Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 10 November 2018

Pemimpin Houthi: Kami Menginginkan Perdamaian untuk Yaman


Armed tribesmen, loyal to the Shiite Huthi rebels, brandish their weapons at a gathering in the capital Sanaa to mobilize more fighters to battlefronts to fight pro-government forces in several Yemeni cities, on June 20, 2016.
The Shiite Huthi rebels and their allies overran the capital Sanaa in September 2014 and went on to seize control of several regions, forcing President Abedrabbo Mansour Hadi to flee to Saudi Arabia.

 / AFP PHOTO / MOHAMMED HUWAIS

islamindonesia.id – Pemimpin Houthi: Kami Menginginkan Perdamaian untuk Yaman

 

Oleh Muhammad Ali al-Houthi | Kepala Komite Revolusioner Tertinggi Houthi Yaman

 

Terus meningkatnya serangan terhadap kota pelabuhan Hodeida di Yaman oleh koalisi Amerika Serikat-Emirat-Arab menegaskan bahwa seruan Amerika untuk gencatan senjata tidak lain hanyalah omong kosong. Pernyataan terbaru (dari Amerika) dimaksudkan untuk membodohi dunia. Pemimpin Saudi gegabah dan tidak berminat terhadap diplomasi. Amerika Serikat memiliki pengaruh untuk mengakhiri konflik – tetapi ia telah memutuskan untuk melindungi sekutunya yang korup.

Setiap pengamat kejahatan Arab Saudi yang dilakukan di Yaman – sebuah serangan yang telah disertai dengan disinformasi dan blokade para jurnalis yang mencoba untuk meliput perang – dapat memberikan penjelasan tentang pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap ribuan warga sipil, sebagian besar melalui serangan udara. Serangan mereka telah menyebabkan krisis kemanusiaan terbesar di muka bumi.

Kebrutalan rezim Saudi tercermin dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Dan itu dapat dilihat (juga) dari meningkatnya (serangan) militer dan udara di Hodeida dan kota-kota lainnya, yang mana menyimpang dari semua peringatan internasional.

Blokade kota pelabuhan dimaksudkan untuk membuat orang-orang Yaman tunduk kepada mereka. Koalisi menggunakan kelaparan dan kolera sebagai senjata perang. Ia juga memeras Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan mengancam untuk memotong dana mereka, seolah-olah itu adalah sebuah pemberian dan bukan tanggung jawab yang diwajibkan menurut hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan.

Amerika Serikat ingin dilihat sebagai mediator yang berintegritas – tetapi pada kenyataannya turut berpartisipasi dan terkadang memimpin agresi di Yaman.

Kami membela diri – tetapi kami tidak memiliki pesawat tempur seperti yang digunakan untuk mengebom Yaman dengan amunisi terlarang. Kami tidak dapat mencabut blokade yang dikenakan terhadap impor dan ekspor Yaman. Kami tidak dapat membatalkan embargo udara dan mengizinkan penerbangan harian, atau mengakhiri larangan mengimpor komoditas pokok, obat-obatan, dan peralatan medis dari tempat lain kecuali dari Uni Emirat Arab, sebagaimana yang dikenakan terhadap para pelaku bisnis Yaman.

Dan catatan itu terus berlanjut. Praktik represif ini membunuh dan menghancurkan Yaman.

Yaman bukanlah yang menyatakan perang pertama kali. Bahkan Jamal Benomar, mantan utusan PBB untuk Yaman, mengatakan bahwa kami hampir mencapai kesepakatan pembagian kekuasaan pada 2015 yang (menjadi) terputus karena serangan udara koalisi. Kami siap untuk menghentikan (serangan) misil jika koalisi pimpinan Saudi menghentikan serangan udara.

Tetapi seruan Amerika Serikat untuk menghentikan perang di Yaman tiada lain hanyalah cara untuk menyelamatkan muka setelah penghinaan yang dilakukan oleh Arab Saudi dan pemimpinnya yang buruk, Putra Mahkota Muhammad bin Salman, yang telah mengabaikan permintaan Washington untuk menjelaskan pembunuhan Khashoggi.

Terlebih, Trump dan pemerintahannya jelas lebih memilih untuk melanjutkan perang yang menghancurkan ini karena keuntungan ekonomi yang dihasilkannya – mereka tergiur atas keuntungan penjualan senjata.

Kami cinta damai – yaitu jenis perdamaian terhormat yang dipertahankan oleh pemimpin revolusi kami, Abdulmalik al-Houthi. Kami siap untuk berdamai, kedamaian dari para pemberani. Insya Allah, Yaman akan tetap menjadi penyeru perdamaian dan pecinta perdamaian.

 

PH/IslamIndonesia/Sumber: The Washington Post/Photo: AFP, Mohammed Huwais

One response to “Pemimpin Houthi: Kami Menginginkan Perdamaian untuk Yaman”

  1. sasa says:

    lebay bgt tu Houthi, operasi penghilang an oposisi atw pengkritik pemerintah itu kan udah biasa di negara lain, dulu di Indonesia saat era Soeharto juga ada, Saudi bkn negara demokrasi, di Iran operasi ke pembunuhan oposisi jg ada, Yg mengkritik Khomeini aja di penjara,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *