Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 05 May 2016

OPINI–Abdillah Toha: Al-Qu’ran dan Berhala Agama


AT2

Islalmindonesia.id–Al-Qur’an dan Berhala Agama

Salah satu esensi Islam adalah tauhid, keesaan Tuhan. Diungkapkan dalam nafas “La Ilaha Illallah”, artinya, tiada tuhan selain Allah. Sebagian ulama bahkan mengartikannya lebih jauh dengan “tiada segala sesuatu selain Allah”. Kosekwensinya, tiada sesuatu yang boleh disembah kecuali Allah.

Pada saat Rasulullah SAW menaklukkan kafir Quraish di Makkah, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah memusnahkan semua berhala sesembahan musyrik di dalam Ka’bah. Yaitu berhala-berhala hasil karya kaum musyrik yang dibuat dengan tangannya sendiri untuk kemudian disembahnya sendiri.

Berhala-berhala dalam Ka’bah itu adalah berhala dalam bentuk patung namun sebenarnya itu adalah simbol dari berhala-berhala lain yang non fisikal. Menyembah harta, menyembah pemimpin, menyembah ilmu dan teknologi, menyembah guru dan orang suci, bahkan menyembah ulama dan nabipun tidak dibenarkan oleh agama Islam karena tidak berbeda dengan menyembah patung dan karenanya pula  berarti menyekutukan Tuhan.

Menyembah dan menjadikan agama sebagai berhalapun dilarang oleh Islam karena agama bukanlah sesembahan tetapi jalan dan petunjuk hidup yang diwahyukan oleh Allah melalui utusannya untuk mendekatkan diri manusia kepada penciptanya dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Ketika kita memberhalakan agama maka sebenarnya kita telah menjadikan agama sebagai tujuan, bukan sebagai alat dan jalan menuju Allah.

Akibatnya kita akan puas dan merasa selesai dengan melaksanakan ritual agama tanpa menghayati apa tujuan sebenarnya dari beragama. Akibat lain, kita akan menjadikan agama bukan sebagai petunjuk tetapi sebagai kartu identitas diri yang harus dibela dan dipertahankan mati-matian demi keselamatan diri dan kelompok.

Agama lain akan dianggap sebagai penghalang dan ancaman, karenanya tidak boleh dibiarkan hidup dan dianggap membahayakan eksistensi kita. Agama tidak lagi menjadi sumber kedamaian dan ketenangan batin tetapi telah menjelma menjadi sumber konflik dan perpecahan.

Lebih jauh lagi dan lebih gawat ketika kita menyembah dan memberhalakan mazhab. Mazhab adalah interpretasi manusia tentang ajaran dan doktrin agama. Walaupun para pendiri mazhab adalah para ulama besar yang tak diragukan otoritas ilmu agamanya, namun tetap saja dia bukanlah tuhan yang sepenuhnya bebas dari kesalahan. Bahkan para ulama pencetus mazhab itu pada umumnya adalah manusia-manusia yang bersahaja, tawadhu’, dan rendah hati yang selalu menutup fatwanya dengan mengatakan wallah a’lam ( Allah lebih tahu).

Al-Qur’an sebagai dasar rujukan utama agama Islam banyak berisi prinsip-prinsip umum yang harus diterapkan pada setiap zaman dan tempat yang berbeda. Karenanya, perbedaan penafsiran diantara para ulama adalah hal yang wajar disebabkan oleh perbedaan waktu, tempat, perspektif, pendekatan, subyektifitas, budaya, dan lain hal. Oleh sebab itu, memutlakkan kebenaran mazhab dengan menyalahkan mazhab lain berarti telah manjadikan mazhab sebagai berhala dan ulama sebagai sesembahan kita.

Memahami Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an bagi seorang Muslim mendapat pahala, terutama ketika kita mampu membacanya dengan fasih dan merdu. Namun, memahami dan menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an meraih pahala yang lebih besar. Pahala yang lebih besar lagi diraih oleh Muslim yang membaca, berupaya memahami maknanya, dan sekaligus menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhkan diri dari segala laranganNya dalam rangka meraih jalan Islam yang lurus, jalan yang mendekatkan kita kepada Sang Pencipta.

Quran adalah wahyu Tuhan yang diturunkan bagi segenap umat manusia kepada Nabi terakhir, dan berlaku untuk segala zaman sampai akhir zaman. Salah seorang pemikir besar Mesir, Muhammad Al-Ghazali, mengatakan bahwa Al-Qur’an  akan tetap sama karena dijamin oleh Allah tidak akan berubah sampai akhir zaman. Namun demikian, beliau juga mengatakan bahwa penafsiran dan pemahaman ayat-ayat alQuran akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bila kita membaca berbagai buku tafsir Al-Qur’an dari waktu ke waktu, ayat-ayat yang dahulu dipahami tertentu, di belakang hari pemahaman itu berkembang ketika ilmuwan berhasil menemukan rahasia alam lebih jauh berkat kemajuan ilmu pengetahuan. Karenanya, dalam memahami Al-Qur’an, perlu pendekatan multi disiplin dalam bentuk kerjasama antara ulama, ahli bahasa (Arab), dan ilmuwan dari beragam disiplin.

Oleh karena itu, umat Islam Indonesia harus memberi contoh yang baik kepada seluruh umat di seantero dunia bahwa perbedaan pemahaman dalam soal keber-agama-an tidak akan dihadapi dengan sikap yang kaku tetapi justru dilihat sebagai pengayaan terhadap pemahaman kita atas wahyu Allah. Allah juga telah memerintahkan kita agar dalam berbeda dan berdebat tentang masalah keagamaan, kita harus bersikap sesantun mungkin dan kepada kita diperintahkan untuk sekali-kali tidak memaksakan kehendak kita. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan, siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjuk, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya, tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.16: 93)

Karenanya keragaman dalam kehidupan makhluk Tuhan adalah sunnatullah yang harus kita hormati bersama dan perbedaan antara sesama manusia adalah keniscayaan yang memperkaya budaya manusia. Agama, mazhab, dan para ulama wajib kita junjung tinggi tetapi tanpa harus memutlakkan penafsirannya. Yang mutlak hanya Allah semata dan Dia maha pengampun, pengasih, dan penyayang.  Wallahu a’lam

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *