Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 03 July 2016

OPINI–Mencoba Memahami Manifestasi Tuhan ala Rumi


rumi-islamindonesia.id

Islamindonesia.id–Mencoba Memahami Manifestasi Tuhan ala Rumi

parni_hadi_islamindonesia.id

Oleh Parni Hadi

Berpegang teguh pada tauhid (keesaan Tuhan), Jalaluddin Rumi, mistikus besar Islam, berpendapat bahwa seluruh benda yang tergelar di jagat raya ini adalah manifestasi (tajalli) atau pengejawantahan Tuhan. Allah tidak mewujud, tapi meliputi seluruh wujud, begitu antara lain tertulis dalam “Fihi ma Fihi”, salah satu kumpulan karya sastra sufistiknya.

Dengan maksud yang sama, orang Jawa mengatakan: “Gusti Allah ora maujud, nanging nglimputi sakehing wujud”. Rumi juga mengatakan, Tuhan tidak dapat dibayangkan seperti apa. “Apa pun bayangan Anda tentang Tuhan, Ia berbeda dengan itu”, begitu konsep awal kaum sufi.

Ki Narto Sabdo, almarhum, dalang jenius asal Klaten, Jawa Tengah, menceritakan kerumitan memahamai manifestasi Tuhan itu dengan cangkriman (teka-teki) guyonan antara punakawan Petruk dengan cantrik (santri) Begawan Abiyasa. “Ana kanthi kang tansah kinanti-kanthi, nanging yen didumuk dudu” (Ada teman yang selalu (diajak) ikut serta, tetapi, jika diraba bukan).

“Apakah itu?”, tanya cantrik setelah pusing berpikir tujuh keliling. Jawab Petruk entheng (ringan): “Bayangan (ayang-ayang). Memang betul, bayang-bayang bukanlah eksistensi yang sebenarnya apa yang membayang. Orang Jawa menyimpulkan: “Gusti Allah tan keno, kinoyo ngopo (Allah, tidak bisa direka-reka)”. Tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Beyond intellect. Di luar jangkauan nalar.

Tapi, berdasar keyakinan keesaan Tuhan, Rumi mencoba merangkum berbagai pemahaman hasil rekaan manusia tentang Tuhan dengan mengatakan: “Apa pun pemahaman Anda tentang Tuhan, Dia mesti seperti itu, karena Tuhan adalah pencipta semua pemahaman itu”.

Seluruh makhluk Allah tidak sama dengan Dia, tetapi mereka tidak dapat lain daripada Dia. Begitu terungkap dalam “Fihi ma fihi”, yang juga diterjemahkan sebagai “It is what It is” atau “In it What is It” (Itu adalah Apa itu atau Di dalam Itu, Apa Itu”. Sebuah rumusan yang rumit, pelik untuk difahami oleh awam. Tapi, justru karena itu, sejumlah orang  tertarik untuk menelisik apa yang pelik itu.

Kesempatan untuk berbuat kebaikan

Berpedoman faham semuanya adalah manifestasi Tuhan, maka Rumi berpendapat, orang beriman memanifestasikan iman dan testimoni positif akan eksistensi Tuhan. Sebaliknya, kaum atheis juga manifestasi adanya Tuhan dengan penolakan akan adanya Tuhan. Dengan adanya penolakan itu, maka eksistensi Allah menjadi diketahui. Seperti gelap membuktikan adanya terang, buruk menjadi sarana untuk mengakui adanya baik. Semua kebalikan menjelaskan kebalikannya.

Allah bersifat Maha Baik, Maha Pengasih dan Penyayang. Hadirnya koruptor dan munculnya orang-orang yang anti korupsi adalah sunatullah, hukum Allah. Demikian pula dengan gerakan pemberantasan kemaksiatan. Aksi dan reaksi merupakan bagian dari manifestasi Allah sendiri, yang menyerukan manusia untuk melakukan amar makruf, nahi munkar (mengajak orang berbuat baik dan memerangi kebatilan).

Itulah  cobaan, ujian, tantangan dan peperangan dalam hati manusia sepanjang zaman, setiap detik untuk memilih berbuat baik atau sebaliknya. Di sinilah hikmah  berpuasa, yakni melatih manusia untuk mengendalikan nafsu pada waktu yang telah ditentukan. Beberapa hal yang halal pada waktu siang hari, yakni makan, minum dan menggauli istri pada siang hari, menjadi haram pada siang bulan Ramadhan.

Setelah berbuka puasa, semuanya itu menjadi halal kembali. Islam mengajarkan, pengendalian  hawa nafsu, bukan penghilangan hawa nafsu seperti ajaran agama lain. Nafsu adalah sunatullah dan dengannya manusia dan dunia berkembang.

Kejahatan dan hal-hal yang tidak baik membuka kesempatan bagi manusia untuk berbuat kebaikan dengan memerangi dan memperbaiki atau mengubahnya.

Tentang adanya orang kafir, Allah bersabda dalam Al-Qur’an, Surat Yunus, ayat 99, yang artinya: “Dan, kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Apakah engkau hendak memaksa manusia supaya menjadi orang-orang mukmin?” (QS 10;99).

Beriman atau tidaknya seseorang adalah atas perkenan Allah. Jika orang belum mendapat hidayah Allah, maka segala upaya untuk membuatnya beriman akan sia-sia. Sebaliknya, jika Allah sudah berkekendak, maka segalanya menjadi mudah. Dengan alasan yang mungkin tampak sederhana, seseorang dapat berubah akidah. Sesungguhnya, Allah itu Maha Mutlak dan Maha Berkehendak.

Dengan alasan untuk membantu agar orang-orang tidak pusing dan terjerumus dalam rumusan yang rumit, sejumlah guru agama menasehati: “Sudahlah, percaya saja Rukun Iman yang enam dan jalani dengan tekun Rukun Islam yang lima”. Rukun Iman meliputi: percaya adanya Allah, malaikat dan para utusan (rasul)-Nya, kitab-kitab suci-Nya, qadar (nasib baik dan buruk) dan Kiamat (Hari Akhir). Rukun Islam meliput: Syahadat, sholat, zakat, berpuasa dan menunaikan ibadah haji.

“Jalani saja syariat dengan tertib, nanti insya Allah akan sampai juga pada tahapan tarikat, hakikat dan makrifat atas perkenan Allah”, bunyi nasehat yang lain lagi. Tapi, adanya orang-orang yang berusaha mengetahui kegaiban Allah itu juga sunatullah. Kaum sufi dengan caranya sendiri meyakini: “Aku (Allah) adalah Perbendaharaan Tersembunyi, lalu Aku menciptakan makhluk, maka kepada Ku mereka mengenal”. Ini nampaknya merujuk Surat-Adz Dzariyaat, yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS 51:56). Wallahu a’lam bishshawwab.

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *