Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 01 June 2021

Kolom Muzal Kadim: Humor dalam Islam


islamindonesia.id – Kolom Muzal Kadim: Humor dalam Islam

Humor dalam Islam

Oleh Muzal Kadim | Staf Pengajar di FKUI dan Anggota IDI

Humor itu dibutuhkan dalam hidup, dan sama sekali tidak bertentangan dengan kodrat manusia maupun ajaran semua agama. Humor membuat kita bisa menjalani dan menikmati hidup dengan santai.

Secara psikologis, humor merupakan obat yang menyehatkan jiwa. Humor dapat membuat jiwa lebih kuat dan tahan menghadapi berbagai tekanan hidup. Humor juga dapat mengikis kesombongan dan membuat kita lebih rendah hati dengan mentertawakan diri sendiri.

Paling tidak ada dua buku yang khusus membahas tentang humor dalam Islam yaitu Humor in Early Islam dan Laughter in Islam.

Pada masa Nabi, tertawa adalah sesuatu yang biasa. Humor adalah bagian dari kehidupan sehari-hari Nabi. Bahkan banyak hadis yang menggambarkan bahwa Nabi sering tertawa sampai terlihat rahangnya, beliau tertawa lepas tapi tidak berlebihan.

Humor merupakan aspek manusiawi dari Nabi Muhammad saw, yang tidak lepas dari aspek spiritual beliau. Beliau sering bercanda dengan sepupunya, Ali bin Abi Thalib, tentu dengan candaan yang wajar, bukan candaan yang mengolok-olok, apalagi menghina.

Dalam suatu kisah ketika para sahabat sedang duduk sambil makan kurma bersama Nabi. Ali duduk di sebelah Nabi, sambil meletakkan biji kurma di depannya.

Nabi lalu menggeser biji kurma miliknya dan dikumpulkan di hadapan Ali sambil berkata, “Apakah ada yang tahu siapa orang paling rakus di ruangan ini?”

Para sahabat heran dan bertanya, “Siapa dia wahai Rasulullah?”

Sambil tersenyum Rasulullah menjawab, “Lihatlah jumlah biji kurma yang ada di hadapannya.” Para sahabat  tertawa karena melihat yang paling banyak biji kurmanya adalah Ali, karena digabung dengan milik Rasulullah.

Tetapi Ali tidak mau kalah dan berkata sambil tersenyum, “Sebenarnya ada yang lebih rakus dariku. Karena makan kurma beserta bijinya sehingga tidak tersisa bijinya sama sekali.” Maksudnya adalah Rasulullah.

Dalam setiap abad selalu ditemukan tokoh humor yang jenaka, misalnya pada masa Harun ar-Rasyid di Baghdad dengan Abu Nawasnya; di Turki dengan kisah Nasruddin; dan di Indonesia juga ada tokoh punakawan dalam pewayangan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong), mereka adalah tokoh ciptaan Wali Songo.

Tokoh-tokoh tersebut bukan saja menciptakan suasana humor, tetapi juga memberikan pelajaran hidup yang sangat mendalam. Bahkan Abu Nawas dan Nasruddin sejatinya adalah tokoh sufi yang sudah tercerahkan.

Demikian juga tokoh punakawan, meskipun memiliki bentuk yang lucu, aneh, dan dengan watak dan perilaku yang unik, namun para tokoh ciptaan Wali Songo tersebut dalam setiap tuturnya memiliki falsafah yang amat dalam.

Umat di masa Nabi, dengan mengikuti teladan Nabi, adalah umat yang berwajah cerah, penuh senyum, tawa, dan cinta. Pada masa Nabi, sebagian besar orang memeluk Islam karena melihat keteladanan Nabi Muhammad saw sebagai uswatun hasanah. Kisah Nabi penuh dengan cinta kasih.

Lalu mengapa sekarang orang-orang yang seolah-olah semakin tampak Islami justru semakin kaku, keras hati, tegang, sensitif, dan yang tadinya humoris menjadi serius dan tidak banyak tertawa?

Padahal Islam adalah agama yang mudah, agama yang fitrah. Islam hanya mengaktifkan cinta kasih yang sudah ada dalam diri manusia.

Di seluruh dunia, mungkin umat Islam Indonesia adalah contoh umat yang paling bisa meniru teladan Nabi dari sisi humor. Tidak ada cerita yang paling kaya mengenai humor selain umat Islam di Indonesia.

Itulah sebabnya, meskipun terjadi masalah sebesar apapun di negara kita, kita selalu  bisa menghadapinya dengan santai dan penuh humor. Wallahualam bissawab.[]

PH/IslamIndonesia/Foto ilustrasi: Hijabi Life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *