Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 04 June 2016

KOLOM – Jembatan Keraguan


41_breathtaking_bridges_all_around_the_world

Islamindonesia.id–Jembatan Keraguan

 

oleh Abdullah Hasan*

Saya lupa di buku yang mana, tapi istilah itu saya dapat dari Murtadha Mutahhari: Jembatan Keraguan.

Ini adalah prinsip dunia ilmiah. Sebuah prinsip bahwa yang belum kita ketahui lebih banyak dari yang sudah kita ketahui. Pengetahuan jarang meloncat. Dia datang berangsur. Tahu yang sebelumnya kadang syarat tahu yang baru. Pengetahuan bahkan suatu upaya estafet kemanusiaan antar generasi antar abad.

Nah, untuk pergi dari suatu pulau pengetahuan ke pulau pengetahuan yang lebih tinggi diperlukan upaya melangkah lewat sebuah jembatan. Itulah jembatan keraguan.

Jembatan keraguan adalah lawan dari kemandegan. Juga lawan dari keterbelakangan. Kemandegan berpikir, dan atau keterbelakangan keadaan. Di dunia sains, orang antusias melihat para ilmuwan yang tiba di suatu pulau baru. Orang antusias untuk mengetahui pengertian baru apa yang didapat pemenang Nobel Fisika tahun ini. Pengetahuan kedokteran baru apa yang dicapai oleh para peneliti bulan ini. Pengertian baru apa yang diketahui oleh para pemikir ekonomi untuk kesejahteraan ummat manusia. Dan seterusnya. Semuanya itu diketahui orang, tidak dapat terjadi kecuali lewat proses meragukan apa yang sudah diketahui, dan keinginan lebih menyempurnakan apa yang sudah diketahui dengan pengetahuan baru. Itu adalah proses “jembatan keraguan”.

Keadaan itu, sedikit berbeda dengan keadaan pengetahuan yang menyangkut istilah “keyakinan”. Pengetahuan keagamaan misalnya. Pengetahuan ini dianggap jadi satu dengan yang namanya Iman, yang mungkin dianggap bukan termasuk bagian dari pengetahuan. Memang, pada umumnya, kita menganut suatu agama bukan berdasar pengetahuan, tapi hasil warisan.

Dalam Islam, ada satu Al-Quran saja. Tidak ada Al-Quran edisi 2, edisi 3, dan sebagainya. Dalam Islam ada penyampai Wahyu, Rasulullah Muhammad saw saja. Tidak ada Nabi lain yang membawa Al-Quran. Tapi dalam Islam ada ajaran Islam. Ajaran Islam inilah yang sampai pada kita di rumah kita atau di sekolah. Ajaran Islam tidak identik dengan AlQuran atau perkataan Rasul saw. Ajaran Islam adalah pemahaman seseorang tentang maksud Al-Quran, atau maksud ajaran Rasul, atau keyakinan sesorang pada suatu riwayat sejarah bahwa “suatu kalimat” adalah omongan Rasulullah saw.

Al-Quran termasuk Iman. Ada pula keimanan pada keRasulan Muhammad saw. Walaupun demikian, “keimanan” bukan pula sesuatu yang tidak bisa ditingkatkan. Saat ini saya tidak mau membahas apakah keduanya bisa dilewatkan jembatan keraguan. Anggap dulu : tidak bisa. Tapi Ajaran Islam tidak identik dengan keduanya. Ajaran Islam itu sekedar hasil dari “penalaran” para profesor-profesor kita. Sayangnya banyak di antara kita kaum Muslimin mencampur-adukkan antara Al-Quran dan Penalaran Al-Quran. Keduanya harus tetap tidak bisa berubah. Tidak ada pulau baru.

Banyak di antara kita mencampu-radukkan buku kompilasi Hadis macam Sahih Bukhori atau Sahih Muslim dengan Rasulullah itu sendiri. Dikira, buku kompilasi hadis adalah seperti Rasulullah, tidak punya celah untuk dikritik. Kompilasi Hadis seperti Sahih Bukhori adalah cuma hasil profesor kita terdahulu, yang harus terus diperbaiki, dan dikritik dalam jurnal, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Banyak orang Muslimin berpendapat, bahwa menolak sebagian Hadis Bukhori, atau sebagian kitab hadis lain adalah menolak Rasulullah. Beberapa ilmuwan Mesir sampai mengungsi menyelamatkan nyawanya keluar negeri akibat hal itu. Demikian pula, sudah terang, kalau kita bicara soal kodifikasi hukum Islam atau Fiqh. Semuanya harus selalu dilewatkan pada “jembatan keraguan”.

Kita tahu bahwa kesalah-pahaman dan pencampuradukan antara penalaran dan keimanan mengakibatkan kemandegan. Contoh ekstrimnya adalah Talibanisme. Atau Wahabisme, dimana tidak ada pulau pengertian Islam kecuali pulau yang ditempati Muhammad bin Abdul Wahab beberapa ratus tahun yang lalu. Ini adalah ironi. Sebab Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Wahabi sebetulnya bermaksud mengangkat pemahaman kaum Muslimin yang sedang berkubang pada ke-tidak-rasionalan saat itu, untuk kembali berpikir pada acuan Al-Quran dan ajaran Rasulullah. Tapi pengikutnya akhirnya tercebur pada lubang yang lain. Mereka mengartikan kembali pada Al-Quran dan Sunnah itu adalah mesti terpaku pada ajaran pendiri Wahhabi. Bukan sekedar kembali menalar referensi Al-Quran dan Sunnah. Bukan cuma sibuk pilah-pilih beberapa hasil penalaran saja.

Jembatan keraguan bukanlah tempat bermukim. Jembatan adalah jalan lewat dari suatu tempat ketempat lain. Bermukim di jembatan, artinya bermukim dikeraguan. Perkembangan dan pemerataan pendidikan di kalangan kaum Muslimin, perkembangan komunikasi, menyebabkan kita punya akses jauh lebih besar dan lebih mudah untuk mencapai sumber pengetahuan. Istilahnya, untuk pintar, sekarang jauh lebih mudah dari 50 atau 10 tahun yang lalu.

Tapi lewat jembatan keraguan itu capek. Karena mesti berpikir keras. Mencari banyak, diskusi, dan seterusnya. Jembatan keraguan membongkar bangunan lama yang tidak semua orang berani melakukannya. Terus terang saya kagum sekali kepada beberapa teman yang cerdas-cerdas, karena membaca dan berpikir keras sampai memutuskan ganti mazhab umpamanya. Memang pada jaman tahun 80-an, konon disebut sebagai tahun kebangkitan Islam, banyak buku tentang pemikiran islam baru sampai ke Indonesia. Bagi banyak anak muda, seperti saya juga, melihat beberapa pemikiran baru  itu berhiaskan “Jembatan Keraguan” yang indah sekali. Jembatan keraguan yang erat pada prinsip-prinsip ilmiah, bukan pada ragu-ragu tentunya. Jadi kadang sekarang agak sedih atau kaget dan aneh, kalau melihat ada anak-anak muda tersebut, yang amat potensiil masa depan karir intelektualnya, sekarang ini jadi supersensitive tidak bisa disenggol sedikit, kereng sekali, soal agamanya. Buru-buru mengira orang ngajak duel kepadanya. Atau sebel dan memilih “delete friends”, atau tutup kuping, atau nyanyi bareng dengan teman-teman dirumahnya.  Lagunya, lagu yang sudah biasa.

Ketika kita tiba pada suatu pulau pengertian baru, dimana saja, tentunya harus merasa rendah hati. Bahwa ini bukan perjalanan terakhir. Masih ada jembatan keraguan lain untuk naik ke pulau-pulau pengetahuan Ilahi yang lain. Pindah ke pulau lain tidak harus berarti pindah mazhab atau conversion. Tapi bisa pula berati penambahan area perluasan baru dari pengertian.

Ilmu Allah itu Maha Luas. []

*Penulis, peminat buku

 

AJ/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *