Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 02 September 2017

Manfaat Momentum Kurban untuk Reorientasi Duniawi Pemimpin dan Politisi  


Manfaat Momentum Kurban untuk Reorientasi Duniawi Pemimpin dan Politisi

islamindonesia.id – Manfaat Momentum Kurban untuk Reorientasi Duniawi Pemimpin dan Politisi

 

Hari Raya Idul Adha atau juga yang dikenal dengan Idul Qurban bagi umat Islam merupakan hari raya yang penuh dengan makna historis, sosial, maupun filosofis.

Secara historis Idul Qurban lahir dari adanya rasa ikhlas Nabi Ibrahim as beserta anaknya yaitu Nabi Ismail as, untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Bagi Nabi Ibrahim, upaya mengikhlaskan anaknya Ismail untuk dikurbankan dapat menjadi sebuah ujian yang sangat berat, karena pada hakikatnya beliau sudah lama menantikan seorang anak yang diharapkan dapat menjadi generasi penerusnya.

Namun karena itu adalah perintah dari Allah SWT, maka keduanya kemudian saling meneguhkan hati untuk menjalankan apa yang diperintahkan. Rasa ikhlas hati itulah yang kemudian membuat Allah SWT, memerintahkan keduanya untuk menggantinya dengan menyembelih hewan kurban.

Rasa ikhlas dan mau berkorban itulah yang kemudian menjadi contoh baik dalam sejarah Islam, bagaimana ketaatan seorang manusia terhadap Sang Pencipta perlu selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Atas peristiwa itu pula kemudian Allah SWT, memerintahkan Nabi Muhammad SAW, untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim as, dan Nabi Ismail as, kepada umatnya (dalam QS Maryam [19]: 54; dan QS Ash-Shafaat [37]: 103, 104, 107).

Atas dasar itulah maka hingga saat ini umat Islam selalu dapat mengenang sejarah dan makna dari Idul Qurban. Namun demikian makna Idul Adha atau kurban sejatinya tidak hanya bagaimana mengenang sejarah keikhlasan serta rela berkorban Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as, tetapi juga bagaimana kemudian dari kurban itu muncul nilai-nilai sosial yang dapat diambil pelajarannya.

Dengan berkurban kita mengimplementasikan nilai-nilai sosial dengan diharuskan peka terhadap kondisi masyarakat di sekitar, untuk kemudian mau membagi hasil dari kurban kepada saudara-saudara yang tidak mampu.

Proses berbagi ini tentunya diyakini juga dapat menumbuhkan rasa kebersamaan di antara sesama di tengah masyarakat, tidak boleh ada perasaan bahwa yang kaya atau memiliki jabatan adalah lebih tinggi derajatnya daripada yang lain.

Bagi seorang politisi yang beragama Islam, sejatinya Idul Adha atau Idul Qurban juga harus dapat dijadikan sebagai sebuah momentum perubahan dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kurban harus dapat diterjemahkan sebagai sebuah upaya dalam rangka menumbuhkan rasa ikhlas dalam bekerja dengan diniatkan sebagai ibadah, ketika rasa ikhlas sudah muncul maka potensi-potensi untuk melakukan penyimpangan dalam melakukan pekerjaan dapat disingkirkan.

Di sisi lain kurban juga harus dapat memunculkan sikap kepekaan sosial seorang pemimpin dan politisi, yaitu dengan jabatan yang dimilikinya mereka harus dekat dengan rakyat serta harus mau berbagi.

Hakikat berpolitik memang lekat dengan upaya meraih kekuasaan, namun demikian kekuasaan tanpa rakyat adalah sebuah kemustahilan.

Dalam sebuah negara demokrasi, rakyat secara formal dianggap sebagai pemegang kedaulatan dan kekuasaan tertinggi, bahkan ketika pelaksanaan Pemilu, rakyat selalu menjadi objek yang didekati oleh partai politik maupun politisi.

Sayangnya hanya sedikit politisi dan pemimpin yang kemudian memang benar-benar peduli terhadap nasib rakyat, ini mengindikasikan bahwa nilai kurban belum diresapi secara utuh oleh sebagian besar politisi dan pemimpin di negeri ini.

Kurban bagi sebagian politisi dan pemimpin masih sebatas dimaknai sebagai sebuah ritual menyembelih hewan kurban dan perayaan keagamaan dalam satu waktu.

Boleh dikatakan hingga saat ini belum sepenuhnya ada sinkronisasi antara aktivitas berkurban melalui penyerahan dan penyembelihan hewan dengan nilai-nilai dari Idul Qurban itu sendiri. Masih ada politisi dan pemimpin Muslim yang kemudian tersangkut kasus korupsi dan menyalahgunakan jabatan.

Ketika seorang politisi dan pemimpin Muslim terlibat sebuah kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang maka ada orientasi duniawi yang sesungguhnya belum berhasil dia selesaikan, sebab rasa ikhlas dan menjadikan pekerjaan sebagai ibadah belum menjadi bagian yang menyatu dalam diri dan jiwanya.

Esensi nilai kurban apabila diterapkan secara benar dalam politik maka seharusnya dapat mengubah orientasi duniawi seorang politisi atau pemimpin, alasannya bahwa kurban mengajarkan dan mencontohkan bagaimana manusia harus memiliki keikhlasan dan kepekaan sosial.

Seorang politisi dan pemimpin yang berkurban seharusnya dapat meresapi makna tersebut, yaitu bagaimana rasa saling berbagi itu dapat diimplementasikan dalam keseharian kehidupannya.

Ketika rasa berbagi berhasil diresapi maka orientasi dalam menjalankan pekerjaan akan tertuju kepada kepentingan rakyat, ketika yang bersangkutan kemudian menjadikan profesi dan keahliannya sebagai ladang untuk beramal dan beribadah.

Seorang politisi dan pemimpin dalam Islam memang sudah sepatutnya selesai dengan urusan orientasi duniawinya, sehingga keahlian dan pekerjaan yang dilakukannya perlu sepenuhnya diniatkan untuk kepentingan umat.

Ketika umat atau rakyat diperhatikan dengan baik, dan antara rakyat dengan pemimpin tidak ada batasan sosial, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang maju, sejahtera dan berkeadilan.

Semoga dengan Idul Adha dan diresapinya nilai-nilai kurban maka perubahan yang positif akan terjadi di Tanah Air.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *