Satu Islam Untuk Semua

Monday, 09 November 2015

KOLOM PH – Senyawa Ilahiah Rabindranath


IMG_1961

Pengantar: Redaksi Islam Indonesia dapat kehormatan dengan kesediaan Parni Hadi — wartawan senior, eks Pimpinan Antara, dan sebelumnya sebagai Pemimpin Redaksi Republika — menulis kolom secara teratur. Tulisan berikut, seputar keindahan seni dan  perjuangan pujangga India, Rabindranath Tagore, adalah karya pertamanya untuk sidang pembaca Islam Indonesia.

* * *

Oleh Parni Hadi

Apakah itu seni? “It is the response of man’s creative soul to the call of the Real. In art, man reveals himself and not his objects”, begitu kata Rabindranath Tagore, pujangga besar India dan penerima Hadiah Nobel bidang sastra pertama dari Asia pada tahun 1913.

Menurut Tagore (1861-1941), pengarang buku Gitanjali (Persembahan Nyanyian) yang terkenal itu, seni adalah jawaban jiwa kreatif manusia kepada panggilan Tuhan (perhatikan R dengan huruf besar dalam Real) dan dalam seni manusia menampilkan dirinya sendiri dan bukan obyeknya.

Itu dibuktikan Tagore dalam puisi-puisinya yang indah, sekaligus Ilahiah seperti dalam petikan bait berikut: “Light, my light, the world-filling light, the eye-kissing light, heart-sweetening light” (Cahaya, cahayaku, cahaya yang mengisi dunia, cahaya yang mengecup mata, cahaya yang mempermanis hati). 

Indah bukan? Mari kita, lanjutkan, yang berikut ini:

Life of my life, I shall ever try to keep my body pure, knowing that thy living touch is upon my limbs” (Hidup dari hidupku, aku akan selalu berusaha tubuhku suci, karena mengetahui sentuhan hidup Mu adalah atas sekujur anggota tubuhku).

Dalam kedua bait itu, Tagore menunjukkan kedekatannya yang tak berjarak dengan Tuhan, Sang Maha Pencipta. Karya-karyanya yang indah dan segar dengan kesadaran yang mendalam akan kehadiran Tuhan, membuatnya dipuja banyak orang di Eropa. Raja Inggris menganugerahinya gelar “Sir”.

Namun, sang pujangga yang juga pembuat naskah sandiwara dan pendidik ini, tak segan-segan menunjukkan jiwa patriotnya dengan mengembalikan gelar kehormatan itu sebagai protes atas keganasan tentara Inggris dalam peristiwa yang terkenal dengan sebutan “Amritsar affair”.

Sikap itu sesuai dengan bunyi bait puisinya tentang kemerdekaan yang diakhiri dengan kata-kata berikut ini: “Where the mind is led by thee into ever-widening thought and action….Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake” (Ke mana jiwa Engkau bimbing ke dalam pikiran dan tindakan yang semakin meluas…ke dalam surga kebebasan seperti itu, Bapa ku, biarlah negaraku bangkit). Semuanya didasarkan kepada petunjuk Tuhan. Memang, Tagore seorang penyair spiritual.

Dekat dengan Taman Siswa

Rabindranath Tagore, yang mendapat julukan “gurudev” (guru dewa) ini, tahun 1927 mengunjungi perguruan Taman Siswa di Yogyakarta, yang didirikan Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional Indonesia. Rupanya terdapat kecocokan dalam prinsip-prinsip pendidikan antara Tagore dengan Ki Hajar, yang memperkenalkan “sistem among” dengan mengutamakan bimbingan kepada sang anak untuk mewujudkan kodratnya sendiri.

Sejak kunjungannya itu banyak guru Taman Siswa yang berkunjung dan belajar ke perguruan Shantiniketan, yang didirikan Tagore, demikian pula sebaliknya. Para siswa Shantiniketan mendapat kesempatan luas untuk mencintai dan menikmati keindahan alam dan karya sastra. 

Tagore, yang juga ahli filsafat ini, mencintai anak-anak seperti dalam puisinya yang berjudul “Playthings” (Alat-alat permainan). Ia merasa iri dengan kebahagiaan seorang anak yang sedang duduk di atas debu, bermain dengan sebuah ranting pohon yang patah sepanjang pagi.    

Sebagai seorang paedagog kaliber dunia pada waktu itu, Tagore melontarkan kritik bahwa sistem pendidikan dan pengajaran yang dianut di dunia barat dan dunia timur kehilangan kaitannya dengan kebudayaannya sendiri.

“Kita mengajarkan bahasa kepada anak-anak, tetapi menjauhkan mereka dari keindahan kesusasteraan”, demikian antara lain kritik Tagore yang didukung Ki Hajar. Kedekatan dengan alam, keindahan, anak-anak, cinta dan Tuhan menjelujuri karya-karya Tagore. Ia seorang yang suka berkontemplasi dan bermeditasi. Berikut ini satu contoh karyanya tentang itu:

“Mereka yang dekat denganku tidak tahu bahwa Engkau lebih dekat kepadaku daripada mereka. Mereka yang berbicara denganku tidak tahu bahwa hatiku penuh dengan kata-kata Mu yang tak terucapkan. Mereka yang berjejalan di jalanku tidak tahu bahwa aku sedang berjalan sendirian dengan Engkau. Mereka yang mencintaiku membawa Mu masuk ke dalam hatiku”.

Ketika bangsa ini sedang sibuk bicara tentang pendidikan budi pekerti, mencari jati diri dan revolusi mental, mengapa kita tidak menengok karya-karya Rabindranath Tagore, di samping menggali khasanah kearifan lokal bangsa sendiri?  

Parni Hadi untuk IslamIndonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *