Satu Islam Untuk Semua

Friday, 21 September 2018

Renungan Pagi – Abdillah Toha: MANUSIA


Abdillah Toha

islamindonesia.id – Kolom Abdillah Toha: MANUSIA

 

Siapa sebenarnya kita? Apakah kita sudah benar-benar mengenal diri kita? Hadis yang masyhur mengatakan bahwa “Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”. Manusia adalah makhluk yang kompleks. Dikatakan bahwa manusia adalah jagad kecil (microcosmos), sebagaimana alam semesta adalah jagad besar (macrocosmos).

Begitu kompleksnya manusia sehingga dengan segala kemajuan yang telah dicapai, ilmu kedokteran baru menguasai kurang dari 20% pengetahuan fisik tentang manusia. Apalagi sisi kejiwaan dan spiritual manusia. Sangat lebih sedikit lagi. Karenanya kita perlu petunjuk wahyu Ilahi untuk lebih mengenal manusia.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menggambarkan manusia. Dari mulai proses penciptaannya sampai kepada sifat-sifatnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberi kebebasan memilih. Berpotensi naik derajatnya sampai lebih tinggi dari malaikat tetapi juga bisa merosot sampai ke tingkat lebih rendah dari binatang.

Kita tidak akan membahas berbagai sifat manusia yang digambarkan dalam Al-Quran karena sudah terlalu banyak ditulis dan bisa dibaca di berbagai tempat lain. Disini kita akan mengajukan pertanyaan yang lebih menukik dan relevan untuk zaman ini yakni mengapa sebagian besar manusia masih terus jahil (ignorant) setelah milyaran tahun berevolusi sejak Adam? Mengapa manusia mudah menjadi domba-domba yang dikendalikan oleh segelintir orang? Bumi ini katanya dikendalikan oleh segelintir elit yang berkuasa. Nasib kita semua ditentukan hanya oleh beberapa orang.

Kelebihan manusia adalah kemampuannya menundukkan alam dan isinya termasuk tumbuhan dan hewan. Bahkan Tuhan mengatakan alam ini ditundukkan kepada manusia, dan Tuhan meminta manusia hanya tunduk kepadaNya. Yang terjadi, sebagian besar manusia ditundukkan oleh dan tunduk kepada sebagian kecil manusia lain. Apa sebenarnya yang telah terjadi?

Bila segelintir pengendali manusia itu bermaksud dan berbuat untuk kebaikan manusia lain, maka tidak masalah. Yang jadi masalah ketika pada kenyataannya tidak selalu demikian. Pengendali manusia lain ini juga manusia dengan segala kelemahannya seperti rakus, egois, penista, subyektif dan lain sebagainya.

Pada mulanya manusia sebagai anggota masyarakat bersepakat membuat aturan main, norma, atau hukum, guna menghindari kekacauan. Yang terjadi aturan main itu tidak sempurna, banyak lubang-lubang yang kemudian dimanfaatkan untuk dirinya oleh mereka yang lebih kuat. Makin lama makin menyempit jumlah anggota masyarakat yang berkuasa dan kekuasaan pengendalian makin terkonsentrasi.

Penyebab dari aturan main yang sudah cacat sejak lahir itu adalah absennya keadilan sebagai prinsip utama dalam aturan main kehidupan manusia. Sedang nilai-nilai keadilan sebenarnya adalah esensi dari ajaran agama yang tidak sampai kepada pemeluknya karena agama disebarkan dengan menekankan kepada ritual, identitas, tribalisme, fiqih, kekuasaan, dan sejenisnya.

Domba-domba manusia ini pada dasarnya adalah makhluk yang rapuh dan mudah dimanipulasi. Ketika ganjaran dijanjikan dan ketakutan disebarkan, manusia menjadi tidak rasional dan cenderung menyerap segala bentuk kepalsuan dan kebohongan yang dikucurkan dari segala sudut. Ketika itu, segelintir elit itulah yang kemudian memegang kendali dan menentukan nasib para domba.

Satu-satunya jalan agar manusia bebas dari kendali luar yang menjanjikan kesenangan sementara dan ancaman ketakutan yang ilusif, adalah kembali kepadaNya sebelum saat kembali sebenarnya. Menaikkan derajat kemanusiaannya dengan memperkuat sisi ilahiyah dalam tubuh halusnya sesuai dengan rancangan awal fitrahnya. Agama yang tidak menekankan kepada penguatan sisi fitrah manusia adalah agama yang gagal atau bahkan agama yang justru mengacaukan tertib kehidupan, dan menjadikan manusia bukan sebagai hamba Allah tetapi budak makhluk lain.

Memahami makna hidup di bumi, menguasai diri kita sendiri, dan lebih mengenal diri kita agar kita mengenal Tuhan, hanya bisa dilakukan dengan mempertanyakan segala asumsi dan praduga dengan menggunakan sepenuhnya akal budi kita serta berharap bahwa kita mendapat hidayah agar mampu menangkap dengan benar petunjuk wahyu yang diturunkan melalui manusia pilihan Ilahi.

Ekuilibrum baru akan selalu muncul dalam kehidupan manusia di bumi. Namun, ketika kita diam, tak berupaya, dan membiarkan segalanya berjalan dengan sendirinya, keseimbangan baru itu bisa mengejutkan dan meruntuhkan segala yang tadinya kita perkirakan akan menjadi lebih baik. Informasi yang bertumpuk di hadapan kita berkat kemajuan teknologi bisa mempersulit atau memudahkan pilihan-pilihan kita, bergantung kepada sejauh mana kejernihan perspektif kita. Petunjuk agama pada era modern ini bersaing dengan milyaran informasi yang bertebaran dan diproduksi oleh semua yang berambisi mengendalikan dunia. Salah-salah, agama bisa menjadi usang (obsolete) dan ditinggalkan orang.

Wallah a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *