Satu Islam Untuk Semua

Friday, 04 September 2015

OPINI – Lupakan Musim Semi Arab, Kebangkitan yang Sebenarnya dalam Perjalanan


55e5b77fc46188fa528b4600

Oleh Catherine Shakdam

Api revolusi kembali menyala dan menyebar di Timur Tengah. Dari Lebanon, Iraq lalu Bahrain, Timur Tengah kembali menaruh harapannya pada kaum muda. Namun, revolusi yang kedua ini mengambil fokus baru dalam demonstrasinya; penegak hukum—pemerintahan.

Empat tahun pasca bentroknya rakyat Tunisia dengan aparat dalam melawan diktator—menginspirasi seluruh kalangan untuk melawan nepotisme, otoriterianisme, dan kekuasaan kapitalisme, Lebanon dan Irak kini menyiapkan lagu baru untuk revolusi kedua. Baru kali ini, demonstran menggunakan bahasa yang berbeda, tuntutan mereka berakar pada sekulerisme, perwakilan politik yang adil, serta keadilan sosial.

Jika “Musim Semi Arab” yang lalu dibajak dan dimasuki kepentingan politik, negeri teluk kini bangkit secara independen dan tak berpartai. Tapi kunci utamanya, Lebanon dan Irak sama-sama berdiri melawan segala bentuk kubu agama, sosial, dan etnis.

Ketika semangat demokrasi Tunisia dan Libya keburu hancur sebelum berbunga, negeri teluk tidak mengikuti permainan faksi manapun. Tidak dibiayai satu kelompok, tidak juga dijual pada kepentingan tertentu. Revolusi yang berkembang ini organik, ketika “Musim Semi Arab” adalah bentukan.

Berpegang teguh pada demokrasi, revolusi ini tetap menjaga pesan apolitis dan universalnya: perubahan untuk semuanya, dan untuk kebaikan semuanya! Dari Beirut ke Baghdad, tanah Arab kini menemukan suara baru pemudanya.

Montesquieu dan Robespierre abad ini telah lahir di jalan-jalan kota Arab. Ketetapan hati mereka makin kuat seiring tahun-tahun ketidak adilan ekonomi, penyalahgunaan politik, dan kolonialisme yang merajalela.

Dan jika Musim Semi Arab hanya terfokus pada permainan kekuasaan—membuat sistem yang menancap dalam bisa tetap bertahan meski masyarakat meminta reformasi—kebangkitan Lebanon dan Irak sama sekali tak menghiraukan perkataan setengah hati para politisi, dan janji manis untuk revolusi. Kali ini, negara teluk menginginkan perubahan absolut, mereka ingin membentuk ulang institusi dan menjauh dari bayangan penjajahan imperium Barat.

Lewat Lebanon dan Irak, teriakan Bahrain telah menemukan pesan baru yang jadi kelemahan para elit; sektarianisme dan eksklusifitas perekoomian.

Apa yang terjadi di jalanan Manama pada 2011 kini mengakar di Timur Tengah, bahkan sampai sudut palung sekuler di negeri teluk; di mana nasionalisme kini bersatu dengan indentitas Arab mereka.

Di tengah kolonialisme Barat yang merajalela via tangan-tangan teo-fasis Arab Saudi, orang-orang memutuskan untuk berdiri bersama melawan segala bentuk penindasan, baik itu politik, ekonomi, sosial, bahkan agama. Air mata para revolusioner menandai keruntuhan era perjanjian Sykes-Picot.

Tidak lama lagi, masyarakat Arab tidak akan didefinisikan oleh standar yang ditentukan oleh kekuatan yang datang hanya untuk menyedot dan menghabisi kekayaan alam mereka. Masyarakat Arab tidak akan lagi terbatasi identitas yang lebih menyerupai para kolonialis ketimbang diri mereka sendiri.
Dari Beirut sampai Baghdad, lalu di atasnya Manama, Timur Tengah sedang membangun bentuk nasionalisme baru yang ditempa dengan pluralisme dan persamaan.

Dan jika berabad-abad dunia didefinisikan lewat bilangan politik; kolonialisme versus sosialisme, Timur Tengah telah melihat sebuah bentuk baru yang menggambarkan mimpi demokrasi bangsanya, bukan peralihan ke republikanisme Barat.

Jika ingatan tidak menghianati saya, tidak aka satupun revolusi yang jadi prestasi sejak revolusi merahnya Rusia. Dan meski gerakan revolusioner ini masih kecil, potensinya tetap sangat besar.

Mereka harus sukses, barisan mereka harus kebal terhadap suapan dan manipulasi, mereka akan terlihat bangkit menuju batu pertama sistem politik dan ekonomi yang mewakili sejarahnya, tradisinya, agamanya, dan aspirasi sosial. Siapa bilang Timur Tengah harus didefinisikan dengan sektarianisme dan kebencian etnis?

Narasi ketakutan dan kebencian ini hanya akan berhasil ketika itu membuat orang-orang di suatu negara terpecah-belah, yang mencegah mereka dari menghadapai musuh sebenarnya dalam cerita ini; para bankir dan tatanan penguasa yang tamak.

Dan untuk para politikus senior serta media jualannya yang telah memainkan isu sekte dan Iran demi menjauhi masyarakat dari isu yang sebenarnya, saya katakan; tidak, Iran tidak mempromosikan kebangkitan Islamnya, mereka hanya mendukung demokratisasi di Timur Tengah. Dan tidak, Rusia tidak menghianati segala kode etik jurnalis dengan menyediakan pemberitaan yang adil bagi setiap peristiwa.

Dunia sudah berubah, dan sekarang waktunya orang-orang barat yang berpikir baik melepas kacamata berwarnanya dan melihat tangisan Arabia, sebuah gambaran dari mimpi dan keinginan mereka sendiri.
Di tengah kesulitan ekonomi, tekanan politik dan hilangnya hak sipil yang belum pernah terjadi, Lebanon, Irak dan Bahrain berambisi hidup dengan kehormatan, kebebasan berpikir, bekerja, beribadah, dan bergerak dengan batasannya sendiri.

Bolehkah kita menolak mereka? Menolak hak-hak mereka? Bagaimanapun, kemerdekaan dan persamaan hak tidak mengenal warna dan keyakinan; mereka bersifat universal.

Lewat manipulasi Barat, Irak dan Lebanon berada dalam kejatuhan finansial dan sosial, dikhianati para elit politik yang mewakilinya, dan ditentukan untuk hidup dalam kesengsaraan ketika sebagian kecil darinya hidup dalam kekayaan. Berapa lama lagi Arabia harus membungkuk sebeleum mengangkat kepalanya lagi?

Saya pikir jawabannya sekarang berada di negeri teluk.

Muhammad/rt.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *