Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 18 October 2018

Menjawab Polemik Beda Hitung Jumlah Ayat Al-Quran


Menjawab Polemik Beda Hitung Jumlah Ayat Al-Quran

islamindonesia.id — Menjawab Polemik Beda Hitung Jumlah Ayat Al-Quran

 

Beberapa ulama memiliki perbedaan cara dalam menghitung ayat Al-Quran. Paling tidak, terdapat 7 mazhab yang diikuti terkait hitungan jumlah ayat kitab suci umat Islam ini. Semuanya sepakat bahwa bilangan ayat Al-Quran lebih dari 6.200 ayat, namun berapa lebihnya, mereka berbeda pendapat. Ketujuh mazhab tersebut adalah:

1) Al-Madani Al-Awwal. Ayat Al-Quran berjumlah 6.217 atau 6.214. Dalam beberapa versi cetak, jumlah yang banyak diikuti adalah 6.214 ayat.
2) Al-Madani al-Akhir. Ayat Al-Quran berjumlah 6.214. Meski terdapat kesamaan hitungan jumlah ayat Al-Quran dengan pendapat kedua Al-Madani al-Awwal, namun tetap terdapat perbedaan antara keduanya dalam perincian penentuan ayat.
3) Al-Makki. Ayat Al-Quran berjumlah 6.220.
4) Asy-Syami. Ayat Al-Quran berjumlah 6.226.

5) Al-Kufi. Ayat Al-Quran berjumlah 6.236. Hitungan Al-Kufi inilah yang diikuti oleh cetakan Al-Quran di Indonesia, dan seluruh cetakan Al-Quran di dunia yang menggunakan riwayat Hafs dari Imam ‘Asim.
6) Al-Basri. Ayat Al-Quran berjumlah 6.205.
7) Al-Himsi. Ayat Al-Quran berjumlah 6.232.

Dari tujuh pendapat di atas, dalam cetakan Al-Quran yang ada di seluruh dunia saat ini, penulis masih dapat menjumpai penggunaan hitungan ayat menurut lima mazhab, yaitu: Al-Madani Al-Awwal, Al-Madani Al-Akhir, Al-Makki, Asy-Syami, dan Al-Kufi. Sementara untuk al-Basri dan Al-Himsi, penulis belum menemukan.

Beda Hitungan Ayat

Lantas, kenapa terjadi perbedaan dalam menghitung ayat Al-Quran? Adanya perbedaan bukan berarti hitungan yang lebih banyak telah menambah ayat, atau sebaliknya yang lebih sedikit telah menguranginya; bukan demikian. Perbedaan terjadi karena cara penghitungan yang berbeda dari masing-masing mazhab.

Penghitungan ayat Al-Quran didasarkan dari bacaan Rasulullah SAW yang didengar oleh para Sahabat Nabi. Lalu, bacaan tersebut diajarkan secara berkesinambungan (estafet) oleh para sahabat kepada generasi berikutnya.

Dalam hal mendengar bacaan, ketika Nabi berhenti pada beberapa kata tertentu, muncullah perbedaan pemahaman di antara yang mendengarkan; apakah Nabi sekedar waqaf, atau berhentinya tersebut disebabkan karena akhir ayat. Di sinilah letak perbedaannya.

Sebagai contoh sederhana, ketika Rasulullah membaca: alif lam mim, zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin; maka apakah ketika berhenti pada alif lam mim itu, Nabi sekedar berhenti (waqaf sejenak), atau itu merupakan akhir ayat. Di sinilah ulama berbeda.

Al-Kufi menganggap, itu merupakan ayat tersendiri. Sementara yang lain menganggap itu sekedar berhenti untuk waqaf. Sehingga, Al-Kufi menghitung alif lam mim ayat 1, dan zalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin ayat 2. Sedang ulama lainnya, menghitung alif lam mimzalikal kitabu la raiba fih, hudal lilmuttaqin menjadi ayat 1.

Perbedaan juga terjadi pada cara hitung ayat Surah Al Fatihah. Ulama sepakat bahwa Al-Fatihah terdiri dari 7 ayat. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan ayat-ayatnya.

Perbedaan terletak pada basmalah, apakah merupakan bagian dari surah Al-Fatihah atau tidak?  Karenanya, kadang ada imam shalat yang membaca surah Al-Fatihah dimulai dengan basmalah, dan ada juga yang langsung memulai dengan hamdalah.

Al-Kufi berpendapat bahwa basmalah adalah bagian dari Surah Al-Fatihah. Basmalah adalah ayat pertama dan ayat ketujuah dari Surah Al-Fatihah adalah “siratal lazina an’amta ‘alaihim gairil magdubi ‘alaihim walad dallin”.

Sementara pendapat lain mengatakan, basmalah bukan termasuk bagian dari Surah Al-Fatihah. Basmalahyang termasuk ayat Al-Quran hanya terdapat pada QS. An-Naml [27] ayat ke 30. Sehingga, ayat pertama Surah Al-Fatihah ialah hamdalah (al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin). Ayat keenamnya adalah siratal lazina an’amta ‘alaihim. Dan ayat ketujuh, gairil magdubi ‘alaihim walad dallin.

Bila dikaitkan dengan Ilmu Waqaf dan Ibtida’, bagi yang mengikuti pendapat Al-Kufi, maka berhenti pada siratal lazina an’amta ‘alaihim termasuk kategori waqaf yang tidak sempurna. Sebab, kalimat berikutnya merupakan penjelasan (na’at) dari allazina an’amta ‘alaihim. Karena itu, dalam Mushaf Al-Quran Indonesia, pada lafaz ‘alaihim yang pertama di ayat ketujuh, dibubuhkan tanda “lam alif” kecil di atas huruf terakhir pada akhir penggalan ayat. Itu berfungsi mengisyaratkan bahwa tidak boleh waqaf. Selain itu, ditambahkan pula tanda bulatan seperti huruf hijaiyah “ha” untuk menandakan bahwa pada lafaz ‘alaihim terdapat perbedaan penghitungan ayat.

Adapun bagi yang mengikuti pendapat siratal lazina an’amta ‘alaihim sebagai ayat tersendiri (ayat ke-6), maka berhenti pada ‘alaihim termasuk waqaf hasan, karena berhenti pada akhir ayat, meskipun masih terkait dengan ayat berikutnya.

Contoh lain dapat dilihat pada Ayat Kursi. Dalam hitungan Al-Kufi, Ayat Kursi terdapat pada Al-Baqarah ayat 255. Dalam hitungan al-Madani al-Awwal, Ayat Kursi adalah ayat 253 Surah Al-Baqarah. Sementara dalam hitungan Al-Madani Al-Akhir, itu terdapat pada ayat 253 dan 254 (menjadi dua ayat) Surah Al-Baqarah.

Referensi Hitungan Ayat

Terdapat puluhan kitab yang bisa dijadikan referensi untuk menghitung ayat Al-Quran. Ada kitab yang membahas secara khusus hitungan ayat Al-Quran, baik dalam bentuk nadham (bayt/sya’ir), atau bentuk deskripsi. Ada pula kitab yang menggabungkannya dengan pembahasan tema-tema Ulumul Quran lainnya.

Beberapa kitab yang secara khusus membahas hitungan ayat Al-Quran ialah: Mandhumah Nadhimah az-Zuhr fi ‘Addi Ayi as-Suwar, karya Asy-Syathibi (w. 590 H); Basyir al-Yusri Syarh Nadhimah az-Zuhr, Mandhumah al-Fara’id al-Hisan fi ‘Addi Ayi al-Qur’an, dan Nafa’is al-Bayan Syarh al-Fara’id al-Hisan fi ‘Addi Ayi al-Qur’an, ketiganya karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Ghani al-Qadli. Selain itu, Kitabu ‘Adadi Ayi al-Qur’an, karya Abul Hasan ‘Ali Muhammad bin Isma’il bin Bisyr at-Tamimi al-Anthaki (w. 377 H), dalam uraian yang lebih detail.

Meski ilmu menghitung ayat Alquran ini sudah final pembahasannya, namun penting juga mempelajarinya, agar kita tidak merasa aneh ketika melihat perbedaan pada Mushaf cetakan yang beredar di dunia Islam saat ini.

Tentang 6.666 Ayat

Angka 6.666 sebagai jumlah ayat Al-Quran cukup populer karena memang cukup mudah dihafal. Sekali dengar, hampir dipastikan langsung ingat dan tidak mudah dilupakan.

Hitungan angka 6.666 dapat ditemukan dalam beberapa keterangan, antara lain dalam Nihayatuz-Zain fi Irsyadil-Mubtadi’in (DKI Lebanon, t.th. cet. ke-1/36) karya Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H/1897 M) dan At-Tafsir al-Munir fil-‘Aqidah wasy-Syari’ah wal-Manhaj, (Dar al-Fikr 2003, jilid 1/45) karya Wahbah az-Zuhaily dalam kitabnya.

Pastinya, hitungan 6.666 tersebut tidak dimaksudkan menunjuk pada urutan jumlah ayat Al-Quran. Sebab, jumlah ayat Al-Quran merujuk pada 7 pendapat di atas. Dalam keterangan Syekh Nawawi dan Syekh Wahbah diketahui bahwa jumlah 6.666 tersebut dimaksudkan untuk menunjuk kandungan ayat Al-Quran.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut; al-amr (perintah) berjumlah 1000, an-nahy (larangan) berjumlah 1000, al-wa’d (janji) berjumlah 1000, al-wa’id (ancaman) berjumlah 1000, al-qasas wal-akhbar (kisah-kisah dan informasi) berjumlah 1000, al-ibr wal-amtsal (pelajaran dan perumpamaan) berjumlah 1000, al-haram wal halal (halal dan haram) berjumlah 500, ad-du’a (doa) berjumlah 100, dan an-nasikh wal-mansukh (nasikh mansukh) berjumlah 66.

Namun demikian, jumlah kandungan Al-Quran sebanyak 6.666 ini juga hanya datu dari sekian banyak pendapat yang ada. Ulama Alquran mempunyai hitungan yang berbeda-beda terkait klasifikasi kandungan ayat Alquran. Meski begitu, tidak ada pendapat yang mengklaim sebagai paling benar melebihi pendapat lainnya.

 

EH / Islam IndonesiaSumber: Fahrur Rozi, Pentashih LPMQ Kementerian Agama RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *