Satu Islam Untuk Semua

Friday, 08 June 2018

Renungan Pagi – Abdillah Toha: Dakwah


Abdillah Toha

islamindonesia.id — Abdillah Toha: Dakwah

 

Oleh: Abdillah Toha

“Dakwah yang efektif adalah juga dakwah yang tidak berisi hal-hal yang horor dan menakutkan, penuh ancaman, tetapi lebih ditekankan kepada sifat Allah Yang Rahman dan Rahim”

Secara sederhana dakwah berarti mengundang atau mengajak. Dakwah Islam berarti mengajak orang diluar Islam untuk memeluk agama Islam. Bagaimana dengan dakwah yang sasarannya adalah muslim. Dalam hal ini dakwah berarti mengajak muslim untuk memahami Islam dengan benar dan berperilaku sebagai Muslim yang benar.

Dakwah dapat dilakukan dengan pendidikan, khotbah, ceramah, atau contoh keteladanan. Yang terakhir ini paling sulit. Pendakwah bisa berbicara berbuih-buih tetapi perilakunya bisa tidak mencerminkan apa yang diucapkan. Atau tingkah laku muslim sebagaimana yang digambarkan dalam dakwahnya tidak terjadi dalam kenyataan.

Dakwah sebenarnya adalah bagai upaya marketing atau menawarkan produk atau jasa agar dibeli. Pembeli baru tertarik untuk membeli bila harganya terjangkau dan produk atau jasa yang ditawarkan menarik dan berkualitas. Atau ada bukti bahwa pengguna produk puas.

Begitu pula dengan dakwah. Dakwah Islam yang efektif adalah dakwah yang membuktikan bahwa Islam sangat bermanfaat bagi pemeluknya dan telah terbukti bahwa pemeluknya telah mendapat manfaat besar dari Islam dan menjadi manusia yang unggul. Juga harga untuk menjadi muslim tidak terlalu mahal karena tidak harus membayar dengan pengorbanan yang besar karena menjadi muslim itu sederhana dan tidak rumit.

Kristen menawarkan konsep salvation atau keselamatan dengan berpegang pada doktrin “dosa awal”. Mereka percaya bahwa memeluk agama Kristen dan menerima Yesus cukup untuk menjadikan pemeluknya selamat dari hukuman Tuhan.

Islam sebaliknya percaya bahwa setiap manusia fitrahnya suci dan Muslim akan kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci. Islam menawarkan perangkat moral dan spiritual guna membersihkan fitrah manusia yang telah terkotori semasa hidupnya di bumi.

Mayoritas penduduk dunia adalah orang biasa yang bukan ilmuwan, cendekiawan, atau peneliti. Mereka menilai keyakinan, kepercayaan, ideologi, atau agama dari kesan dan gambaran tentang kualitas pengikutnya. Bukan dengan mempelajari dengan serius sebagaimana ilmuwan. Agama, termasuk Islam, menjadi menarik bagi orang luar bila pemeluknya dinilai maju, beradab, atau bahagia.

Karenanya mungkin dakwah Islam yang efektif bagi orang luar bukan dengan ceramah dan khotbah tetapi dengan membangun umat menjadi manusia-manusia yang maju, sejahtera, pandai, beradab, dan bahagia.

Bila demikian, di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, yang diperlukan barangkali bukan banyak ulama dan ustad tapi pemerintah dan masyarakat madani yang dapat memakmurkan dan membahagiakan rakyatnya serta mewujudkan peradaban yang tinggi dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya yang berakhlak.

Inilah bentuk dakwah yang tidak tampak di dunia Islam. Justru sebaliknya, dalam berbagai suvei index negeri-negeri paling damai, paling bahagia, paling makmur, paling demokratis, atau paling maju ilmu pengetahuan dan teknologinya, dunia Islam nyaris selalu berada di urutan terbawah.

Dakwah yang efektif adalah juga dakwah yang tidak berisi hal-hal yang horor dan menakutkan, penuh ancaman, tetapi lebih ditekankan kepada sifat Allah Yang Rahman dan Rahim. Agama penuh kasih sayang yang memberikan harapan serta optimisme bagi kehidupan di dunia dan di akhirat. Agama yang membebaskan manusia dari keterasingan, agama yang bersahabat dengan kemanusiaan dan alam.

Bagaimana dengan dakwah internal atau dakwah ke dalam yang sasarannya adalah mereka yang telah memeluk agama Islam? Sesuai dengan apa yang diuraikan diatas, karena muslim merupakan garis depan persepsi orang tentang Islam, maka sasaran dakwah ke dalam adalah menjadikan dan mendorong muslim lebih baik, lebih kuat imannya, lebih beramal saleh, lebih berakhlak, lebih bersahabat, lebih maju, dan lebih berprestasi dalam bidangnya.

Dakwah yang memprovokasi kekerasan dan kebencian bagaikan pedagang senjata yang memasarkan barang dagangannya. Ayat dan hadits “dijual” sebagai senjata siap pakai untuk melawan musuh. Muslim dibayang-bayangi oleh ketidak-amanan dan digambarkan seakan sedang dalam ancaman musuh.

Dakwah harus dipisahkan dari pelajaran agama seperti juga dai berbeda dengan guru agama. Guru agama harus menguasai seluk beluk agama secara rinci, sedangkan dai lebih perlu menguasai prinsip-prinsip dan nilai-nilai utama dalam agama Islam. Karenanya dakwah yang efektif bisa disampaikan oleh mereka yang tidak memiliki pendidikan khusus dalam bidang agama tetapi berwawasan dan menguasai esensi dari misi kenabian Muhammad SAW.

Justru dakwah yang paling efektif barangkali adalah dakwah yang bermuatan keteladanan dan reklame Islam yang disampaikan oleh Muslim yang sukses dan berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan, usaha, olahraga, kenegaraan, atau profesi lainnya. Wallah a’lam.

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *