Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 22 April 2018

Opini – Abdillah Toha: Rismaharini: Kartini Masa Kini


tri-risma-maharini-Surabaya-waklot-Konfrontasi_0

islamindonesia.id – Abdillah Toha: Rismaharini: Kartini Masa Kini

 

Kemarin kita memperingati hari Kartini. Tokoh sejarah perempuan Indonesia yang menginspirasi dan mendobrak perempuan Indonesia untuk maju. Hasilnya, sejak itu perempuan di negeri kita menjadi makin emansipatif dan sekarang kita dapati banyak perempuan hebat menduduki jabatan penting seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti dan banyak lagi.

Kita juga sudah menyaksikan wanita Indonesia saat ini mengisi berbagai profesi seperti pengusaha, profesor, politisi, ekonom, sampai kepada pilot, tentara, polisi dan lainnya. Bahkan kita pernah punya presiden perempuan.

Salah satu yang menonjol saat ini  adalah perempuan fenomenal yang bernama Tri Rismaharini atau lebih dikenal sebagai ibu Risma, walikota Surabaya sejak 2010. Inilah perempuan berprestasi dengan pikiran maju dan terbuka yang berhasil mengubah wajah Surabaya menjadi kota yang indah dan manusiawi. Pelayanan publik lebih efisien, berani menutup lokalisasi prostitusi yang berpuluh tahun tak ada yang sanggup melakukannya, jujur dan tak haus kekuasaan dengan menolak beberapa kali tawaran untuk maju sebagai gubernur DKI atau Jawa Timur.

Perempuan 57 tahun berjilbab yang taat beragama ini sepanjang riwayat pendidikannya tidak pernah masuk sekolah agama, pesantren, atau madarasah. SD Negeri di Kediri, SMP dan SMU Negeri di Surabaya, kemudian lulus sarjana arsitektur di Institut Teknologi 10 Nopember.

Tidak jelas apakah pernah ada ustad yang memberinya bimbingan agama atau orang tuanya yang mengambil alih sisi pendidikan agamanya yang membuatnya menjadi seorang muslimah yang taat. Bila ada ustad yang terlibat, akan menarik mengetahui bimbingan agama seperti apa yang diberikan dan apakah sisi pendidikan agamanya berkontribusi terhadap karakter dan keberhasilan ibu Risma.

Begitu pula bila kita perhatikan riwayat beberapa tokoh Republik yang berprestasi dengan warna Islamnya yang kental seperti HOS Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Mohammad Natsir. Ternyata semua mereka punya latar pendidikan sekuler kecuali Natsir yang belakangan memperdalam studi Islam di Bandung dibawah bimbingan Persis.

Barangkali hanya tokoh seperti Gus Dur yang lebih banyak berlatar belakang pendidikan agama dari pesantren sampai ke Al-Azhar dan seterusnya yang berhasil mencapai karier puncak dalam penyelenggaraan negara sebagai presiden RI, meski tidak sampai dua tahun. Gus Dur dan Nurcholis Majid bisa jadi adalah tokoh agama yang berprestasi luas diluar lingkup keagamaan karena minat, pengetahuan, dan wawasannya yang mencakup ilmu-ilmu diluar ilmu keagamaan yang dicapainya melalui upaya sendiri.

Lalu bagaimana nasib mereka yang hanya bergantung kepada pendidikan agama di madrasah, pesantren, dan mungkin sampai ke tingkat pendidikan tinggi agama? Dapatkah lembaga-lembaga pendidikan agama ini memproduksi orang-orang yang berprestasi dalam pelayanan masyarakat diluar profesi sebagai ustad, dai, atau guru agama?

Kita tidak tahu apakah sekolah-sekolah dan pendidikan tinggi Muhammadiyah atau Universitas Islam Indonesia dan sejenisnya masih bisa dikategorikan sebagai lembaga pendidikan Islam karena kenyataannya ilmu yang diajarkan sebagian besar adalah ilmu sekular dan hanya nama lembaganya saja yang membawa bendera Islam.

Atau memang sudah zamannya bahwa mereka yang ingin berprestasi dalam kehidupan masyarakat tidak memulainya dari sekolah agama tanpa harus kuatir akan menurunnya kualitas keberagamaannya yang bisa diperoleh dari orang tua atau pendidikan ekstra kurikuler?

Tri Rismaharini bukan ahli agama tapi beragama. Agama yang dipahaminya menjadikannya perempuan yang maju dan terbuka serta berhasil menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan bangsa dan umat. Kita menginginkan lebih banyak lagi Risma-Risma.

Wallah a’lam

 

0 responses to “Opini – Abdillah Toha: Rismaharini: Kartini Masa Kini”

  1. HD69124 says:

    Betul sekali, bahkan jauh lebih baik dari kedua menteri perempuan dalam kabinet kepresidenan sekarang. Artikelpun ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kartini MASA KINI.
    Banyak terimakasih Bapak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *