Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 05 December 2015

KOLOM PH – Priyayi: Etos Merujuk Alquran


parni hadi

Oleh Parni Hadi

Priyayi adalah salah satu unsur trikotomi ciptaan Clifford Geertz dalam “The Religion of Java’, setelah santri dan abangan. Priyayi adalah keturunan aristokrat (kaum ningrat), pegawai negeri dan birokrat.

Tradisi keberagamaan priyayi, menurut Geertz, ditandai  oleh kehadiran unsur-unsur Hindu dan Budha yang berperan penting dalam membentuk pandangan dunia, etika serta tindakan sosial pegawai kerah putih, termasuk yang berpendidikan Barat sekalipun. Meski jumlahnya lebih kecil, priyayi memanfaatkan kepemimpinan ideologis dan kultural mereka terhadap seluruh masyarakat.

Nilai-nilai utama dari etos priyayi ditengarai Geertz sebagai nrima (menerima takdir dengan kebesaran jiwa), sabar (sikap tidak terburu-buru, hilangnya ketidaksabaran, tidak keras kepala) dan ikhlas (ketidakterikatan pada kepentingan duniawi yang fana).

Konsep santri, abangan, priyayi  sering digunakan para pengkaji sejarah, politik dan masyarakat Jawa, namun ia tidak bebas dari kritik. Kesimpulan Geertz bahwa keberagamaan priyayi dipengaruhi oleh unsur-unsur Hindu dan Buddha, hampir sama dengan abangan,  dikritik Mitsuo Nakamura, antropolog dari Jepang.

Nakamura berpendapat konsep sabar, ikhlas dan slamet (selamat) yang diperkenalkan sebagai  nilai utama pandangan masyarakat tradisional Jawa, sebenarnya bersumber dari ajaran Islam. Istilah-istilah itu berasal dari bahasa Arab. Dan, pemakaian istilah-istilah itu dalam bahasa Jawa kontemporer dinilainya sangat serasi dengan pengertian religiousnya yang asli.

Ia merujuk istilah sabar, sebagai contohnya, berasal dari bahasa Arab, shabr. Dalam Alquran shabr bermakna sabar (QS. 23: 111, 28: 54, 38: 17) dan tawakal (QS. 12:18). Ikhlas dalam bahasa Arab berarti  berbakti kepada Tuhan (QS. 2:139, 4:146, 10:23). Dan, Alquran surah ke-112 dinamai ‘Al Ikhlas’.

“Surat pendek ini (Al Ikhlas), sangat populer di tengah masyarakat Muslim karena keindahan dan kekuatannya, serta sering dibaca dalam shalat,” kata Nakamura, yang meneliti Islam Indonesia.

Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo, pengarang “Memahami Islam Jawa”, mengritik trikotomi itu sebagai oversimplikasi atau kesalahan konseptual. Sebagai orang Jawa tulen, ia mengaku selalu gelisah ketika membaca tulisan-tulisan sarjana Barat yang menggunakan pendekatan santri, abangan dan priyayi di satu pihak, dan di pihak lain oleh perjumpaannya sejak kecil dengan budaya keagamaan masyarakat Jawa.

Bambang Pranowo lahir di Magelang, 27 Agustus  1947. Ayahnya seorang pegawai negeri di Departemen Sosial. Jadi, ayahnya termasuk priyayi, yang dihargai para tetangga sebagai priyayi sampai masuk pensiun 1978.

Sejak lahir Bambang dididik dalam lingkungan Jawa pedesaan, di mana agama sangat mewarnai kehidupan keluarganya. Ayahnya selalu menyuruh Bambang dan saudara-saudaranya untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari-semalam serta perintah-perintah  agama Islam lainnya.

Pada tahun 1977, ayahnya menunaikan ibadah haji. Jadi, ia termasuk santri. Namun, ayahnya  sangat menyukai kesenian Jawa, khususnya wayang dan kethoprak. Ia suka menyanyikan tembang Jawa, seperti Sinom, Pangkur dan Dandanggulo.

Ayahnya menembang sebelum anak-anaknya tidur, suaranya memecah kesunyian malam. Secara kultural, mengacu pada trikotomi Geertz, ayahnya masuk kelompok non santri. Sementara dari sudut politik, ayahnya masuk kategori abangan, karena ia pimpinan PNI (Partai Nasionalis Indonesia) tingkat kecamatan.

Bambang bingung, mau dimasukkan kategori mana ayahnya? Ayahnya adalah satu dari sekian banyak orang Jawa yang kehidupan beragama mereka tidak mudah dipahami dengan pendekatan santri-abangan. Salah satu teman dekat ayahnya, mantan aktivis PNI Magelang, adalah seorang kyai. Ternyata, apa yang ditulis sarjana barat sekaliber Clifford Geertz pun tidak selalu benar!

Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *