Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 16 July 2015

OPINI – Keganjilan Rahasia


1373092163_photo__6_

Oleh: Candra Malik*

Malam itu, saya mengambil ba’iat dari Rais Aam Ahli Al-Thariqat Al Mu’tabarah Al Nahdliyah, Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, dengan  penuh kesadaran. Saya meletakkan kepala di pangkuannya, memegang erat tangan kanannya, menyentuhkan kaki saya ke lutut Habib Luthfi yang belum sempurna duduk di jok depan mobil pengantarnya. Seorang karib saya, tertegun melihat adegan singkat di depan rumah sang guru.

Telapak tangan Habib Luthfi terasa hidup di ubun-ubun saya. Lamat-lamat saya dengar dia membisiki doa dan ayat suci. Sejak saat itu, saya merasa kian mantap ‘bergerilya’, apalagi sebelumnya juga menerima ba’iat dari Mawlana Syekh Hisyam Kabbani, Mursyid Thariqat Naqsabandiy Nazimiyyah – awalnya bernama Thariqat Naqsabandiy Haqqani, berubah sepeninggal Mawlana Syekh Nazim Adil Al Qubrusi.

Jauh hari sebelumnya telah mendapat ba’iat dari KH A. Shohibul Wafa Tajul Arifin, Mursyid Thariqat Qadiriyah Naqsabandiyah, yang memberi pondasi yang kokoh bagi saya untuk belajar tasawuf lebih giat. Sejumlah guru lainnya menanamkan benih Tauhid yang istimewa dalam tubuh saya. Belajar memang tak kenal waktu; ia hanya mengenal pembelajar yang mengasah kalbu. Bukan hanya akal yang ditajamkan, tapi juga hati.

Saya sering ditanya, “Bagaimana mencari Mursyid yang tepat untuk diri kita?” Saya selalu menjawab, “Biarlah Mursyid yang menemukan Murid.” Tak ada yang tahu siapa yang akan hadir sebagai pembimbing dan pengantar kita, Waliyyan Mursyidan, menapaki jalan sunyi menuju Kesejatian. Kita sering tak sadar bahwa sebenarnya kita mencari yang ‘tidak ada’, dan berakhir menemukan yang ada. Lalu untuk apa mencari? Kenapa tidak menemukan?

Orang yang mencari adalah mereka yang merasa ‘ganjil’ — belum ‘genap’. Ini bekal bagus untuk menapaki jalan sunyi. Karena hanya sesama ganjil yang bisa menggenapi. Mursyid pun seorang ganjil. Dan jangan kaget ketika Murid merasakan banyak keganjilan-keganjilan setelah bertemu Mursyid.

Cara mengetahui seseorang benar-benar Mursyid adalah: ia tak mencari Murid. Sebaliknya, Mursyid menemukan Mursyid. Sebab tugas utama Mursyid bukan menyebar ilmu, tapi menjaga ‘rahasia’. Dan ketika menjadi Murid, seseorang akan menjadi bagian dari rahasia itu, lalu turut menjaga rahasia. Lalu mengapa ada Mursyid yang tampil di hadapan publik? Mengapa tak menutup diri saja?

Rahasia adalah rahasia. Ia memiliki sistemnya sendiri untuk menjaga dirinya tetap jadi rahasia. Tak ada rahasia yang bocor. Rahasia memang unik. Jika terbuka, maka tidak bernilai dan tidak terjual. Jika tertutup, tidak ternilai dan tidak pula terbeli. Ketika dibuka selebar-lebarnya malah tak ada yang percaya. Ditutup serapat-rapatnya memunculkan kepercayaan yang bisa ekstrem dan jadi mitos.

Ketika seolah-olah dibiarkan dalam keadaan terbuka, kebenaran rahasia jadi diragukan. Padahal keraguan itulah dinding pelindung bagi rahasia. Dan ketika seakan-akan ditetapkan dalam keadaan tertutup, kebenaran rahasia jadi semakin diyakini. Padahal keyakinan-keyakinan itulah selaput penutup rahasia yang sesungguhnya. Terbuka dan tertutup toh sama belaka.

Inilah keganjilan rahasia. Para penjaga rahasia itu jadi ganjil di antara orang-orang yang genap, atau yang berusaha menjadi genap. Yang ganjil kemudian distempel ‘gila’, yang genap menyebut dirinya ‘waras’. Padahal, mana ada Nabi dan Rasul, pemimpin umat, tokoh dunia, dan orang besar yang tak dianggap gila oleh kaum di zamannya? Mereka dianggap berbeda, keluar dari kemapanan, anti-meanstream, tidak waras, karena tidak dipahami khalayak.

Saya jumpa Kumayl Mustafa Daood, personil grup musik Debu yang berguru Tasawuf kepada sang ayah, Syekh Fattah, Mursyid Thariqat Syadziliyah, di satu perhelatan industri musik. Lelaki kelahiran Oregon, Amerika Serikat, ini secara terbuka juga telah menyebut dirinya sebagai sufi. Mustafa lapang dada saja ketika banyak yang mempertanyakan kesufiannya. “Sufi suka dianggap gila, hina. Tidak masalah. Justru terasa senang dan leluasa,” serunya.

Ketika kita berbeda pandang tentang siapa yang Sufi, siapa yang berhak menyebut atau disebut Sufi, mengapa ada Sufi yang mengasingkan diri dan ada pula Sufi yang mengemuka di keramaian, serta tidak ada Sufi yang mengaku, itu sah-sah saja. Tak apa berlainan. Toh kita tetap bisa hidup berdampingan. Masing-masing dari kita memiliki bakat Cinta dan mencintai. Tak ada yang dilahirkan sebagai pembenci. Kasih Sayang Ilahi hidup dalam setiap diri.

Dalam keseharian Sufi, pun disebut tradisi, ada saja tradisi yang ganjil. Dari mulai ucapan-ucapan yang ekstase sehingga keluar dari kewajaran akal manusia, yang lalu populer dengan istilah syathahat, sampai polah tingkah yang ganjil, yang kemudian disebut jadzab. Gerak-gerik penjaga rahasia memang susah ditebak, karena memang tak disangka-sangka. Nyaris tidak ada yang lurus-lurus saja. Namun, itu tidak diniatkan sebagai manuver.

Saya? Ah, saya tidak punya keganjilan apa pun. Saya hanya menemani orang-orang yang menyayangi daun tembakau dan biji kopi. Setiap malam membuka pintu gerbang Thariqat Al Inshomniyah untuk siapa pun yang akan masuk. Tak harus hobi melek malam, tak pula harus suka begadang. Yang tidur dan tertidur pun boleh-boleh saja menyebut dirinya jamaah thariqat ini. Tidak ada ba’iat. Hanya Allah yang tidak tidur, tidak pula mengantuk. Saya? Cuma insomnia. []

*praktisi Tasawuf yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *