Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 25 November 2015

OPINI – Musim Hujan Hujatan


hate

Sikap otoriter Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, cukup efektif membuat suasana menjadi ‘kemarau’ bagi orang-orang yang menanti ‘hujan’ kebebasan. Atas nama “keamanan” dan “stabilitas nasional”, sikap kritis serta kebebasan berekspresi dan berpendapat tidak mendapat ruang di zaman itu.

Era Reformasi 1998, membuka babak baru bagi kehidupan berbangsa. Tumbangnya rezim Orde Baru setelah berkuasa 32 tahun, mengantarkan bangsa menuju musim ‘hujan’ kebebasan. Organisasi-organisasi ‘bawah tanah’ mulai bermunculan. Unit-unit usaha media mulai didirikan. Kicau suara di media sosial mulai nyaring dibicarakan. Nyaris kebebasan tidak lagi terkendali.

Saat Orde Baru, banyak rakyat ‘terbakar’ panasnya ‘kemarau’ di bawah kerasnya kepemimpinan penguasa saat itu. Lalu, apakah bangsa ini telah mempersiapkan sarana dan perangkat lengkap untuk menyambut derasnya arus ‘hujan’ kebebasan ini?

Arus kebebasan ini, selain memberikan ruang kebebasan berpendapat dan berekspresi yang sangat luas, di sisi lain juga dapat berpotensi menimbulkan ‘banjir’ informasi yang bisa jadi justru menelan banyak korban. Fitnah, cacian, serta pencemaran nama baik telah ‘membanjiri’ media sosial sehari-hari hingga saat ini. Dalam kasus-kasus tertentu, pengaruh media sosial tidak hanya berdampak pada ranah psikis saja, melainkan juga korban fisik bahkan berujung pembunuhan. Ini hanyalah sekelumit akibat dari ‘hujan’ hujatan yang tidak terkendali. Hal ini dapat bermula dari pengaruh opini yang menyesatkan, yang menggiring orang untuk membenci dan memusuhi orang lain melalui berbagai latar belakang; ras, budaya, maupun agama.

Manusia memiliki peran masing-masing dalam menghadapi ‘hujan’ hujatan ini; ada yang berperan menambah deras arus banjir yang biasa diperankan oleh mereka yang mudah terpengaruh informasi tanpa mengidentifikasi kebenaran sumber informasi; ada yang abai karena merasa tidak terkena dampak dan memilih di zona nyamannya sendiri; ada pula yang berusaha melawan walau arus terlalu deras.

Potensi ‘banjir’ hujatan ini sangat tinggi, dampaknya pun sangat luas. Terutama di Indonesia, yang di dalamnya terdapat perbedaan; ras, budaya, adat istiadat, maupun perbedaan agama dan berbagai keyakinan yang tidak sedikit jumlahnya.

Pendidikan yang humanis sangat diperlukan dalam kondisi seperti ini. Pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, hubungan sosial, kesantunan, penghormatan kepada orang lain, serta pendidikan toleransi. Pendidikan semacam ini diharapkan dapat menekan ‘deras’ laju ‘banjir’ hujatan yang meneror kedamaian dan keharmonisan sesama anak bangsa. Pendidikan yang mengajarkan setiap anak didik mengedepankan kasih sayang, mencari persamaan dan mendahulukan untuk menilai kebaikan-kebaikan orang lain ketimbang mencari perbedaan serta mencari kesalahan dan menanam bibit permusuhan. Keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar memiliki peranan penting dalam hal ini.

 

Malik/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *