Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 28 November 2015

OPINI – Menanti Pembalasan Beruang Merah


Russian President Vladimir Putin heads the Cabinet meeting at the Novo-Ogaryovo presidential residence outside Moscow on Wednesday, March 5, 2014. (AP Photo/RIA Novosti, Alexei Druzhinin, Presidential Press Service)

Kenekatan Turki menembak jatuh jet tempur  Sukhoi 24 milik Rusia di langit Suriah pekan lalu kontan membakar suhu politik Timur Tengah. Kalangan analis politik dan ahli militer memaparkan berbagai spekulasi yang bakal terjadi pasca insiden yang disebut-sebut nyaris memicu Perang Dunia III itu. 

Sebagian pengamat militer berpendapat Sukhoi 24 bukan pesawat yang didesain untuk pertempuran udara, pesawat vs pesawat, melainkan semata sebagai pesawat pembom. Sehingga wajar saja jika pesawat keteteran menghadapi jet F15 atau F16 Turki yang memang didesain untuk pertempuran dan manuver udara. 

Di sisi lain, Rusia sedang serius untuk membasmi para teroris, yang didukung Trio Horor — Saudi, Turki dan Qatar. Koar-koar Turki yang mengklaim ‘anti-teroris’, dengan “upaya” menangkap segelintir calon teroris yang singgah di Turki sebelum ke Suriah, adalah kontradiktif dengan keputusan Ankara menembak jatuh Sukhoi 24 yang sedang dalam misi membombardir para teroris.

Nah, cukup masuk akal pernyataan Putin, “kami ditusuk dari belakang”. Tindakkan pengecut Erdogan (baca: Turki) sontak membuat Putin berang. Negara yang tidak sebanding dari sisi manapun dengan Rusia itu, berani menikam Rusia dari belakang, tentu tindakan tidak patriotik dan mengejutkan. 

Kenekatan Turki
Dalam beberapa hari ini, trafik analisa memenuhi media masa pasca-penembakan Sukhoi 24 oleh F16 milik Turki, untuk mengungkap siapa dalang di balik kenekatan Turki. Kecurigaan muncul, ada faktor pendorong yg kuat bekerja di balik “layar” atas kenekatan Turki menembak Sukhoi 24 Rusia. 

Sebagian membangun analisanya berdasarkan beberapa kejadian sebelum tertembaknya Sukhoi 24. Beberapa negara yang “merasa” terancam oleh teroris, konon, melancarkan serangan ke kantong-kantong teroris selama kurang lebih satu tahun. Anehnya, serangan tersebut tidak banyak memberikan kesan yang serius bagi para teroris. Bahkan, kuat dugaan ‘serangan’ jusru ingin memperkuat mereka. Ini termasuk banyak kasus pasukan sekutu di bawah pimpinan Amerika “salah menjatuhkan” suplai senjata untuk membantu Kurdi ke pihak kelompok militan ISIS. 

Cerita segera berganti setelah Rusia masuk ke Suriah dengan “nawaitu” serius meluluh-lantahkan para teroris. Niatan itu terlihat dengan pengerahan sejumlah persenjataan canggih maupun dan penerjunan pasukan komando Spetnaz (baca:pasukan hantu). Anehnya, negara yang konon anti-teroris kini menjerit menyuarakan sikap anti-Rusia. Mereka bahkan berusaha menghalang-halangi aksi heroik Rusia. 

Dari beberapa alasan di atas, sebagian analis berpendapat kenekatan Turki menembak Sukhoi 24 berlatar mengerasnya sikap negara-negara yang menerapkan kebijakan luar negeri anti-Basyar Assad.

Kontradiksi Sikap
Langkah Turki dalam melawan teroris tidak tampak sebanding dengan langkah-langkahnya dalam mendukung para teroris anti-Basyar Assad. Ankara diketahui aktif  memuluskan jalur suplai para teroris, dari suplai persenjataan hingga calon-calon baru kombatan ISIS.  Langkah Turki menangkap beberapa calon teroris jelas tak sebanding dengan ribuan jihadis yang telah diloloskan Turki. Ini belum menghitung protes Ankara agar Rusia menghentikan gempuran terhadap teroris.

Option Balasan
Tikaman dari belakang Turki atas Rusia membuat “beruang merah” memerah marah. Harga diri sebagai negara kuat dalam militer dan peralatannya, anggota 5+1 pengambil veto di PBB dan juga rival Paman Sam diperlakukan tidak “senonoh” oleh negara yang tidak pernah masuk dalam daftar negara yang diperhitungkan secara militer. 

Di sisi lain, Rusia juga harus bersikap hati-hati dalam mengambil pilihan balasan bagi Turki yang, kelak, akan dikenang sepanjang masa. Balasan sekiranya tidak menjadikan Rusia terfokus pada Turki dan “melupakan” Suriah dalam menumpas gerombolan anti-Basyar Assad serta mengembalikan Assad dan negaranya aman dari gangguan.

Terdapat sejumlah pilihan yang dilontarkan kalangan analis, di antaranya; pilihan ekstrim dimana Rusia saling berhadapan dengan Turki dalam adu kekuatan militer. Sepertinya, Rusia pun enggan mengambil pilihan ini. Sebab, selain dikhawatirkan memecah konsentrasi Rusia dalam menumpas teroris, juga menambah daftar musuh baginya.

Pilihan kedua adalah memutuskan segala bentuk hubungan dengan Turki. Perlu diketahui, warga Rusia yang menjadi turis di Turki pada setiap tahunnya mencapai 4,3 juta orang. Selain itu, beberapa wkt lalu Erdogan mengunjungi Rusia dalam rangka membangun hubungan perdagangan, dimana nilai perdagangan tersebut mencapai US$ 30 juta. Dengan kejadian penembakan sukhoi24, hubungan perdagangan dan turis tidak memiliki jaminan akan berlangsung.

Pilihan ketiga, memberikan bantuan persenjataan bagi pemberontak Kurdi yg berada di Turki. Jika ini terjadi,maka Turki akan menjadi “Suriah” kedua.

Piliha keempat adalah menggabungkan pilihan ketiga dan kedua, jika ini menjadi prioritas Rusia, bukan saja Turki akan menjadi “Suriah” kedua, bahkan akan lebih parah. Dimana perekonomian Turki akan luluh-lantah. Perlu diketahui bersama bahwa Turki sekarang menempati posisi ke-17 negara di dunia dlm kemajuan ekonominya.

MVandarsky/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *