Satu Islam Untuk Semua

Monday, 10 August 2015

OPINI – Poros Tunggal Keteraturan, Kepemimpinan


14593-2

Alam semesta bergerak sesuai aturan, seperti bumi dan bulan yang hanya bergerak sesuai porosnya. Ada siang dan malam, ada pula gunung sebagai pasak yang menopang keseimbangan. Semua berperan dengan aturannya.

Semut memiliki koloni, lebah madu memiliki ratu, mereka hidup dengan teratur. Bila semut atau lebah madu memisahkan diri dari koloni, maka mereka telah memilih keluar dari keteraturan yang justru merugikan dirinya sendiri.

Gerak raga manusia pun tak lepas dari keteraturan. Semua gerak tubuh dikendalikan oleh kepala yang berperan sebagai pengatur karena terdapat otak. Organ tubuh yang bergerak berlawanan dengan perintah otak menandakan telah keluar dari keteraturan dan keadaan yang semestinya.

Dalam maknanya yang lebih luas manusia hidup di dunia dalam keterikatan hukum dan kepemimpinan. Hukum dan kepemimpinan berfungsi agar keteraturan terjaga. Ada kepala negara, desa dan yang lebih sempit lagi kepala keluarga, semua memiliki fungsi untuk mengatur.

Aturan pula yang mengarahkan manusia agar terhindar dari bencana. Seperti dilarang membuang sampah di kali agar tidak banjir, dilarang menggunduli hutan agar tidak terjadi kerusakan alam, ataupun diterapkannya rambu-rambu lalu lintas agar teratur dan tidak terjadi kecelakaan.

Ada keteraturan berarti ada yang mängatur. Aturan pengelolaan negara, desa dan keluarga, diatur oleh manusia. Lalu, siapa yang mengatur alam semesta yang di dalamnya terdiri berbagai macam kehidupan dan aturan yang lebih luas? Siapa yang mengatur matahari sehingga hanya muncul di siang hari? jika matahari punya kehendak dan kekuatan sendiri, ia akan bergerak kemana saja dan kapan saja sesuka hati dan membakar apapun yang dilalui.

Islam mengajarkan kita meyakini adanya pencipta dari segala yang ada, pengatur dari segala yang teratur dan adanya ketidak-terbatasan dari segala yang terbatas. Ia yang diyakini sebagai Tuhan, Allah yang maha segalanya.

Manusia diatur melalui hukum-hukum Nya. Hukum mengarahkan manusia supaya tetap berada dalam keteraturan untuk menghindari bencana dan kerusakan. Allah melarang berjudi, berzina, dan menyakiti makhluk lainnya tentu ada maksud dan tujuan yang tak lepas dari menjaga keteraturan hidup manusia.

Allah yang Maha Kuasa, Maha Suci, dan tidak terbatas ruang dan waktu, dalam menyampaikan hukum tidak mungkin bersentuhan dan berkomunikasi langsung kepada semua manusia yang sifatnya terbatas. Ia kemudian menyampaikan hukum melalui utusan yang memiliki dua dimensi sekaligus; dimensi yang dapat berhubungan dengan manusia dan terhubung dengan Allah SWT.

Ialah seorang nabi atau rasul, pemimpin yang mengatur agar manusia dapat menemukan jalan menuju penciptanya, dan mengatur segala hukum berkehidupan sesuai aturan yang semestinya. Ia merupakan manusia terbaik, mengikutinya adalah sebuah keharusan demi menjaga keteraturan. Ia adalah pemimpin yang diutus untuk mengatur segala bentuk aturan kehidupan.

Tanpa pemimpin dan tanpa hukum-hukum Allah SWT, manusia ibarat pejalan tanpa tujuan. Ia akan melakukan segala kegiatan atas kemauan dan kesenangan yang berujung pada kerusakan. Ia bingung sehingga menjadikan matahari sebagai tuhan, bodoh sehingga menyembah patung yang dibuatnya sendiri, bahkan memuja harta sebagai ukuran kebahagiaan.

Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus untuk menyempurnakan agama dan menyampaikan hukum-hukum Allah swt kepada manusia.

Agama telah sempurna, tapi kini nabi telah tiada, sedangkan kehidupan terus berjalan. Lalu siapa yang bertugas mengawal agama yang telah ditinggalkan itu agar umat manusia generasi selanjutnya dapat mengambil hukum yang benar-benar ditinggalkan nabinya?

Fakta sejarah membuktikan, sepeninggal nabi banyak orang meriwayatkan membuat hadis-hadis palsu demi meraup keuntungan, kepentingan dan kekuasaan. Kita yang hidup jauh dari masa hidup nabi tentu harus berhati-hati dan benar-benar menyeleksi apa yang kita terima walau mengatasnamakan nabi.

Orang yang berfikir rasional akan berhati-hati dalam menentukan pemimpin, mereka akan memilih orang terbaik, terdekat dengan nabi, dan yang benar-benar menjaga segala wasiat dan ilmu yang ditinggalkan.

Kewaspadaan memilih pemimpin sangat diperlukan agar keteraturan kehidupan tetap terjaga. Jika salah memilih presiden, kita juga yang akan menanggung dan merasakan akibatnya. Apalagi salah memilih pemimpin agama, akan lebih besar dampak kerusakannya.

Malik/Islam Indonesia. Foto: uslanmam.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *