Satu Islam Untuk Semua

Monday, 02 April 2018

Opini – Abdillah Toha: Agama Dan Polarisasi Umat


image-1-e1475787634633

islamindonesia.id – Abdillah Toha: Agama Dan Polarisasi Umat

 

Negeri ini lambat tapi pasti tampaknya sedang terpolarisasi. Dahulu ada Muslim mayoritas dan non Muslim minoritas. Di kalangan Muslim ada santri ada abangan.

Sekarang ada santri garis keras/ekslusif dan santri moderat/pluralis. Dahulu umumnya kalau tidak NU ya Muhammadiyah. Sekarang ada Islam Nusantara, NU garis lurus, Islib, HTI, FPI, Tarbiyah, Habib, Sunni, Syiah, Ahmadiyah dll.

Dalam hubungan dengan kekuasaan, dahulu ada Nasionalis, Agamis, Komunis. Sekarang ada partai agama dan partai sekular. Komunis hilang tapi muncul oportunis, premanisme, dan vigilante. Dahulu ada priyayi dan pedagang. Sekarang ada konglomerat, kelas menengah, dan kelas PKL.

Dahulu ada DI, TII, GAM, PRRI/Permesta. Sekarang ada ISIS, Al Qaeda, Anshorut Tauhid dll. Dulu ada segelintir ulama seperti Buya Hamka, Idham Halid, dan beberapa habaib utama yang menjadi rujukan. Sekarang ribuan ustad, dai, habib, ulama, berserakan, berdesakan, dan bersaing mencari panggung, pengikut, dan tempat terhormat.

Semua kelompok itu punya pemahaman khas tentang Islam dan berjalan sendiri-sendiri. Pada kasus tertentu mereka bisa bersatu bila merasa ada kepentingan bersama atau persepsi tentang “ancaman” bersama.

Kalau kita perhatikan sejarah dunia Islam, gambarannya juga tidak jauh berbeda. Pasca Nabi SAW, praktik keislaman yang nyata di lapangan jauh dari Islam ideal yang dijalankan Nabi. Rasanya kita tidak melihat lagi Islam ideal dalam sejarah Islam di dunia pasca Nabi kecuali masa kejayaan Andalusia dan Baghdad. Itupun jaya dalam ilmu pengetahuan dan militer tapi tidak sepenuhnya demikian dalam moral dan akhlak Islam.

Yang kemudian jadi pertanyaan, apakah Islam ideal yakni Islam yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW tidak mungkin diterapkan dalam kehidupan umat bila tak dipimpin langsung oleh seorang nabi? Ataukah sumber masalah adalah Islam yang dimaksud sebagai agama personal telah berubah menjadi agama yang terorganisasikan (organized religion)?

Permasalahan ini sekali-kali bukan monopoli Islam. Di negeri-negeri lain, khususnya di Amerika yang iman Kristiani warganya relatif masih kuat dibanding di Eropa atau tempat lain, pengorganisasian agama ke dalam kelompok-kelompok dan sekte-sekte berbeda yang tidak jarang bermusuhan telah menjadikan rakyat negeri itu terbelah dan kehilangan akal sehat memilih seorang presiden yang mungkin saja terburuk dalam sejarah Amerika.

Apa itu agama yang terorganisasikan? Ia adalah agama yang dilembagakan lengkap dengan alamat, keanggotaan, dan hirarki. Agama dan cabang-cabangnya dalam bentuk mazhab dan aliran yang diberi label, bendera, spanduk, billboard, dan merk. Agama yang dipersembahkan dengan aturan main termasuk ganjaran dan sanksi bagi pelanggarnya, sekarang dan di sini, bukan nanti akhirat.

Agama yang terlembaga ini kemudian menghilangkan unsur pribadi, padahal ada ungkapan jelas dalam Islam bahwa Tuhan itu begitu dekat dengan person kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi leher kita orang per orang. Bukan dekat dengan gerombolan manusia di lembaga.

Ketika unsur pribadi lenyap dalam agama, maka “aku” sebagai sebuah entitas yang independen lenyap diganti oleh kemunculan ego lembaga dan ego kolektif. Unsur manusia dan kemanusiaan nyaris hilang. Ketika itu identitas pribadi tercerabut dan melebur kedalam identitas kelompok yang dibela, diselamatkan, dan dipertahankan dari ancaman luar terhadap eksistensinya.

Ada yang mengatakan bahwa satu-satunya yang dapat mengembalikan otentisitas Islam adalah dengan pendekatan tasawuf. Benarkah demikian? Bukankah tasawuf juga sudah menjadi lembaga dalam bentuk berbagai tariqah, lengkap dengan hirarki, disiplin, dan aturan main? Murid nyaris tak boleh mempertanyakan perilaku mursyidnya?

Disinilah kemudian agama menjadi berhadapan dengan agama atau kelompok identitas lain atau dengan sesama agama dengan aliran yang berbeda. Agama kemudian menjadi sejenis negara dalam negara yang harus “dipersenjatai” untuk memelihara kedaulatan dan kelangsungan hidupnya. Ketika kelembagaan agama tidak diarahkan kepada pemantapan independensi individu tetapi lebih ke arah mengurung mereka dalam perbedaan dan identitas kelompok, ketika itu terjadi maka hanya keterpurukan yang menimpa umat.

Wallah a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *