Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 09 January 2019

Renungan Pagi – Abdillah Toha: MEMAHAMI PEMAHAMAN


گلچین-زیباترین-شعر-در-مورد-تعقل

islamindonesia.id – Kolom Abdillah Toha: MEMAHAMI PEMAHAMAN

 

Berbagai konflik antar manusia di dunia tidak jarang karena perbedaan pemahaman atau pengertian tentang suatu hal. Padahal obyeknya sama. Dengan demikian, kita sering menyebut upaya mengakurkan dua pihak yang berkonflik dimulai dengan meningkatkan saling pengertian. Mengapa banyak sekali terjadi pemahaman yang berbeda untuk sebuah realita yang sama?

Renungan dibawah ini tidak akan mengupas secara tuntas tetapi akan menunjukkan bahwa pada manusia memang dari asalnya sudah melekat berbagai kelemahan dalam hubungan dengan menangkap dan menafsirkan realita. Dengan memahami berbagai konsep dibawah ini, diharapkan kita bisa mengenal lebih dalam  diri kita serta berbagai kelemahan yang mengancam daya paham kita dari yang seharusnya.

Dalam hubungan dengan ‘pemahaman’, ada berbagai terminologi yang sering digunakan untuk memberi gambaran tentang betapa rumitnya memahami sesuatu dengan benar. Antara lain kita akan kupas makna dan hubungan antara persepsi, perspektif, ilusi, delusi, dan halusinasi.

Persepsi adalah adalah daya tangkap informasi visual, audio, dan tekstual yang masuk melalui indera kita untuk kemudian diproses oleh nalar dan emosi kita dengan output terjemahan dan interpretasi terhadap realita. Persepsi bisa sangat subyektif karena dia adalah kesan tentang realita yang kita tangkap dan dibentuk oleh pengalaman yang tersimpan dalam memori.

Perspektif yang sesungguhnya istilah geometrik, adalah sebuah sudut pandang, bergantung dari arah mana kita melihatnya. Sebuah objek akan tampak berbeda bila dilihat dari belakang, samping, atau depan dan atas, atau dari jarak jauh atau dekat. Sebuah informasi bisa memberi kesimpulan dan menciptakan sikap yang berbeda, bergantung kepada bagaimana kita melihatnya. Ada sisi positif dan negatif dari hampir setiap peristiwa. Sebuah musibah bisa dilihat sebagai bencana tetapi juga bisa diterima sebagai hikmah atau berkah.

Ilusi adalah adalah daya tangkap yang terdistorsi dengan yang sejauh ini dipercaya sebagai yang benar. Faktor utama penyebabnya adalah berbagai asumsi tentang realita yang selama ini dipercaya. Sebatang kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air akan tampak bengkok. Tukang sulap juga sering diberi nama sebagai ilusionis. Ilusi menciptakan kesimpulan yang paradoks, ambigu, dan seringkali fiksional.

Delusi sangat berbahaya karena dia adalah keyakinan yang jelas keliru tetapi dipertahankan dengan keras kepala meskipun kepadanya disodorkan bukti-bukti sebaliknya. Dia adalah keyakinan yang didasarkan kepada informasi yang tidak lengkap, dogma, ilusi, atau persepsi yang melenceng. Delusi yang ekstrim bisa masuk kategori penyakit jiwa klinis. Di luar itu, delusi juga sering disebabkan oleh kemauan keras untuk membela diri dan keyakinannya serta menganggap orang lain sebagai penyebab kesengsaraannya. Delusi religius adalah sikap dan pemahaman dogmatis keagamaan yang sepenuhnya menafikan fungsi akal.

Halusinasi adalah menangkap, melihat, atau mendengar sesuatu dalam keadaan  melek yang tidak ada dalam realita. Penderita skizofrenia sering mendengar suara yang membisikkan sesuatu yang baik atau buruk dari belakang tubuhnya.

Dari penjelasan ringkas diatas kita sadar bahwa manusia itu sesungguhnya lemah dan karenanya tidak boleh gegabah menyimpulkan sesuatu tanpa merenungkannya dalam dalam lebih dahulu. Khusus yang menyangkut sisi dan makna hidup dan kehidupan, diperlukan kearifan untuk menangkap apa yang kita anggap sebagai realita.

Sebagai Muslim kita percaya bahwa ilham dan ilmu sesungguhnya bersumber dan berasal hanya dari Allah. Namun demikian, hasil renungan kita bisa jadi juga datang dari setan. Karenanya Imam Ghazali mengatakan bahwa syariah diperlukan sebagai petunjuk apakah sumber pengetahuan kita berasal dari Allah atau bisikan setan.

Dalam Islam, peran hati juga sangat ditonjolkan. Al-Quran menghubungkan akal dan pemahaman dengan hati. Al-Quran tidak pernah menyebut akal sebagai fakultas tetapi selalu disebut dalam bentuk kata kerja sehingga bisa diartikan sebagai proses yang tidak pernah berhenti. Begitu pentingnya akal dalam Islam,  sehingga Islam membebaskan orang yang tidak atau belum berakal seperti anak kecil dan orang sakit jiwa dari kewajiban syariah.

Persepsi Muslim dalam pemahaman agamanya sering hanyut dalam perspektif masa ratusan tahun yang lalu sehingga kehilangan kontekstualitas dalam menangkap makna sebenarnya dari wahyu Allah. Akibatnya, tumbuh dan berkembang penafsiran agama yang ilusif, bahkan delusif, bahwa ada ancaman terhadap eksistensi Islam. Inilah kemudian  yang mewarnai sikap ofensif dengan mengambil langkah agresif atau defensif berlebihan dengan menutup pintu dan membangun benteng pembelaan Islam terhadap musuh buatan sendiri.

Islam yang sebenarnya adalah agama yang menuntun kita ke masa depan, telah menjadi kredo yang menggelorakan masa lalu. Ketika dunia berlomba menciptakan kemajuan substantif, Muslim masih terus bergelut dalam arena simbolis dan perdebatan fiqih. Mazhab lebih utama dari universitas dan bendera lebih penting dari kemakmuran. Reformasi bahkan revolusi gagasan Islam yang segar dan benar diperlukan oleh ulama dunia yang berani maju menghadapi risiko kungkungan para tiran di negeri negeri Muslim, sebelum satu setengah milyar domba-domba Muslim di dunia dapat digembala ke arah yang menguntungkan masa depan umat. Wallah a’lam.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *