Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 02 September 2018

Renungan Pagi – Abdillah Toha: AL-HAQ (KEBENARAN)


abdillah toha

islamindonesia.id – Kolom Abdillah Toha: AL-HAQ (KEBENARAN)

 

Itulah Allah yang kalian akui. Dialah satu-satunya Tuhan kalian yang terbukti ketuhanan-Nya dan wajib untuk disembah, bukan selain-Nya. Tidak ada apa-apa setelah kebenaran selain keterjerumusan dalam kesesatan. Maka, mengapa kalian berpaling dari kebenaran kepada kebatilan?” (Q 10:32)

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (Q 10:36)

Kebenaran mutlak hanya milik Allah. Allah itu sendiri adalah Al-Haq. Dan Allah melarang kita mendeskripsikan DiriNya kecuali dengan apa yang sudah disampaikanNya.

Semua kebenaran di luar kebenaran mutlak yang milik Allah hanyalah klaim manusia tentang kebenaran. Ia adalah kebenaran nisbi. Persangkaan manusia tentang apa yang benar. Kebenaran sementara sampai dibatalkan atau diperbaiki oleh kebenaran baru.

Al-Quran berisi wahyu Allah kepada Nabi terakhir dan dengannya kita beriman bahwa ia merupakan kebenaran mutlak. Namun demikian, pemahaman kita atas wahyu Allah itu tidak mutlak dan kita tidak dibenarkan mengklaim sebagai yang paling benar dalam memahaminya.

Berbicara tentang pemahaman agama, ada empat kelompok agamawan. Pertama, cendekiawan sejati yang sadar akan keterbatasan ilmunya dan tidak pernah mengklaim paling benar. Inilah kelompok ulama mumpuni, namun biasanya tidak terlalu banyak jumlah pengikutnya karena dalam bimbingannya dia tidak pernah menawarkan satu pandangan yang selesai dan satu solusi yang mutlak.

Kedua, kelompok yang merasa dan menganggap pemahaman mereka adalah yang paling benar. Kelompok ini sifatnya absolut, hitam putih, sorga neraka, dan semua masalah diberikan jalan keluar yang selesai. Mereka menganggap yang di luar mereka adalah sesat atau bahkan kafir. Karena menawarkan solusi gamblang yang mujarab, mudah dipahami, dan bisa langsung diterapkan, kelompok ini banyak pengikutnya.

Ketiga, kelompok awam yang terbatas pengetahuan agamanya dan karenanya sering terombang ambing atau mudah terbujuk oleh pembimbingnya. Mereka kesulitan mengikuti cara berpikir kelompok pertama dan cenderung lebih suka pemahaman hitam putih kelompok kedua yang tidak terlalu menguras daya pikir.

Keempat, adalah kelompok pembenar . Yang dimaksud disini adalah mereka yang lebih dahulu menetapkan keyakinan dan pandangannya baru kemudian mencari dalil pembenaran pada ayat-ayat Quran. Umpamanya, ketika ada penemuan ilmu pengetahuan (science) baru mereka kemudian mencari-cari ayat yang bisa menjelaskan, dicocok-cocokkan, kemudian mendeklarasikan bahwa itu semua sudah ada dalam Al-Quran. Inilah tipe muslimin yang minder atau rendah diri.

Kelompok pembenar lain adalah mereka yang menentukan lebih dahulu tujuan yang ingin dicapai sekaligus dengan cara pencapaiannya kemudian mencari pembenaran agama dengan mencari dan menafsirkan ayat-ayat yang “mendukung”. Sebagai contoh, mereka yang punya tujuan politik tertentu dengan mengatakan umpamanya orang kafir harus dijauhi bahkan dibunuh, kemudian mencari ayat yang cocok dan ditafsirkan sesuai tujuannya di luar konteks.

Masalah besar yang dihadapi dunia Islam saat ini barangkali, disebabkan oleh banyak faktor, antara lain oleh gagalnya kelompok pertama menerjemahkan pemahamannya tentang Islam ke dalam bahasa yang dipahami kelompok ketiga yang mayoritas, serta rendahnya tingkat ekonomi dan pendidikan kelompok ketiga itu yang menyebabkan sulitnya mereka menerima penjelasan yang rumit dan tidak selesai.

Pemahaman pesan dan wahyu Allah akan terus berkembang bersamaan dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan. Saya menafsirkan dzan (persangkaan) yang dimaksud dalam ayat di awal tulisan ini sebagai prasangka negatif. Pemahaman berdasarkan persangkaan yang dibimbing oleh ilmu dan akal sehat tidak boleh berhenti. Persangkaan berbeda dengan prasangka.

Prasangka adalah sikap curiga sebelum berupaya. Sikap seperti itu akan menjauhkan kita dari kebenaran. Persangkaan yang didasarkan kepada niat yang tulus, akan mendekatkan kita kepada kebenaran, meski belum tentu mencapai titik kebenaran mutlak.

Wallah a’lam.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *