Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 21 April 2016

KAJIAN – Mengapa Terjadi Gap antara Islam dan Perilaku Umatnya? (Bagian 1)


kontraindikasi-islamindonesia.id

Islamindonesia.id–Mengapa Terjadi Gap Antara Islam dan Prilaku Umatnya? (Bagian 1)

Dengan jubah putih dan surban yang dibalut di kepalanya, seorang pria mewakili ormas Islam kerap tampil melampiaskan amarahnya di ruang publik. Pria berjenggot tipis ini bahkan terekam pernah memerintahkan khalayak untuk membunuh penganut aliran tertentu yang disesatkan dan dikafirkannya. Di banyak tempat lain publik juga kerap melihat orang berpakaian ulama berkoar-koar mengajak jihad melawan aparat pemerintah. Katanya sendiri dia sedang menunaikan kewajiban jihad.

Tontonan publik semacam ini akhirnya menjadi perhatian luas masyarakat. Tidak sedikit umat Islam yang menyayangkan. Mengutip tanggapan pengamat sosial politik, Abdillah Toha, perilaku seperti di atas sangat memprihatinkan serta menimbulkan kegelisahan dan merugikan nama Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas di negeri ini.

Sikap yang menggelisahkan dari pemeluk ajaran yang rahmat bagi semesata ini juga kita bisa tonton dengan mudah di sejumlah tempat. Alih-alih menjadi rahmat bagi semesta, sebagian umat yang mengaku Islam ini dengan percaya diri menebar kebencian (hate speech) kepada umat Islam lainnya. Akibatnya, pembubaran paksa, pembakaran, pengusiran, dan sejumlah aksi kekerasan lainnya kerap mencoreng umat yang misi Nabinya sendiri ialah menebar rahmat dan menyempurnakan akhlak mulia.

Fenomena di atas hanyalah contoh kecil. Baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain, kita melihat adanya gap yang amat nampak antara agama dan kaum beragama; antara Islam dan kaum Muslimin. Ini memang keluhan klasik banyak ulama, sarjana dan pengamat. Keadaan riil umat hari ini sangat jauh berbeda dengan klaim-klaim Islam tentang apa yang akan terjadi pada umatnya.

Di belahan dunia lain, kita melihat beberapa kelompok militan dengan membawa bendera Islam seperti di Suriah dan Irak, dengan brutal menyembelih manusia lain hanya karena tak seideologi dengannya. Walhasil, ada suatu gap yang teramat jelas antara realitas keagamaan dan aktualitas keberagamaan umat. Bahkan pada tingkat ekstrem, kita menemukan adanya pertentangan luar biasa antara Islam dan umat dari sisi ajaran akhlak, kemajuan, pengetahuan dan kesejahteraan.

Jika kita mau ambil sebuah ilustrasi, maka kita bisa ambil ilustrasi dari interaksi antara oat, dokter, dan pasien. Kita melihat dokter menyodorkan sebuah obat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Tapi, ketika obat itu dikonsumsi, kita melihat sang pasien tidak bereaksi. Tak jarang bahkan obat itu memberi efek samping yang terbalik dari resep yang diberikan.

Tentu saja ada beberapa sebab yang mungkin diajukan untuk menjelaskan keadaan tersebut. Pertama, dokter salah memberi resep. Keduaresep itu memang tidak membuahkan efek. Ketiga, obat yang dikonsumsi pasien itu bukan yang diresepkan oleh dokter. Keempat, obatnya memang belum diminum. Pilihan keempat ini nampaknya terasa enak, tapi belum tentu yang terjadi. Dan kelimaada faktor-faktor yang merusak pengaruh obat tersebut pada pasien, bahkan memberi pengaruh yang terbalik, misalnya ketika pasien mengkonsumsi sesuatu yang justru menetralisir atau bahkan mengkontraindikasi obat yang ada.

Pada kasus antara Islam, Allah dan Muslim pun begitu. Tetapi, pada kasus ini alternatif pertama tidak mungkin terjadi, karena Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Yang mungkin terjadi adalah alternatif kedua, ketiga, keempat dan kelima. Alternatif kedua menyebutkan bahwa Islam itu memang tidak memberi reaksi positif apa pun juga dan tidak sebagaimana yang diklaimnya. Namun, alternatif ini pun gugur karena sejarah manusia menunjukkan adanya orang-orang yang menjalankan dan “menelan” resep Islam kemudian memberikan dampak yang luar biasa, baik secara individual maupun secara sosial. Jadi, yang mungkin terjadi dalam kasus fenomena Islam dan umat Islam ini adalah alternatif ketiga, keempat dan kelima.

Di bawah ini kita akan mendedahkan penjelasan menyangkut ketiga alternatif terakhir itu secara umum.

Pertama, Islam ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak berwawasan luas tentangnya

Sejarah penyebaran Islam di Indonesia, sebagai contoh, menunjukkan bahwa mula-mula Islam disebarkan oleh para wali yang sangat mumpuni dan mendalami Islam. Karenanya, Islam menyebar dengan mudah dan mengubah wajah Nusantara menjadi negeri makmur, penuh kedamaian, toleransi dan kebhinekaan. Namun, sayangnya, nasib Islam di era informasi dan internet ini menjadi bulan-bulanan sekelompok orang yang tidak kompeten dan tidak memiliki wawasan yang luas.

Lebih dari itu, para “dai” era digital itu sudah keluar jauh dari jalur keulamaan dan semata-mata menjadi penyebar dan pencari sensasi dan fitnah. Masalah ini sudah sering jadi sorotan berbagai kalangan, termasuk belakangan dari Syaikh Al-Azhar dan Prof Taufiq Al-Bouthi.

Oleh sebab itu, pendalaman pengetahuan keagamaan dan metode keberagamaan berbanding lurus dengan pengaruh dan bobot Islam. Seperti dalam metode pendidikan sains, seharusnya pendidikan dan pengajaran Islam dilakukan melalui metode yang sahih dan ketat. Pola penyebaran ajaran-ajaran Islam tanpa menyebut sumber-sumber pokok perlu segera ditinggalkan. Pada kasus sains modern, spesialisasi juga sangat diperlukan. Spesialisasi dapat dianggap sebagai faktor pendorong atau insentif. Bahkan, tak ayal lagi, spesialisasi adalah trigger bagi kemajuan ilmu di bidang apapun, tidak terkecuali di bidang ilmu-ilmu Islam.

 

Edy&AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *