Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 17 January 2016

OPINI – Apa Sebab Tertarik Menjadi Teroris?


bom-sarinah_20160114_115537

Oleh: Abdillah Toha

Serangan teroris mengejutkan di siang bolong dan di tengah-tengah pusat keramaian ibukota telah menghentakkan kesadaran kita bersama tentang bahaya terorisme. Apa sebenarnya penyebab anak-anak muda yang tampak sehat bisa berubah menjadi monster penjagal manusia tak bersalah?

Kita sudah sering mendengar bahwa terorisme tidak dapat diberantas sekadar dengan tindakan represif bersenjata, tetapi kita juga harus mencoba mengetahui akar permasalahannya sehingga mungkin dapat ditemukan jalan bagi tindakan pencegahan sebelum lebih banyak pemuda terjerumus ke dalam lumpur kriminal ini. 

Banyak sekali telah ditulis tentang hal ini, tetapi kali ini saya hanya akan membahas dari sisi kejiwaan dan bertanya mengapa seseorang bisa tertarik menjadi anggota dari gerombolan teroris. Karena saya bukan ahlinya maka apa yang akan saya sampaikan dibawah ini adalah beberapa pandangan berbagai ahli di bidangnya yang pernah saya baca dan simak. 

Dengan pengecualian teroris tunggal tidak waras yang sering terjadi di Amerika dalam melakukan penembakan membabi buta di sekolah-sekolah umpamanya, para ahli yang telah mendalami masalah ini sepakat bahwa pemuda-pemuda yang tertarik dan bergabung dalam terorisme berkelompok bukanlah lantaran mereka yang gila, sakit jiwa atau paranoid. Mereka adalah pemuda normal dan tidak dihinggapi delusi.

Kebanyakan dari mereka adalah anak muda usia yang sedang berada pada periode sulit dalam kejiwaan ketika mereka baru menyadari dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri. Karena merasa rapuh, resah, dan terpisah, mereka mencari-cari pegangan, identitas diri serta keinginan untuk punya rasa memiliki dan dimiliki.

Itu pulalah barangkali yang menjelaskan banyak remaja dan anak muda yang bergabung dalam kelompok gang, fans club, kelompok pemuja grup musik dan sejenisnya untuk menghilangkan rasa keterpisahannya, menguatkan identitasnya, dan mendapat semacam “keluarga baru”.

Salah satu kelompok yang juga bisa menarik bagi para pemuda ini adalah kelompok agama yang ekstrim, yang menawarkan sejenis komunitas yang saling mendukung dengan keyakinan bersama. Kelompok-kelompok ini juga kemudian memberikan status bagi mereka yang tadinya tak dimiliki oleh para pemuda ini.

Lalu mengapa mereka kemudian tega berbuat sesuatu yang jauh dari rasa kemanusiaan? Mereka sebenarnya juga manusia-manusia biasa yang memiliki perasaan alami seperti empati dan iba kepada sesama karena mereka juga punya keluarga dan kawan. Keberutalan teroris terjadi ketika lampu empati dan manusiawi di benak dan hatinya dimatikan dan diganti dengan keyakinan dan tujuan-tujuan yang kuat tetapi sesat.

Ketika itu mereka tidak lagi melihat dunia dengan persepsi biasa dan  pengalaman pribadi akan tetapi dari kacamata abstrak dan konsepsional, seakan dunia dibagi kedalam kotak-kotak dan kategori-kategori. Manusia yang berada diluar kotak atau kelompok sendiri yang telah ditanamkan di benaknya sebagai musuh, adalah sekadar lian atau obyek yang harus dienyahkan tanpa rasa iba.

Dengan sistem cuci otak dari kelompoknya, mereka telah menghilangkan sisi manusia dari orang lain. Tak mampu melihatnya sebagai individu-individu tetapi unit-unit dari sebuah kelompok kolektif dan membebankan kepada setiap individu diluar kelompoknya itu  tanggung jawab atas  kesalahan pihak lain.

Teroris adalah kumpulan orang yang karena berbagai alasan, gagal mendapatkan makna hidup dari perjalanan hidup sebelumnya kemudian menemukan sebuah kelompok yang menawarkan “makna hidup” yang baru dan sekaligus makna kematian. Tentu saja makna-makna baru yang ditawarkan oleh kelompok teroris ini didasarkan atas penafsiran keyakinan dan tujuan yang keliru dengan motif mengalahkan apa yang mereka anggap sebagai musuh mereka.

Kelompok teroris dan calon teroris ini berbentuk sejenis piramida dimana dibagian atas adalah kelompok yang menggunakan kekerasan sedang di lapis bawah adalah mereka yang memiliki keyakinan dan ideologi serupa, baik yang setuju ataupun belum tentu setuju dengan penggunaan kekerasan. Di lapis bagian bawah inilah merupakan ladang untuk rekrutmen mereka.

Siapa saja mereka di lapis bagian bawah itu? Mereka adalah para pengikut kelompok garis keras yang setiap kali mendapat khotbah tentang berbagai ancaman abstrak yang sedang dihahadapi umat. Ancaman terhadap eksistensi agamanya,  ancaman terhadap jiwa penganutnya, ancaman terhadap kemurnian faham agamanya, dan ancaman-ancaman lain yang tidak masuk akal. 

Inilah kelompok yang mudah mengkafirkan orang yang tidak seagama dengan mereka maupun menganggap sesat orang-orang yang seagama tetapi tidak sefaham dengan penafsiran mereka tentang agamanya. Kelompok lapis bawah ini, sebagian mendukung terang-terangan kekerasan yang dilakukan oleh lapis atas piramida dan sebagian lain mendukung secara tersamar.  

Keasamaan lapis atas dan lapis bawah adalah mereka sama-sama melakukan promosi besar-besaran atas ideologi garis keras mereka. Dengan bantuan internet, kelompok-kelompok ini telah mendapat jalan pintas yang cepat dan murah untuk menjajakan militansi mereka. Teroris dengan pena ini menyebarkan berbagai kebohongan tentang gawatnya situasi untuk mendukung gagasan mereka dan memanasi semangat simpatisannya. Memberikan label-label kepada kelompok, organisasi, dan lembaga tertentu sebagai musuh bersama yang harus diperangi.

Bila perlu, memutar balikkan berita dan fakta kekacauan di Timur tengah dan negeri lain guna memperkuat argumen mereka. Menggunakan tehnik-tehnik digital untuk mengubah dan menyebarkan gambar-gambar seram tentang kekuatan mereka dan ketidak-adilan yang menimpa umat. Menyerang kebijakan pemerintah yang dianggap taghut dan tidak Islami. Semua itu mereka lakukan secara massif dan hampir terkoordinasi dan berulang-ulang.

Karena bertubi-tubi, baik didunia maya maupun dalam khotbah-khotbah oleh orang-orang yang dianggapnya memiliki otoritas ilmu agama, banyak orang yang tadinya pasif, tidak mempunyai dasar agama yang kuat dan informasi yang cukup menjadi terpengaruh dan terseret kedalam konspirasi mereka.

Seharusnya tidak terlalu sulit bagi pemerintah dan aparatnya untuk mengidentifkasi kelompok-kelompok garis keras yang merupakan ladang subur bagi rekrutmen teroris. Namun demikian, sejauh ini tampaknya pemerintah segan atau belum punya kemauan keras untuk bertindak karena berbagai alasan seperti alasan tidak adanya payung hukum yang jelas, atau mungkin karena banyaknya prioritas lain yang masih menjadi fokus pemerintah. Membiarkan kelompok-kelompok garis keras ini bermanuver bebas berarti menunda terjadinya musibah yang lebih besar. Mengambil tindakan tegas sekarang lebih murah daripada menunggu sampai kekacauan terjadi dan korban orang-orang tak bersalah jatuh.[]

*Tulisan ini pertama kali tayang di situs Detik.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *