Satu Islam Untuk Semua

Friday, 02 February 2018

Berani Mikir Mbeling Bareng Cak Nun (1)


Berani Mikir Mbeling Bareng Cak Nun

islamindonesia.id – Berani Mikir Mbeling Bareng Cak Nun (1)

 

Seperti yang kita tahu, Cak Nun yang bernama lengkap Muhammad (Emha) Ainun Nadjib dan selama ini populer dengan gaya pemikiran yang ‘arogan’ dan emansipatif dalam memahami konteks-konteks keagamaan, kebangsaan, politik, budaya, pendidikan dan komunikasi sosial, harus diakui memang terkesan segar dan baru di tengah kejumudan pemikiran khalayak ramai.

Dalam banyak kesempatan, baik di hadapan Jemaah Maiyah atau forum lain yang dihadirinya, Cak Nun dengan gaya khasnya yang begitu terlihat sangat anti kemapanan, tidak segan-segan kerap mengkritik tradisi keilmuan modernistik. Lontaran kritiknya secara singkat biasanya dalam bentuk kata sindiran, salah satunya seperti ‘apa lagi cerdasnya cerdas modern!’, juga menunjukkan bahwa alam pikir manusia modern dalam sudut pandang budayawan yang juga kerap dipanggil Kiai Mbeling ini, seakan begitu dangkal dan kering kerontang.

Tak jarang, tausiyah dan pemaparan yang keluar dari mulut tajam Cak Nun, membuat banyak orang terhenyak sebelum pada akhirnya mesti mengakui bahwa sekian banyak ‘perkara lama’ yang disampaikan dengan ‘cara pandang baru’ oleh Punggawa Kiai Kanjeng itu benar adanya. Apa saja lontaran pemikiran mbeling dari Cak Nun? Berikut  lima di antaranya.

  1. Negara Hukum Itu Rendah

Hukum itu paling rendah. Di atas hukum itu ada akhlak, di atas akhlak ada takwa, karomah, kemuliaan dan seterusnya. Jangan pernah sebuah negara jadi negara hukum. Harusnya, kalau bisa jadi negara akhlak atau moral. Kalau negara hukum, ada orang mati di jalan, Anda lewati saja (tidak menolongnya), itu tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak.

Ada orang kecelakaan Anda tidak tolong, tidak masalah menurut hukum. Ada orang lapar tidak Anda kasih makan, tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak. Maka negara hukum itu rendah. Hukum itu hanya jalan kalau ada aparatnya. Sialnya banyak aparat yang malah suka mengancam: “Wani piro!?”

Rakyat sekarang tidak punya parameter berpikir yang benar. Rakyat dengan bodoh menyelesaikan semua urusan pada negara. Baik dan buruk diserahkan pada hukum, itu bodoh! Hukum itu tidak mampu mengurusi kebaikan dan kebenaran sampai tingkat yang diperlukan manusia. Hukum itu tahunya satu level kecil, orang nyopet yang dilihat nyopetnya, dia tidak pernah bertanya kenapa nyopet.

Kewajiban negara menghukum secara hukum (yuridis), masyarakat menghukum secara kebudayaan dan moral. Tapi sekarang hukuman kebudayaan dan moral ini sudah tidak dipegang oleh rakyat. Ingat penyanyi cowok yang terlibat kasus penyebaran video cabul dirinya dengan sejumlah artis, setelah keluar penjara malah dielu-elukan, dicium tangannya, jadi bintang besar.

  1. Surga Itu Nggak Penting

Kalau orang cari surga mungkin akan dapat surga, tapi surganya tidak seindah kalau tujuannya Tuhan. Sebab kalau dia cari Tuhan pasti dapat surga. Tauhid itu menyatukan diri dengan Tuhan, bukan dengan surga. Surga itu efek akibat, pelengkap penderita dari penyatuan kita dengan Tuhan.

Catatan: “Surga nggak penting”, itu cuma ungkapan, tidak ada maksud meremehkan surga. Surga tetap penting. Cak Nun tidak anti surga. Itu ungkapan orang yang level imannya di atas rata-rata. Ibadahnya dalam rangka bersyukur (merdeka), bukan karena minta imbalan dan takut neraka. Bukan seperti kita yang Shalat Dhuha berharap jadi PNS, naik haji berharap dagangannya laris, sedekah Avanza berharap dapat kembalian Alphard, Tuhan diperlakukan sebagai mitra bisnis.

  1. Hak Asasi Manusia (HAM) Itu Menipu

Hanya Tuhan yang punya hak, manusia punyanya hanya kewajiban. Satu-satunya hak manusia adalah memilih pemimpin saat Pemilu. Seseorang punya hak di masyarakat atau negara karena punya ‘saham’. Orang yang tidak bayar pajak, tidak punya andil di masyarakat, dia tidak punya hak apa pun di masyarakat. Jadi yang benar itu bukan Hak Asasi Manusia tapi Wajib Asasi Manusia.

Hak Asasi Manusia adalah ideologi yang Anti-Tuhan. Atas nama Hak Asasi, orang boleh menikah dengan sesama jenis, bahkan dengan hewan. Manusia begitu menyanjung kebebasan. Padahal kebebasan adalah jalan menuju batasan. Kalau manusia tidak tahu batasannya, mereka akan jadi binatang, bahkan lebih rendah.

Jadi, kita nggak butuh ideologi HAM yang diadopsi dari Barat itu. Kita punya Hukum Negara maupun Hukum Adat untuk mengatasi pelanggaran hukum apa pun.

  1. Kita Semua Sesat

Kalau ada orang yang ngakunya paling benar dan lurus itu berarti dia sombong. Lha wong semua Nabi saja ngakunya zalim kok. Walau dijamin surga, semua Nabi tidak pernah menyombongkan ilmu dan imannya.

Kalau kamu merasa sudah benar dan lurus, jangan mendatangi pengajian. Pengajian itu tempatnya orang yang merasa salah, merasa masih sesat, merasa rapuh imannya, merasa sedikit ilmunya. Pengajian itu bukan mengajari, tapi kumpulan manusia yang bersama-sama mencari derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah.

Tiap hari seorang Muslim diwajibkan selalu membaca doa dalam Shalat, “ihdinas shiratal mustaqim” (tunjukan kami jalan yang lurus). Artinya, walaupun sudah shalat, puasa, zakat dan haji, tetap kita masih butuh petunjuk ke jalan yang lurus.

Kebenaran (sejati) itu tidak ada, yang bisa dilakukan manusia itu sebisa mungkin menuju kebenaran. Kebenaran itu ada 3: benarnya diri sendiri, benarnya orang banyak dan kebenaran sejati. Dan yang bikin kita bentrok itu karena seseorang atau umat ngotot dengan benarnya sendiri.

Jadi nggak usah sombong dengan mazhabmu, sektemu, aliranmu. Islamnya NU, Muhammadiyah, LDII, MTA, dan lain-lainnya itu tidak ada yang betul-betul benar, semua dalam rangka mencari Islamnya Rasulullah.

  1. Tidak Ada Tafsir yang Betul-betul Benar

Suara kokok ayam versi orang Madura itu “kukurunuk”, orang Sunda “kongkorongkong”, orang Jawa “kukuruyuk”. Yang benar yang mana? Semuanya salah. Yang benar adalah taruh ayamnya di tengah ketiga orang tadi dan sama-sama mendengar suara kokok ayamnya.

Jarak antara kokok ayam dengan kita menirukan suara kokoknya itu namanya tafsir. Tafsir itu melahirkan mazhab dan pengelompokan-pengelompokan. Itu karena pendengaran tiap orang berbeda terhadap suara kokok ayam.

Kita harus saling menyadari bahwa yang benar itu ayamnya bukan kokoknya. Antara tafsir ‘kukuruyuk’, ‘kukurunuk’ dan ‘kongkorongkong’ harus saling menyadari kelemahan masing-masing sehingga tercipta toleransi. Kalau nganggap benarnya sendiri, egois atau egosentris dengan tafsirnya sendiri maka akan terjadi bentrok.

Jadi, tidak ada tafsir yang betul betul benar. Anda boleh menafsirkan menurut pikiranmu yang penting itu membuatmu menjadi lebih dekat, lebih cinta pada agama dan Tuhanmu. Dan tentu saja tidak menimbulkan kemudharatan umat.

Sebenarnya menafsirkan Al-Qur’an itu hanya bisa dilakukan oleh ahli tasfir, kita sebagai orang awam bisanya hanya tadabbur, mencari manfaat dari pergaulan kita dengan nilai-nilai Islam (terutama Al-Qur’an). Parameter keberhasilannya adalah yang penting kita menjadi lebih baik sebagai manusia.

Paham atau nggak paham itu bukan parameter. Benar atau tidak benar pemahamanmu itu juga bukan parameter. Parameternya adalah setelah kamu baca dan mencintai Al-Qur’an kamu menjadi lebih dekat pada Allah apa tidak, lebih beriman apa tidak, kamu lebih baik menjadi manusia apa tidak.

(bersambung…)

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *