Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 15 May 2016

OPINI–Waspada Penyesatan Informasi


Hati Hati Misinformasi

IslamIndonesia.id–Waspada Penyesatan Informasi

Seringkali kesulitan memilih dan memilah berita mana yang layak atau tak layak dikonsumsi adalah salah satu di antara dampak tak terhindarkan ketika kita hidup di tengah banjir informasi. Jika tidak berhati-hati, kesalahan memilih dan memilah informasi itu pun bakal potensial menggiring kita ke dalam jebakan sistematis (atau algoritmis) “makhluk jahat” bernama filter bubble dan bubble information. Makhluk macam apakah keduanya ini?

Filter bubble atau sebut saja gelembung filter merupakan akibat dari ditanamnya algoritma di dalam mesin pencari semacam google.com yang berfungsi untuk mengkalkulasi jenis laman web yang sering kita buka, status FB yang pernah kita “like”, kicauan di Twitter yang biasanya kita “retweet”, sejarah pencarian (search history) yang pernah kita lakukan sebelumnya, yang nantinya akan digunakan sebagai bahan analisa oleh Google dan mesin pencari sejenisnya terkait apa yang kita sukai.

Maka jangan heran jika hasil pencarian yang kita lakukan di search engine itu akan disesuaikan dengan hasil analisa terhadap hal-hal yang mungkin kita sukai atau diperkirakan sesuai dengan selera kita. Itulah sebabnya, saat melakukan pencarian dengan keywords atau kata kunci yang sama, hasil yang didapatkan pun bisa berbeda antar individu di masing-masing PC/Laptop yang biasa digunakan individu tersebut. Biasanya, kita cenderung akan diarahkan pada informasi yang sesuai dengan “selera” kita dan terhindar dari informasi-informasi yang cenderung kurang kita sukai.

Dengan tertanamnya algoritma di setiap mesin pencari semacam ini, kita bisa lebih mudah menemukan objek yang selama ini memang telah menjadi kesukaan kita. Namun di sisi lain, wawasan kita secara otomatis ditutup terhadap informasi yang bertolak belakang dengan pemahaman kita selama ini. Risikonya, akan sulit bagi kita untuk mendapatkan wawasan yang tidak bias oleh apa yang sudah biasa kita yakini.

Lalu bagaimana halnya dengan bubble information?

Berbeda dengan gelembung filter, gelembung informasi ini adalah pembatasan informasi yang kita ciptakan sendiri. Ini terkait dengan kesukaan atau ketidaksukaan kita terhadap sesuatu, lalu cenderung membatasi diri pada sumber-sumber informasi yang sejalan dengan kesukaan atau ketidaksukaan kita itu. Bahkan, ketika menyimak sumber yang tidak “sesuai” dengan kita, akan ada kecenderungan kita untuk “membentengi diri” terhadap informasi yang akan kita terima. Artinya, tujuan menyimak sumber informasi yang sejak awal kita tahu memang tidak sepaham dengan kita tersebut justru dilakukan dengan niat semata-mata untuk mencari titik lemah yang nantinya kita anggap bakal berguna untuk memperkuat argumen awal kita, dan sudah bukan lagi bertujuan untuk mencari dan menemukan kebenaran dari sebuah informasi.

Secara sederhana, dampak dari jebakan gelembung informasi itu ibarat tumbuhnya perilaku seorang murid yang bertanya kepada gurunya bukan untuk mendapatkan jawaban darinya, melainkan hanya sekadar untuk mendebat jawaban guru tersebut agar sesuai dengan pemahaman atau pendapat awal si murid sendiri.

Sadar atau tidak, betapa banyak kita jumpai hal semacam ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Menjadi tren perilaku umum yang dilakukan banyak orang, tak terkecuali diri kita sendiri.

Meski demikian kaum Muslimin patut bersyukur karena sejak awal telah memiliki panduan yang jelas dalam Al-Qur’an terkait penyikapan yang benar terhadap informasi. Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Hujurat ayat 6, kepada setiap orang beriman diperintahkan untuk memeriksa dengan teliti setiap informasi yang diterimanya (apalagi bila datangnya informasi itu dari orang yang fasiq). Hal ini agar si Mukmin tidak terjerumus pada perbuatan tercela yang berakibat menimpakan musibah kepada suatu kaum akibat kebodohannya sehingga berujung pada penyesalan.

Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, semoga kita terhindar dari musibah misinformasi, baik dalam posisi selaku penyebar informasi sesat maupun sebagai korban, objek atau sasaran empuk informasi yang menyesatkan.[]

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *