Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 19 September 2018

KOLOM – Risalah untuk Imam Husein bin Ali


B3AEF3AD-F2ED-410B-A62F-B703D7F2C160

islamindonesia.id – KOLOM – Risalah untuk Imam Husein bin Ali

 

Oleh: Habib Abu Bakar bin Hasan al Attas

 

Aku menulis surat yang kecil ini, dengan tangan yang penuh dengan noda dan dosa.

….السلام عليك يا أبا عبد الله

Berbahagialah engkau wahai Imam Husein, engkau telah menjalani apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasulmu, bahwa engkau akan mengakhiri hidupmu di bumi Karbala, nama yang disebut oleh Allah, nama yang disebut Rasul, nama yang disebut oleh Jibril, bahkan nama yang dibisikan Ibumu Fatimah kepada Saudarimu Zainab.

Berbahagialah segenggam tanah yang suci, dari tangan Yang Maha Suci, ke tangan Jibril yang suci, ke tangan Ayah dan Ibumu yang selalu disucikan Allah Rabbul’Alamin.

Bahkan Yunus bin Matta’Alaihissalam, sering datang untuk mencium dan memegang tanah yang akan ditempatkan jasadmu wahai Putra Fatimah, juga Isa ‘Alaihissalam berjalan dari Masjid Al Aqsha ke Nainawa hanya untuk mencium tanah yang akan dibaringkannya jasadmu. Berbahagialah wahai Imam Husein putra Rasul, Allah telah mengabadikan lima nama dalam Surah Al Ahzab, sesungguhnya keinginan Allah, bukan keinginan Para Nabi, bahkan bukan keinginan Para Malaikat untuk membersihkan kalian wahai Keluarga Rasulullah, dari segala noda sebersih-bersihnya, bahkan Datukmu Rasulullah telah memohon kepada Allah, agar Allah mencintai orang-orang yang mencintaimu wahai Putra Fatimah.

Terimalah risalahku ini wahai Putra Ali, wahai Putra Fatimah, semoga Allah dan Rasul, Ayah dan Ibumu dan engkau sendiri, meridhai aku dan keluarga, sebagai orang yang mencintaimu dan aku memohon berikanlah syafaatmu untuk orang-orang yang mencintaimu. Amin Ya rabbal’alamin

Berbahagialah wahai Putra Rasul, berbahagialah wahai Putra Ali, berbahagialah wahai Putra Fatimah.

 

9 Muharram 1440 H

Pelayanmu

 

Catatan redaksi:

Imam Husain, keluarganya dan para sahabatnya dibunuh secara keji di Karbala pada hari kesepuluh Muharram,  tahun 61 Hijriah (9-10 Oktober 680 Masehi). Tragedi pembantaian cucu Nabi Muhammad  Saw ini dikenal dengan nama Asyura dan diperingati setiap tahun di berbagai negara.

Di Nusantara, Asyura juga sudah lama diperingati. Orang Jawa menyebutnya dengan Suro. Mereka  memperingati hari ini dengan berbagai upacara untuk meminta keselamatan dan membuang kesialan. Masyarakat Pariaman mengenang hari ini dengan upacara agung yang disebut dengan Tabuik.

Khusus di Irak, Asyura dipusatkan di Karbala, tempat peristiwa pembantaian itu berlangsung sekaligus menjadi pusara Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keluarga serta sahabatnya yang ikut gugur dalam peristiwa itu. Jutaan orang dari seluruh Irak dan mancanegara berkumpul di sekitar makam untuk berziarah, mendengar pembacaan narasi peristiwa pembantaian yang dikenal dengan maqtal, hikmah Asyura, melakukan berbagai ritus  shalat dan doa serta mengadakan beragam acara budaya.

 

 

YS/islamindonesia

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *