Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 08 August 2017

KOLOM – Mad-Soc, Semacam Sorga


cak-nun-masuk-surga-itu-gak-penting

islamindonesia.id – KOLOM – Mad-Soc, Semacam Sorga

 

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Barangsiapa mau menjadi penduduk Negeri Mad-Soc, atau Mad Society, akan mendapatkan kemerdekaan yang semerdeka-merdekanya. Bebas dalam arti sebenar-benarnya bebas. Jargon Freedom of Spech, Freedom of Expression, sungguh-sungguh nyata dan mewujud. Setiap orang punya peluang untuk menjadi dirinya atau mengaku bukan dirinya. Setiap orang boleh mengungkapkan isi hati apa adanya. Setiap orang punya wadah untuk mengekpresikan pikirannya tanpa filter, tanpa sensor, tanpa harus dikontrol oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

Di Mad Society tidak ada aturan, etika atau sistem kontrol bagi setiap orang untuk memanifestasikan isi perasaan dan muatan pikirannya. Ibarat media, setiap orang bisa menerbitkan korannya sendiri-sendiri, bisa menayangkan siaran tevenya sendiri-sendiri. Tidak harus berpikir untuk mempertimbangkan, menakar, menghitung resonansinya, atau mensimulasi akibat-akibatnya.

Mad Society adalah sorga. Setiap warganya punya peluang penuh untuk jujur atau curang. Untuk objektif atau subjektif. Untuk apa adanya atau menambahi. Silahkan mengutip ungkapan orang lain dengan mengurangi, mengubah, memotong-motong, memanipulasi dan mengeksploitasi, sesuai dengan visi misi Sampeyan. Ibarat pedagang sop buntut, kalau ada sapi lewat, silahkan potong buntutnya, untuk dimasak menjadi Sop Buntut sesuai dengan selera dan kepentingan masing-masing.

Pengurangan, penambahan, manipulasi dan eksploitasi itu silahkan dilakukan untuk berdagang tayangan, postingan, dan edaran. Atau untuk menghantam lawan politik. Untuk mengutuk siapapun yang Sampeyan benci. Mem-bully siapapun yang Sampeyan dengki. Alhasil Mad Society membuka pintu selebar-lebarnya bagi kepentingan ekspresi, kreativitas, pelecehan, penghinaan Sampeyan kepada siapapun.

Misalnya kutip ayat Al-Qur`an, untuk teks tulisan atau meme, ditambahi dengan pencantuman identitas kelompok yang Sampeyan musuhi, dikurangi kata dan kalimat yang kurang mendukung kepentingan Sampeyan, atau apapun saja Sampeyan merdeka:

Juluran Lidah Anjing
Oleh: Allah swt.

Sesungguhnya Kami tinggikan derajat kaum radikalis dan intoleran, tetapi mereka cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah”. 

Sembilan Naga
Oleh: Tuhan Yang Maha Esa

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki, Sembilan konglomerat, yang membuat kerusakan di muka bumi, yang membangun Meikarta dan reklamasi di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Sungguh mereka tidak berbuat kebaikan di bumi.

Pekak dan Tuli
Oleh: Rahman Rahim

Sesungguhnya Presiden yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah Presiden yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Sesungguhnya Presiden jenis itu, sama saja baginya, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, dia tidak juga akan percaya. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengarannya. Penglihatannya ditutup. Dan baginya siksa yang amat berat.

Penyakit Indonesia
Oleh: Gusti Allah

Dalam hati bangsa Indonesia ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang menyelenggarakan pembangunan, terutama infrastruktur”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Ulama Keledai
Oleh: Ilahi Rabbi

Perumpamaan kaum Ulama dan Intelektual adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal di punggung mereka. Amatlah buruknya perumpamaan kaum berilmu namun tiada manfaat bagi masyarakatnya. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dhalim. Setiap mereka bersuara, melontarkan pernyataan dan menyebarkan fatwa, itu adalah suara keledai. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Pejabat Munafik
Oleh: Muhammad saw.

“Ciri-ciri Pemerintah dan pejabat-pejabat di Indonesia ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat”

Budaya Mad Society adalah wahana yang paling cemerlang untuk mengenali siapa dan bagaimana makhluk manusia yang sebenarnya. Adalah arena penelitian yang subur fakta tentang hakikat isi batin manusia. Adalah medan riset yang memuat segala yang terbaik dan yang terburuk pada jiwa manusia.

Kalau Sampeyan ingin tahu betapa mulianya manusia, dan betapa kejinya manusia, masuklah ke wilayah Mad Society. Kalau Sampeyan berniat mendalami betapa suci dan kudusnya lubuk kalbu manusia, atau betapa kejam, lalim dan busuknya hati manusia, bergabunglah ke Mad Society.

Kalau Sampeyan bertugas untuk mendata tentang betapa sembrononya cara manusia memikirkan sesuatu, memandang dan menilai sesuatu. Betapa pendeknya sumbu akal manusia, betapa parsial dan sempit pita persepsi di struktur pikiran manusia. Betapa nafsu dan kepentingan pragmatis keduniawian manusia sangat mudah mengalahkan akal sehat dan pikiran jernihnya. Betapa gagah beraninya manusia mendustai dirinya sendiri, mengakali rakyatnya, membohongi Tuhan dan Nabinya. Betapa curang analisisnya, betapa ngawur dan serampangan persepsinya. Betapa culas dan serakah nafsu, amarah, dan kebenciannya.

Tapi juga kalau Sampeyan ingin menyelami kebijaksanaan hidup, mengarungi kemuliaan jiwa, menatap dari jauh ufuk kesucian ahsanu taqwim, mencerdasi yang tersirat di balik yang tersurat, membuntuti “min haitsu la yahtasib”, mengagumi “wama romaita idza romaita walakinnallaha roma”, mengeksperimentasikan karma, “ngunduh wohing pakarti” serta “man ya’mal mitsqola draarotin khoiron wa syarron yaroh” – saya ucapkan selamat datang di Zona Mad Society.

Bahkan Sampeyan boleh memanipulasi kata, kalimat, dan konteks tulisan ini untuk menghancurkan saya atau melempar batu panas ke jidat musuh Anda.[]

 

YS/ Islam Indonesia/ diterbitkan atas izin penulisnya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *