Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 28 July 2018

Renungan Pagi – Kolom Abdillah Toha: Agama dan Rahmat


abdillah toha

islamindonesia.id – Kolom Abdillah Toha: Agama dan Rahmat

AGAMA dan RAHMAT
Oleh Abdillah Toha

“Dalam Al-Quran Allah berfirman bahwa risalah atau misi keagamaan yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat untuk semesta alam (rahmatan liln a’lamiin),  bukan untuk kaum beriman saja (lil mu’minin). Karenanya, sebagai Muslim sejati seharusnya kita menebar rahmat kemanusiaan kepada siapa saja, tidak peduli asal usul dan keyakinan agamanya.”

–O–

Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir diutus  membawa agama Allah untuk manusia dan jin. Sedangkan sebagai pembawa Rahmat, Nabi diutus untuk seluruh alam semesta. Kita tahu bahwa agama adalah juga rahmat disamping sebagai perangkat ibadah dan moral.

Pertanyaan yang muncul di benak kita adalah mengapa makhluk Allah di luar manusia dan jin tidak harus beragama sedangkan manusia diharuskan? Jawabnya bisa jadi sangat sederhana, yakni hanya manusia dan jin yang diberi akal dan diberi kemampuan untuk berkehendak bebas. Tumbuh-tumbuhan, hewan, bulan, matahari, malaikat, tidak dikruniai kehendak bebas.

Kehendak bebas adalah kebebasan untuk memilih hendak berbuat apa. Bebas berkehendak harus dibedakan dengan bebas berbuat. Manusia boleh bebas berkehendak tetapi tidak dapat bebas berbuat karena di atas kehendak bebas manusia masih ada kehendak Allah yang lebih tinggi. Kehendak dapat menjelma menjadi perbuatan hanya ketika kehendak kita tidak bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah.

Karenanya Islam menempatkan kehendak atau niat di posisi yang utama. Allah tidak hanya menilai perbuatan tetapi juga niatnya. Niat berbuat baik meski tidak terjadi akan tetap mendapat pahala. Sebaliknya niat berbuat buruk bila tak terjadi tak akan dibebani dosa.

Karena manusia bebas berkehendak dan nalar manusia terbatas, maka manusia memerlukan agama. Wahyu yang diturunkan sebagai pedoman moral akan membimbing manusia untuk menjatuhkan pilihan jalan hidup yang benar. Makhluk lain di luar manusia dan jin tidak memerlukan agama karena mereka diciptakan sepenuhnya tanpa kehendak bebas.

Makhluk Allah yang lain diciptakan untuk dan ditundukkan bagi kepentingan manusia. Bahkan para wali Allah percaya bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah Nur (cahaya) Muhammad. Baru kemudian seluruh alam semesta ini diciptakan kemudian untuk Muhammad SAW.

Sebaliknya Rahmat atau kasih sayang Allah diperuntukkan bagi seluruh ciptaanNya baik yang ada di langit maupun di bumi, termasuk manusia. Rahmat Allah diumpamakan sebagai kasih sayang ibu kepada anaknya, meski jauh lebih berlipat dari itu. Tidak ada ibu normal yang tidak menyayangi anaknya sepenuh hati. Begitu pula induk hewan terhadap anak-anaknya. Karenanya tempat kita bersemayam di kandungan ibu sebelum dilahirkan disebut sebagai rahim.

Diriwayatkan Nabi pernah mengatakan bahwa seorang ibu tidak mungkin melemparkan anaknya ke dalam api. Dan bahwa Allah Maha Pengampun adalah sisi lain dari luasnya Rahmat Allah.

Dalam Al-Quran Allah berfirman bahwa risalah atau misi keagamaan yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat untuk semesta alam (rahmatan liln a’lamiin),  bukan untuk kaum beriman saja (lil mu’minin). Karenanya, sebagai Muslim sejati seharusnya kita menebar rahmat kemanusiaan kepada siapa saja, tidak peduli asal usul dan keyakinan agamanya.

Hadis lain yang terkenal berbunyi ‘sayangilah yang ada di bumi maka yang di langit akan menyayangimu’. Termasuk di sini adalah memelihara, menjaga, dan tidak merusak alam dan lingkungan. Agama Islam bahkan mengatur bagaimana cara menyembelih hewan dengan rasa kasih sayang. Allah akan melipat gandakan rahmatNya bagi makhlukNya yang rahim.

Sesungguhnya daya tarik utama agama Islam yang sering dilupakan oleh penganutnya adalah sisi rahmat atau kasih sayang itu. Inilah sisi dakwah yang sering diabaikan oleh umat Islam.

Bagaimana dengan berbagai bencana alam, kemiskinan, dan ketidakadilan yang terjadi di muka bumi? Apakah semua itu menunjukkan absennya rahmat Allah? Ini adalah topik yang perlu dibahas tersendiri. Namun untuk sementara dapat dikatakan begini: Peristiwa bencana, kemiskinan dan sebagainya itu harus dilihat bukan kasus per kasus tetapi secara kesatuan sebagai bagian dari keseimbangan alam semesta. Atau dapat pula dilihat sebagai keburukan yang terjadi sebagai akibat dari tiadanya rahmat yang ditebar oleh manusia kepada sesamanya dan lingkungannya. Wallah a’lam

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *