situlah kemudian berdiri empat kerajaan di Kepulauan Raja Ampat tersebut, yakni Kerajaan Salawati, Kerajaan Misool atau Kerajaan Sailolof, Kerajaan Batanta, dan Kerajaan Waigeo.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses Islamisasi di tanah Papua, terutama di daerah pesisir barat pada pertengahan abad ke-15, dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan Islam di Maluku (Bacan, Ternate dan Tidore). Hal ini didukung faktor geografisnya yang strategis, yang merupakan jalur perdagangan rempah-rempah (silk road) di dunia.

Beberapa bukti lain berupa peninggalan sejarah juga terdapat di beberapa wilayah Papua.

Daerah Fakfak dan Kaimana

Di daerah Fakfak dan Kaimana terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya: tiga mesjid kuno, masing-masing Mesjid Tunasgain di kampung Tunasgain, distrik Fakfak Timur, Mesjid Tubirseram di pulau Tubirseram, dan Mesjid Patimburak di kampung Patimburak. Selain bukti mesjid-mesjid tersebut, terdapat juga bukti lain berupa naskah-naskah kuno.

Di kota Fakfak, masih tersimpan 5 (lima) buah manuskrip berumur 800  tahun berbentuk kitab dengan berbagai ukuran yang diamanahkan kepada Raja Patipi XVI (H. Ahmad Iba). Manuskrip tersebut berupa mushaf Al-Qur’an yang berukuran 50 cm x 40 cm. Mushaf ini bertulis tangan di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti kitab zaman sekarang. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab  hadis, ilmu  tauhid dan kumpulan doa. Ada tanda tangan dalam kitab  itu berupa gambar  tapak tangan dengan jari terbuka. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke. Sedangkan tiga manuskrip berikutnya dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah.  Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip manuskrip daun lontara (Fakfak: daun pokpok).

Berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, inilah 5 (lima) manuskrip pertama yang masuk ke Papua yang dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudera Pasai untuk melakukan perjalanan dakwah ke pulau Nuu War (Fakfak: Papua) tepatnya di daerah Mesia atau Mes, kini distrik Kokas kebupaten Fakfak pada tanggal 17 Juli 1214 M.

Beberapa tahun kemudian bencana tsunami menenggelamkan Mes, sehingga menyebabkan sebagian penduduk dan seluruh kerajaan Mes habis musnah, termasuk mesjid dan isinya tenggelam ke dasar laut, kecuali kelima manuskrip tersebut yang diselamatkan Syekh Iskandar Syah dan disimpan di Aceh oleh keturunannya yang bernama Burhanuddin.

Daerah Raja Ampat

Di daerah Raja Ampat terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya ialah: Living Monument (mesjid-mesjid) dan Dead Monument (makam-makam Islam lama). Setidaknya ada 2 makam yang terbuat dari tembok setinggi 50 cm berbentuk persegi. Makam yang besar  berukuran panjang 610 cm, lebar  340  cm, makam-makam  yang  lain  berupa tumpukan  batu  yang disusun persegi panjang,  tetapi tidak ditemukan  data  sejarah yang jelas,  karena  nisan yang terbuat dari  kayu  telah  rusak. Dari informasi penduduk setempat, didapat informasi bahwa semua guru-guru agama yang dimakamkan di tempat itu berasal  dari Tidore dan Ternate.

Kepulauan Mansinam Manokwari

Di daerah Manokwari terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya: salinan manuskrip yang aslinya berbahasa Tidore dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Selain itu, masih ada bukti fisik berupa benda kuno di antaranya; Teks khotbah berhuruf Arab berbahasa Melayu bertarikh tanggal 28 Rajab tahun 1319 M;  Kitab Maulid Geser, dibeli oleh Raja Rumbati Muhammad Sidik Bauw abad XV; dan Kitab Barzanji yang ditulis 5 Ramadlan 1622 M.

Selain bukti peninggalan fisik, dapat diketahui pula corak Islami atau kehidupan sosio-kultural masyarakat di beberapa wilayah tanah Papua:

Daerah Kepulauan Raja Ampat di daerah Sorong. Selain tercatat dalam sejarah sebagai bagian dari Kekuasaan Kesultanan-Kesultanan di Maluku (Tidore, Ternate, Halmahera, dan Bacan), secara geografis daerah ini juga merupakan jembatan darat multi fungsi yang menghubungkan daerah Papua dengan daerah-daerah (Islam) di kawasan Timur Indonesia.

Sejak terbentuknya masyarakat Muslim, baik di Semenanjung Onin,  Kowiai (Kaimana),  maupun kepulauan Raja Ampat, pada umumnya telah  dilaksanakan prosesi perkawinan sesuai ajaran Islam. Di pulau Misool pun pernikahan dilaksanakan berdasarkan pada hukum perkawinan dan tata cara sesuai dengan ajaran Islam. Dalam acara lamaran disertai dengan acara pembayaran maskawin dilakukan menurut adat dan tradisi setempat, namun dalam ikrar (ijab-kabul) pernikahan selalu dilakukan  berdasarkan  tata cara hukum  Islam. Pengaruh Islam juga terlihat nyata dalam perilaku masyarakat Waigeo dalam masalah perkawinan. Mereka yang berkelas bangsawan dan beragama Islam, melakukan sistem perkawinan bersifat endogem dengan adat perkawinan sepupu silang  (cross cousin marriage). Mereka melakukan sistem perkawinan ini setelah masyarakat memeluk Islam, bukan merupakan unsur budaya asli  mereka.

Di bidang sosisal, pengaruh Islam tampak dalam berbagai kegiatan  seremonial bersifat ritual, seperti upacara yang berkaitan dengan perkawinan, kelahiran, sunatan, pembangunan  rumah baru, memasuki  rumah baru, kesemuanya ini diwujudkan dengan pembacaan kitab barzanji.

Daerah Fakfak dengan sejumlah Adat Raja-Raja atau Petuanan yang dimilikinya. Hampir seluruh daerah Petuanan di Fakfak ini amat kental dengan nuansa Islamnya. Hal ini berarti bahwa agama Islam telah amat lama berkembang dan hidup di tengah-tengah masyarakat setempat.

Daerah Biak-Numfor. Ketika terjadi gejolak masyarakat di daerah Maluku utara, diketahui bahwa terdapat jumlah masyarakat asal Biak yang telah beberapa generasi menetap di daerah Maluku utara tersebut. Konon kehadiran mereka di sana karena faktor ikatan psikologis-kultrural. Dahulunya mereka berada dalam naungan satu kekuasaan yang sama: Sultan Tidore. Demikian pula adanya gelar-gelar jabatan yang kini telah berubah menjadi nama Keluarga (fam), yang dahulunya berasal dari Sultan, membuktikan bahwa di Biak terdapat jejak dakwah Islam yang bisa dilacak lebih lanjut.

Daerah Manokwari, baik di sekitar Manokwari maupun daerah pedalaman yang termasuk daerah kabupaten ini. Sebut saja salah satu daerah di Pulau Mansinam, tempat banyak dijumpai dokumen tertulis yang juga layak diteliti lebih lanjut kebenaran isinya.

Daerah Jayapura, terutama daerah seputar pusat kota. Terdapat sejumlah nama daerah yang bernuansa Islami, misalnya nama desa Hamadi, Tobati maupun Nafri. Begitu pula nama desa Gurabesi, yang konon diambil dari nama moyang penguasa Kepulauan Raja Ampat, salah seorang panglima Sultan Tidore abad XV.

Itulah sekelumit di antara sekian banyak bukti-bukti sejarah bahwa Islam sama sekali bukan hal “asing” dan “barang baru” di Tanah Papua.[]

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *